Topik kesuksesan, apa definisi kesuksesan, bagaimana meraihnya, dan kriteria orang yang sukses sering dibicarakan di berbagai forum. Di sana ada forum yang membicarakan perihal kesuksesan di bidang perdagangan, olahraga, ekonomi, atau bahkan membicarakan bagaimana cara meraih kemenangan dalam berbagai interaksi yang diharamkan seperti perjudian.

Demikianlah, apa yang sering kita bicarakan terkait kesuksesan dan sebab-sebab yang mendatangkan kesuksesan. Tapi, terkadang luput dalam benak kita tentang kesuksesan besar ketika kelak berjumpa dengan Allah, Rabb semesta alam, yaitu kesuksesan memperoleh ridha Allah, selamat dari siksa-Nya dan sukses masuk ke dalam surga-Nya. Hal ini lupa terpikirkan oleh kita dikarenakan betapa jauhnya kita tenggelam dalam hiruk-pikuk kenikmatan, kelezatan dan syahwat dunia. Padahal seperti yang difirmankan Allah, di dunia, kehidupannya berupa senda gurau dan permainan. Kehidupan yang kekal, ada di sana, di kampung akhirat.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” [al-Ankabut: 64].

Kewajiban kita, sebagai muslim dan muslimah, adalah senantiasa mengingat-ingat makna kesuksesan yang agung ketika kelak berjumpa dengan Allah.

 

Hakikat Kesuksesan

Mari sejenak kita merenungkan dan memikirkan apa hakikat kesuksesan dan keberuntungan yang besar itu. Allah ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imran: 185].

Inilah kedudukan orang-orang yang sukses, di mana mereka berharap dan memohon kepada Allah agar berkenan memberikan kesuksesan yang besar, karena kesuksesan bisa diartikan selamat dari apa yang dikhawatirkan dan memperoleh apa yang diinginkan. Kedua hal ini terkumpul pada diri orang beriman, penduduk surga, yang diselamatkan Allah ta’ala dari siksa api neraka dan dianugerahi karunia masuk ke dalam surga. Inilah kesuksesan yang sebenarnya. Adakah sesuatu yang lebih dikhawatirkan selain siksa api neraka? Adakah sesuatu yang lebih dicita-citakan selain masuk ke dalam surga Allah?

Oleh karena itu kita wajib menyadari dan mengingat bahwa kita sedang berjalan menuju kampung akhirat, di mana kita akan mengalami fase-fase akhirat yang teramat berat. Salah satunya, kelak kita akan digiring untuk melihat neraka dengan mata kepala kita sendiri dan diuji dengan melewati ash-Shirath, jembatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam.  Sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ثُمَّ يُضْرَبُ الْجِسْرُ عَلَى جَهَنَّمَ وَتَحِلُّ الشَّفَاعَةُ وَيَقُولُونَ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجِسْرُ؟ قَالَ: ((دَحْضٌ مَزِلَّةٌ. فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلاَلِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ فَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُونَ كَطَرْفِ الْعَيْنِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَالطَّيْرِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَمَخْدُوشٌ مُرْسَلٌ وَمَكْدُوسٌ فِى نَارِ جَهَنَّم

“Lalu dibentangkanlah jembatan di atas Jahannam, dan syafa’at pun dimintakan. Para Rasul saat itu berkata, ‘Ya Allah, selamatkanlah… selamatkanlah!’ Para sahabat bertanya, ‘Jembatan apakah itu wahai Rasulullah?’ Jawab beliau, ‘Jembatan yang datar lagi menggelincirkan. Padanya terdapat gancu-gancu dan duri mirip semak berduri yang ada di daerah Nejed, yang dikenal dengan pohon Sa’dan.’ Lantas kaum mukminin akan melewatinya ada yang secepat kedipan mata, secepat kilat, angin kencang, burung yang terbang cepat, atau kuda dan unta yang berlari kencang. Ada diantara mereka yang melaluinya yang selamat tanpa luka, namun ada pula yang selamat namun babak-belur, dan ada pula yang terjungkal ke dalam Jahannam.’ [Shahih. HR. Muslim].

 

Mari kita mencoba merenungkan, membayangkan, diri kita berada di fase ini, dan itu pasti akan terjadi, kondisi manusia pada saat itu terbagi tiga sebagaimana yang diterangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bayangkanlah bagaimana kondisi manusia ketika melewati ash-Shirath yang dibentangkan di tepi jahannam. Bayangkan kondisi anda kelak ketika anda berada di atasnya, sementara sifat dari ash-Shirath seperti yang dijelaskan dalam hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu lebih tipis dari rambut. Anda posisikan kedua kaki di atasnya sementara anda berada di tengah hiruk-pikuk manusia yang juga berusaha melewatinya. Di hadapan anda, ada yang selamat tanpa terluka, ada yang selamat namun dipenuhi luka, dan ada yang terjerumus ke dalam neraka. Mereka yang berhasil melewatinya pun memiliki kondisi yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang melewati ash-Shirath secepat kedipan mata, kilat, angin, dan secepat derap langkah kuda. Semuanya sesuai dengan kadar ketaatan mereka kepada Allah di kehidupan dunia. Bayangkanlah kondisi anda ketika berada dalam kerumunan tersebut.

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ، ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” [Maryam: 71-72].

Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang diselamatkan Allah dan memperoleh keberuntungan, ataukah sebaliknya?!

 

Bagaimana meraih kesuksesan itu?

Jika kita bertanya, apa saja kriteria yang dimiliki oleh mereka yang sukses itu? Apa amalan mereka sehingga memperoleh kesuksesan dan keberuntungan itu? Maka kita menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut terdapat dalam al-Quran al-Karim, ditemukan dalam sebuah ayat yang menghimpun segala sebab yang akan mendatangkan kesuksesan dan keberuntungan. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang sukses.” [an-Nuur: 52].

 

Ada empat sifat yang disampaikan Allah ta’ala dalam ayat di atas, jika terkumpul pada diri seseorang, niscaya dia menjadi orang yang sukses. Sifat-sifat tersebut adalah:

  1. Menaati Allah ta’ala
  2. Menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  3. Takut kepada-Nya dan
  4. Bertakwa kepada-Nya dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa.

Mereka yang memiliki keempat sifat ini, merekalah orang yang sukses.

Renungkanlah kondisi orang-orang beriman, mereka yang sukses masuk ke dalam surga. Apa yang akan mereka peroleh setelah berhasil melewati ash-Shirat dan terbebas dari siksa api neraka? Apa yang disediakan Allah kepada mereka yang beruntung? Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا . حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا . وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا . وَكَأْسًا دِهَاقًا . لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلا كِذَّابًا . جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis montok yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di sana mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia maupun perkataan dusta. Sebagai pembalasan dan pemberian yang cukup banyak dari Rabb-mu.” [an-Naba: 31-36].

 

Betapa agung kondisi dan betapa baik tempat kembali mereka. Allah telah menyelamatkan mereka dari neraka, sehingga mampu melewati ash-Shirath dan dan masuk ke dalam surga. Tidak cukup dengan itu, Dia memberikan berbagai kenikmatan yang abadi. Renungkanlah kondisi saat itu, di mana para penduduk surga masuk ke dalamnya melalui pintu-pintu surga, sukses mendapatkan keberuntungan dan ghanimah yang besar.

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak.” [al-Hadid: 12].

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” [al-Buruj: 11].

 

Adakah keberuntungan yang dicari selain ini?! Karena keberuntungan ini merupakan puncak cita-cita dan keinginan, di mana orang yang meraihnya memperoleh ridha Rabb semesta alam, mereka bergembira dengan kedekatan kepada-Nya dan lezatnya bermunajat, dan menikmati memandang Wajah-Nya yang mulia, yang merupakan kenikmatan yang besar dan kelezatan yang sempurna.

 

Renungkan kondisi dan tempat kembali kita kelak di momen tersebut. Pikirkanlah dan jangan tersibukkan dengan berbagai kenyamanan duniawi sehingga lalai dari kesuksesan yang nyata ini.

 

Kewajiban kita sebagai orang beriman adalah senantiasa mengingat di setiap hari dan malam yang dilalui akan momen yang agung ini, berusaha melakukan sebab-sebab yang dengannya bisa membebaskan murka dan siksa Allah, memperoleh kesuksesan dengan meraih surga dan kenikmatannya. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  .لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

“Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan yang serupa inilah hendaklah orang-orang yang berusaha mengupayakannya.” [ash-Shaffat: 60-61].

 

Asy-Syaikh as-Sa’diy rahimahullah mengatakan,

فهو أحقُّ ما أُنفقت فيه نفائسُ الأنفاس، وأولى ما شمَّر إليه العارفون الأكياس، والحسرة كل الحسرة، أن يمضي على الحازم وقتٌ من أوقاته، وهو غير مشتغلٌ بالعمل، الذي يقرِّب لهذه الدّار، فكيف إذا كان يسير بخطاياه إلى دار البوار؟!

“Maka tentu segala upaya lebih utama difokuskan demi memperoleh kemenangan tersebut, lebih layak untuk dipersiapkan oleh orang yang cerdik lagi pandai. Dan kerugian di atas kerugian, apabila waktu berlalu pada diri seorang yang bijak tanpa dirinya sibuk melakukan amal shalih yang dapat mendekatkan dirinya ke kampung surga. Maka tentulah lebih besar kerugian yang diderita oleh mereka yang berjalan dengan membawa dosa kemaksiatan ke negeri kebinasaan (neraka)?!”

 

وأسأل الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى أن يجعلنا أجمعين من الفائزين حقّاً النّاجين صدقاً وأن يوفّقنا لطاعته ولنيل رضاه وأن يهدينا إليه صراطاً مستقيماً إنَّ ربي لسميع الدُّعاء وهو أهلُ الرّجاء وهو حسبنا ونعيم الوكيل

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s