Yahya bin Mu’adz rahimahullah mengatakan,

مصيبتان للمرء في ماله عند موته لم يسمع الأولون والآخرون بمثلهما

“Ada dua musibah yang menimpa harta manusia ketika wafat, yang belum pernah diketahui orang sebelumnya “

Seseorang bertanya, “Apa kedua musibah tersebut?”

Beliau menjawab,

يؤخذ منه كله ، ويُسأل عنه كله

“Seluruh hartanya diwariskan, sedangkan pertanggungjawaban harta itu sepenuhnya dibebankan pada dirinya.”

Sumber: App Kalem Tayeb.

Catatan:

Hakikatnya harta yang benar-benar dimiliki oleh manusia adalah apa yang telah digunakan di jalan Allah seperti yang disampaikan Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ. قَالَ: فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

“Siapa di antara kalian yang harta ahli warisnya lebih dicintai dari hartanya sendiri?”

Sahabat menjawab: “Wahai Rasulullah, tidak ada dari kami melainkan pasti lebih mencintai hartanya sendiri.”

Rasulullah pun berkata , “Sesungguhnya harta manusia adalah apa yang telah digunakan di jalan Allah, sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ditinggalkannya.” [HR. al-Bukhari].

Dalam hadits di atas Rasulullah ingin memotivasi agar menyumbangkan harta seberapa pun besarnya di jalan-jalan ketaatan sehingga bisa mendatangkan manfaat di akhirat.

Rasulullah pun bertanya pada para sahabat, siapakah di antara mereka yang lebih menyukai harta ahli warisnya ketimbang hartanya sendiri. Pertanyaan beliau ini dijawab sahabat bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang seperti itu karena manusia pada umumnya jelas lebih mencintai hartanya sendiri.

Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa harta yang benar-benar bisa dikatakan sebagai milik seseorang, ketika masih hidup atau telah wafat, dan yang sepatutnya dicintai adalah harta yang dibelanjakan untuk kebaikan dan yang disedekahkan di jalan Allah. Harta inilah yang memberikan kemanfaatan yang kekal bagi pemiliknya. Adapun harta yang disimpan dan belum dapat dinikmati semasa hidup, hakikatnya adalah harta yang kelak dimiliki ahli waris.

Seolah-olah beliau shallallahu alaihi wa sallam ingin mengatakan, “Jika kalian lebih mencintai harta pribadi daripada harta ahli waris, hendaklah kalian menggunakannya di jalan Allah. Tapi jika sebaliknya, silakan kalian timbun sesuka hati.”

Semoga bermanfaat.

Muhibbukum lil khair.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s