*Mudah Belajar Fikih*

*Kitab Thaharah*

*Bab Pertama: Hukum-hukum yang berkaitan dengan thaharah dan air*

*Pembahasan ketiga: Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci*

📝 Apabila air bercampur dengan bahan yang suci seperti dedaunan, sabun, soda cuci, sidr atau bahan suci yang lain, menurut pendapat yang tepat air tersebut masih bisa digunakan untuk bersuci dari hadats dan najis dan *selama bahan itu tidak mendominasi larutan* sehingga larutan masih dapat dinamakan air.

Allah ta’ala berfirman,

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

“Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” [QS. an-Nisa : 43].

Kata “الماء” yang berarti air dalam ayat di atas berbentuk nakirah (indefinitif) dalam konteks penafian sehingga mencakup seluruh air[1]. Dengan begitu selama masih dapat dinamakan air, tidak ada perbedaan antara air yang murni dengan air yang bercampur bahan lain.

Demikian pula terdapat dalil dalam sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, di mana beliau berpesan kepada para wanita yang mengurus jenazah putri beliau,

اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ

“Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis.” [Shahih. HR. al-Bukhari].

Hadits di atas menunjukkan meski air telah dicampur dengan bahan lain yang suci, masih dapat digunakan bersuci selama masih dapat dinamakan air[2].

Catatan:
[1] Terdapat kaidah “النكرة في سياق النفي تفيد العموم”, isim nakirah yang terdapat dalam redaksi penafian memberikan makna yang umum.

[2] Dari keterangan di atas dapat disimpulkan apabila bahan yang bercampur dengan air mendominasi larutan sehingga larutan tidak bisa lagi dinamakan air, maka larutan tersebut tidak lagi dinamakan air. Contoh: teh, kopi, jus dan yang semisal.

-Disampaikan di Musholla Nurul Mukhlishin, Perum Suradita, Cisauk, Serpong-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s