*Pertanyaan*

Semoga Allah memberikan kebaikan dan keberkahan padamu Syaikh. Ayahku telah wafat karena sakit, dan sejak saat sakit beliau tidak lagi melaksanakan shalat. Apakah aku diperkenankan berhaji untuk beliau?

*Jawaban*

📝 Kami selalu mengingatkan setiap ikhwah, apabila menyebut ayah dan ibu Anda yang telah wafat agar mengucapkan rahimahullah (atau rahimahallah bagi ibu). Semangatlah dalam mempraktikkannya, karena do’a dan kebaikan teriring kepada mereka setiap kali Anda mengingat dan menyebut namanya, sehingga Anda memberi manfaat kepada mereka dengan do’amu itu.

📝 Saudara yang bertanya menyampaikan bahwa ayahanda beliau rahimahullah telah meninggalkan shalat ketika mengalami sakit yang menyebabkan beliau wafat. Wallahu a’lam dalam hal ini, meski saya berpendapat bahwa seorang yang meninggalkan shalat statusnya kafir, saya berpandangan bahwa alasan mereka yang meninggalkan shalat ketika mengalami sakit adalah karena takwil atau ketidaktahuan, mereka menganggap bahwa ketika sakit mereka tidak layak untuk melaksanakan shalat.

Beberapa orang yang sakit mengatakan, “Bagaimana saya bisa shalat sementara diri saya berlumuran dengan najis?” Boleh jadi anaknya telah memberitahukan meski dalam kondisi tersebut dia tetap harus mengerjakan shalat, namun dia tetap bersikukuh dengan pendapatnya itu.

*Wallahu a’lam untuk kondisi semisal ini, saya berpandangan bahwa orang tersebut tidaklah dihukumi kafir. Inilah pendapatku terkait hukum asal atas orang yang meninggalkan shalat dikarenakan sakit yang menyebabkan dia wafat atau sakitnya yang terakhir.*

📝 *Atas dasar itu, saya mengatakan bahwa hukum asal atas kondisi semisal yang terdapat dalam  pertanyaan yang diajukan tadi adalah boleh dan tidak mengapa menghajikan orang tua beliau. Kecuali jika kita mengetahui bahwa beliau memang meninggalkan shalat karena sengaja bukan karena takwil bahwa dirinya tidak pantas shalat jika dalam kondisi sakit yang berlumuran najis.* Dia beranggapan jika nanti sembuh, barulah dia akan melaksanakan shalat. Orang yang seperti ini mutaawwil. Tanda mutaawwil adalah dia mengatakan, “Saat ini saya tidaklah shalat karena tidak memungkinkan.” Orang ini sungguh kasihan karena terdorong rasa ta’zhimnya kepada Allah dia pun keliru.

📝 *Namun, jika kita mengetahui bahwa dia meninggalkan shalat dengan sengaja, di mana dia mengatakan, “Tidak, saya tidak mau melaksanakan shalat. Titik!” Dan dia meninggalkan shalat dalam kondisi akal masih ada, maka dia bukanlah mutaawwil. Hukum orang ini seperti pendapat yang dipilih kami bahwa dia kafir, keluar dari agama Islam sehingga tidak boleh dimintakan ampunan dan juga tidak boleh dihajikan.*

📝 Akan tetapi, apa hukum asal bagi orang yang meninggalkan shalat ketika sakit?

✒ *Jawabannya, hukum asal orang tersebut adalah dia mutaawwil, terutama jika orang tersebut memang melaksanakan shalat sebelum sakit. Dia meninggalkan shalat karena takwil, beranggapan bahwa dia tidak pantas melakukan shalat dalam kondisi tersebut. Orang ini mukhthi (keliru) dan tidak kafir dalam pandangan saya*.

*Dr. Sulaiman ar-Ruhailiy dalam Syarh Kitab at-Tauhid via Grup Whatsapp Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhailiy*

– *Silakan dishare kepada yang lain* –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s