Krisis kita banyak sekali, yang terparah adalah solusi krisis itu dekat sekali, tapi tak bisa kita raih, bak tikus mati kelaparan di lumbung penuh gabah.

Saudaraku di jalan Allah, multazim adalah orang yang beriltizam, orang yang telah insaf dan bertobat dari masa lalunya yang gelap, lalu bertekad untuk menjalankan Islam secara murni dan konsekuen.

Sebagai contoh, Islam menuntut kaum muslimah untuk memakai jilbab. Maka, para akhwat yang beriltizam pun memakai jilbab. Kita berhuznuzhan bahwa mereka memakai jilbab semata-mata karena Allah. Tapi, katakanlah dengan jujur dan terus terang. Bukankah pada sebagian dari mereka jilbab tersebut tidak hanya menutupi kepada dan dada, tetapi juga menutupi aib-aib di akal dan jiwa mereka?! Maksud saya, sebagian akhawat membiarkan akal mereka tidak tercerahkan oleh pengetahuan Islam yang luhur dan membiarkan jiwa mereka tidak tersentuh oleh budi pekerti Islami yang halus.[1][2]

Apakah ini yang dimaksud dengan beriltizam? Untuk apa menutupi kepala dan tubuh, jika jilbab dan busana muslimah itu menyembunyikan pikiran yang sempit dan jiwa yang tercela? Jilbab dan busana muslimah tak pantas dijadikan topeng untuk semua itu!!

Begitu juga denganmu. Engkau sudah mengenakan baju koko berwarna putih layaknya santri, tapi hatimu masih hitam oleh kerak-kerak dosa yang dulu. Engkau juga mengenakan surban yang berwarna putih layaknya kyai. Penampilanmu persis penampilan muslim multazim. Tapi, belatung-belatung masih bersemayam di dalam hatimu yang busuk dan lalat-lalat masih beterbangan di sekitar pikiranmu yang kotor, akhlakmu yang tercela, dan kegelisahanmu yang nista!! Ini kenyataan. Saya, demi Allah, sangat merasa sedih saat mengutarakan potret ini. Tapi, sekali lagi, ini fakta. Keterusterangan memang pahit. Maafkan saya.

Akhi fillah. Jangan marah karena kata-kata saya yang kasar. Demi Allah yang telah menciptakan semua makhluk dan mengetahui yang samar dan yang tersembunyi, saya mencintai Anda karena Allah, sangat menginginkan kebaikan Anda, dan berusaha memberikan nasehat secara tulus kepada Anda.

Perlu diketahui, saya yakin bahwa ikhwah dan akhwat yang telah, sedang, dan selalu berusaha berpegang teguh pada ajaran Islam tersebut, -saya menyebutnya kaum muslim Multazim-, adalah makhluk Allah yang paling baik pada zaman sekarang. Meskipun mereka memiliki kekurangan disana-sini, namun upaya mereka, keteguhan mereka dalam menunjukkan syiar-syiar Islam, dan ketegaran mereka dalam menanggung penderitaan demi hal tersebut, pasti bernilai di sisi Allah.

Demi keadilan saya katakan, ucapan di atas tidak mencakup seluruh kaum multazim. Yang saya maksud hanya sebagian mereka yang sedang “sakit”, baik parah atau tidak. Yang jelas, orang-orang yang sedang sakit ini benar-benar ada.

Lebih jelas lagi, masing-masing kita mengidap penyakit, satu atau lebih, memiliki kekurangan, sedikit atau banyak. Karena itu, jika apa yang akan saya sebutkan ini tidak ada pada dirimu, usah engkau marah dan bersyukurlah pada Allah atas perlindungan-Nya. Lalu, teruslah melangkah bersama. Boleh jadi ada perkataan saya yang bermanfaat bagimu. Bersabarlah bersama saya, dan hanya kepada-Nya-lah kita memohon pertolongan.

إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (٨٨)

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88).

Kembali kepada apa yang sedang kita bicarakan. Marilah kita meneliti diri kita dengan jujur dan tegas.

Saudaraku. Iltizam yang cacat, logika yang karut-marut, dan keberagamaan yang pincang telah menjadi ciri kaum muslim pada zaman sekarang setelah para da’i berjalan di tempat, para ulama meninggal dunia dan ilmu pun tercabut dari dunia bersama mereka, masjid-masjid tidak mampu menjalankan fungsi dakwah secara optimal, da’i dan pendidik yang sejati semakin langka, kecintaan pada dunia semakin menjadi-jadi sementara rezeki yang halal semakin sulit dicari, di samping kebodohan, godaan-godaan, dan fasilitas-fasilitas maksiat yang semakin tersebar.

Semua ini adalah argumentasi yang menjustifikasi kekurangan kita. Tapi, izinkan saya bertanya kepadamu, wahai saudaraku tercinta, apa yang engkau inginkan dari iltizam dan kesungguhanmu melangkah di jalan agama? Apa ambisimu yang sesungguhnya? Apa cita-citamu sekarang? Apakah engkau sudah berubah? Bukankah semua ambisi dan cita-citamu masih murni duniawi?

Bukankah cita-citamu, wahai pelajar dan mahasiswa, adalah lulus studi dan diwisuda? Lalu, jika engkau ditanya, “Untuk apa?”, engkau menjawab, “Agar saya memperoleh status yang terhormat di masyarakat. Agar saya memperoleh banyak harta. Agar saya dapat menikah dan dikaruniai anak. Agar saya hidup sejahtera dan tidak disusahkan oleh kebutuhan kehidupan yang dikeluhkan oleh semua orang.” Kata-kata yang terus terang ini sudah klasik dan basi! Seperti inilah jawaban kebanyakan mahasiswa. Jika demikian, apa perbedaan antara mahasiswa yang multazim dengan yang tidak?

Bukankah kenyataan kita seperti ini? Apa yang mungkin engkau tambahkan? Boleh jadi engkau mengatakan “Tidak, saya tidak seperti mereka. Saya berusaha lulus studi agar saya dapat berbakti pada agama dan berbahagia di akhirat.”

Meskipun saya memandang jawaban ini tak ubahnya upaya menipu diri sendiri dan manifestasi dari kurangnya pemahaman tentang fikih tujuan, namun saya mengikuti logikamu,dan bertanya, “Apakah Allah ta’ala menyatakan bahwa orang yang menghendaki surga harus bersusah payah terlebih dahulu di dunia agar dapat hidup sejahtera, baru setelah itu bekerja sepenuhnya untuk akhirat?

Anggapan ini bertolak belakang dengan perintah Allah ta’ala. Dia berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (١٨)وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (١٩)

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al Isra: 18-19).

Apakah bersusah payah di dunia ini merupakan usaha untuk akhirat? Apakah ada jaminan setelah engkau meraih kehidupan yang sejahtera dan mewah maka engkau akan bekerja sepenuhnya untuk mendapatkan surge?

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَ رُزِقَ كَفَافًا وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezeki secukupnya, lalu dianugerahi rasa qana’ah oleh Allah terhadap apa yang diberikan-Nya.”[3]

Dalam pandangan Allah ta’ala, kehidupan yang baik tidak tergantung pada apa pun kecuali pada keimanan dan amal shalih. Dia berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97).

Jadi, engkau tidak boleh lintang pukang mencari rezeki. Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ (١٥)

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al Mulk: 15).

Rezekimu sudah ditetapkan, tidak akan bertambah sekiranya engkau menambah waktu kerja dengan mengorbankan ibadah dan tidak akan berkurang sekiranya engkau mengutamakan ketaatan kepada Allah ta’ala daripada menuntaskan sisa dari pekerjaan yang tiada habisnya. Tapi, siapakah yang memahami prinsip ini pada zaman sekarang? Siapakah yang meyakini bahwa ketaatan kepada Allah ta’ala adalah kunci rezeki?

Renungilah hadits berikut ini,

 إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنَّ نفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوْا اللهَ, فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمِ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلا بِطَاعَتِهِ

“Ruh Kudus telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa orang takkan mati sampai dia mencapai ajalnya dan menerima seluruh rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan memintalah kepada-Nya dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan datangnya rezeki mendorongmu untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih kecuali dengan cara taat kepada-Nya.”[4]

Yakinlah, tambahan rezeki tidak dapat engkau peroleh kecuali dengan cara mensyukuri nikmat Allah ta’ala. Firman-Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (٧)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

Syukur adalah asas pertambahan nikmat dan syarat bersyukur adalah menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan perintah Allah ta’ala. Adapun jika engkau bermaksiat kepada-Nya dengan nikmat-nikmat yang Dia berikan kepadamu, maka inilah kekafiran.

Demikianlah engkau harus memeriksa persepsi dan keyakinan yang salah, yang dapat merusak agama dan iltizam-mu.

Saudaraku. Banyak orang telah beriltizam, tapi angan-angannya masih sangat panjang. Dia masih bermimpi memiliki uang satu milyar, berobsesi memakai baju bermerek, mengendarai mobil mewah, tinggal di villa yang asri di tengah kota, di perumahan yang mewah dan nyaman. Semua ini adalah persepsi yang ada di dalam hati kita semua, tanpa terkecuali.

Banyak orang yang berkeyakinan bahwa menghendaki dunia dan akhirat sekaligus bukanlah hal yang mustahil. Meskipun pelbagai pengalaman telah memberikan kepadanya, dia tidak bersedia mengakui kesalahan keyakinannya. Jika engkau melihat orang seperti ini, cermatilah, dalam waktu yang tidak lama, dia akan segera melupakan cita-cita ukhrawinya, dan semata-mata menjadi hamba dunia.

Saya pernah mengobrol dengan seorang pemuda. Saya bertanya kepadanya, “Apa cita-citamu? Apakah engkau berhasrat memiliki rumah yang megah dan mobil yang mewah?” Dia menjawab, “Tidak. Tidak. Saya hanya ingin terjaga dari dosa. Saya ingin menikah dan memiliki rumah.”

Saya bertanya kepadanya, “Lalu, dimana cita-citamu untuk menjadi pemimpin kaum muslim yang membebaskan Al Quds?” Dia terkejut dengan pertanyaan ini.

Saya berkata, “Dimana cita-citamu untuk menjadi orang yang meraih surga yang tertinggi bersama penghulu para rasul, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dimana cita-citamu untuk menjadi ulama rabbani? Dimana cita-citamu untuk menjadi ahli ibadah yang teguh? Dimana cita-citamu untuk menjadi da’i, reformer, dan pembimbing umat yang jujur?

Inilah yang saya maksud dengan persepsi yang rusak dan harus diubah. Kita memasuki gerbang iltizam dengan membawa persepsi-persepsi lama. Cita-cita kita tetap sama. Kita masih berobsesi memiliki istri yang cantik, mobil mewah, pekerjaan yang terhormat, rumah megah, harta yang berlimpah ruah, dan sebagainya!! Kita masih berhasrat menjadi pesohor yang dihormati dan dikagumi masyarakat, kita masih mengidam-idamkan pujian dan sanjungan mereka. Bukankah hal ini yang masih menjadi cita-cita kita?

Jika demikian, kita harus berubah, jika kita ingin Allah mengubah keadaan kita.

Saya tidak mengatakan bahwa cita-cita tersebut haram atau mencapainya bertentangan dengan iltizam. Tidak. Saya ingin engkau paham bahwa di awal iltizam seseorang pada agama, dia harus mengubah cita-cita dan harapan-harapannya. Sebab, apabila cita-cita ukhrawi dan hasrat duniawi berdampingan, maka tidak dapat diragukan bahwa syahwat akan menang, karena dialah yang lebih dicintai oleh nafsu ammarah kita, yaitu nafsu yang senatiasa memerintahkan kita kepada keburukan.

Yang ingin saya katakan adalah, mencintai dan menginginkan kenikmatan dunia itu tidak terlarang, asal memenuhi dua syarat. Pertama, kepentingan agama dan akhirat harus harus didahulukan. Kedua, engkau tidak boleh sibuk dengan cita-cita duniawi tersebut sehingga agamamu terlantar.

لاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan musibah pada agama kami, janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai puncak cita-cita kami, dan puncak keilmuan kami.” [5]

Saudaraku, kita masih belum bisa membayangkan kehidupan tanpa hal-hal yang sudah tercetak di dalam pikiran kita. Banyak orang yang mengatakan, Kami tidak dapat membayangkan bisa hidup tanpa tidur 12 jam sehari, tidak dapat membayangkan berlalu satu minggu tanpa makan daging, tidak bisa membayangkan terus-menerus naik kendaraan umum, memakai baju tanpa diseterika, menyepi selama dua hari tanpa melihat orang-orang untuk bercanda, bergurau, tertawa, …, sebagaimana keadaannya sebelum beriltizam.

Banyak orang yang tidak dapat membayangkan dirinya hidup tanpa televisi, tanpa menonton sinetron, film, pertandingan sepakbola. Banyak orang yang tidak dapat membayangkan dirinya hidup tanpa rokok, narkoba, dan wanita!! Di dalam benak mereka tertanam anggapan, kehidupan tidak dapat berjalan tanpa semua itu.

Pada hakikatnya, semua itu hanya ilusi. Bukankah jika seseorang masuk penjara, maka semua persepsinya akan berubah?! Kebutuhan-kebutuhan yang dulu dia pandang asasi, akan menghilang. Kehidupannya akan benar-benar berubah. Semua kebutuhan yang dahulu terpenuhi, kini tidak dapat diraihnya. Tapi, kehidupannya terus berjalan. Bahkan, boleh jadi dia menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Karena itu, engkau harus mengubah persepsi, cita-cita, dan harapan-harapan tersebut. Engkau harus mengubahnya secara total. Ataukah engkau harus mengalami cobaan yang pedih terlebih dahulu agar engkau dapat berubah?! Semoga Allah ta’ala melindungi kita.

Saudaraku. Persepsi dan keyakinan itu berimplikasi pada moralitas dan perilaku yang terkadang sangat aneh dan mengerutkan dahi.

Ada seorang wanita yang terbiasa mengumbar aurat, berpakaian tapi nyaris telanjang demi mengikuti mode. Ketika beriltizam, dia melakukan tindakan-tindakan yang ajaib. Dia tetap memakai gaun warna-warni dan berkreasi membuat bentuk-bentuk dan cara-cara memakai jilbab. Busananya tetap memperlihatkan lekak-lekuk tubuhnya dan tidak menutupi apa yang seharusnya ditutupi. Padahal nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

و ليخرجن إذا خرجن تفلات

“Hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak semerbak.”[6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

اَلْبَذَاذَةُ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Memakai pakaian yang sederhana adalah bagian dari iman.”[7]

Sayang sekali, dia masih seperti yang dulu, seperti sebelum beriltizam. Kepribadiannya masih sama. Ingin terlihat cantik, berbeda, istimewa, dipuji tubuhnya yang elok, pakaiannya yang modis, seleranya yang tinggi, pesonanya yang memikat, dan sebagainya. Kepribadian lamanya belum mati dan belum digantikan oleh hati seorang wanita multazimah yang hanya ingin dipuji dan dicintai Tuhan-nya, wanita yang tidak menghiraukan perkataan manusia, karena hatinya telah terpaut hanya dengan Allah ta’ala, wanita yang menampakkan pesonanya hanya di rumah dan untuk suaminya saja karena menginginkan ganjaran di akhirat.

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً (٣٥)فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (٣٦)عُرُبًا أَتْرَابًا (٣٧)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al Waqi’ah: 35-37).

Yang lebih aneh, jika engkau mengingatkan wanita itu, akan ada orang yang berkata, “Mas, pelan-pelan. sudah sepantasnya kita bersyukur karena ia mau berjilbab. Bukankah ini lebih baik daripada ia mengumbar aurat dan berpakaian nyaris telanjang?”

Ya Allah, betapa wujud kekalahan mental yang terlontar dari mulut-mulut kaum muslim dari waktu ke waktu semakin parah! Saudaraku, yang benar adalah benar, demikian pula sebaliknya, yang salah tetap salah. Janganlah menambal sulam!

Di kalangan pemuda yang beriltizam pun kita dapati fenomena yang sama, bahkan mungkin lebih buruk. Misalnya, -semoga Allah melindungi kita-, para pemuda multazim yang memanjangkan rambut, memakai celana jeans, kaos ketat, pelbagai aksesoris, dan seterusnya. Mengapa mereka meniru-niru Barat? Aneh sekali!! Saya pernah menegur salah seorang dari mereka. Dia membantah, “Ustadz, memanjangkan rambut itu sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Saya memintanya bersumpah bahwa dia memang berniat mengikuti sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dia menolak. Maka saya katakan, “Anakku, ketahuilah, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan rambutnya panjang karena beliau tidak sempat mengurusnya. Sedangkan engkau, membiarkan rambutmu panjang karena engkau sibuk mengurusnya!”

Anakku, jangan menipu diri sendiri laksana orang-orang yang bodoh. Berterusteranglah! Engkau ingin, -walaupun engkau telah beriltizam-, tampil menarik di depan para pemudi, dipuji ketampanan dan penampilanmu. Mungkin yang tersimpan di dalam hatimu lebih parah. Ya Allah, lindungilah kami.

Di antara perilaku menyimpang lainnya, banyak orang yang telah beriltizam, namun pada saat berdagang, dia tetap berkeyakinan, bahwa jika dia tidak “memakan” orang lain, maka orang lain yang akan “memakannya”, karena masyarakat kita adalah masyarakat yang penuh dengan kecurangan dan kelicikan, sehingga jika engkau tidak mencuri milik seseorang, maka dia akan mencuri milikmu.

Sebelum beriltizam, dia berpikir, engkau harus menjadi kalajengking agar engkau tidak disengat orang lain. Setelah beriltizam, filsafat setan ini tetap bersemayam di kepalanya, sehingga dia mencari berbagai trik kotor untuk mencari rezeki, tidak peduli pada pelbagai cara jual beli yang haram.

 

Kesimpulan:

Saudaraku, setelah saya memaparkan realitas yang menyedihkan ini, jelaslah bahwa di dalam kehidupan kaum multazim masih terdapat banyak sekali perilaku dan moralitas yang tercela. Ini adalah komplikasi yang sangat rumit. Sumbernya adalah kerak-kerak dosa yang pekat, bertumpuk-tumpuk, dan terakumulasi di dalam hati kita.

– asy-Syaikh Muhammad bin Husain Ya’qub hafizhahullah –

Catatan kaki:

[1] Memang sangat penting bagi seorang muslimah untuk “mengerudungkan” hatinya, dan tidak sekedar mengerudungkan kepala dan badannya. Tapi di sisi lain, Islam jelas memerintahkannya untuk mengerudungkan kepala dan badannya. –peny.

[2] Realita yang terkadang membuat hati miris, terkadang kita menjumpai akhwat yang alhamdulillah secara lahiriah berpenampilan sesuai dengan syari’at, namun betapa banyak yang mengeluhkan akan keburukan perangai dan lisan mereka yang suka menggunjing. Akhirnya, terjadilah “jurang” antara sesama akhwat. Belum lagi fitnah hasad dan tafaakhur (berbangga-bangga dengan dunia) yang menimpa.  Ya Allah, berikanlah kami petunjuk. –peny.

[3] HR. Muslim: 1054.

[4] HR. Abu Nu’aim di dalam Al HIlyah, dinilai shahih oleh Al Albani (Shahih al Jami’: 2085).

[5] HR. Tirmidzi: 3502. Dinilai hasan oleh Al Albani (Shahih Sunan At Tirmidzi: 2783).

[6] HR. Abu Dawud: 565. Dinilai shahih oleh Al Albani (Shahih Abu Dawud: 529).

[7] HR. Abu Dawud: 4164. Dinilai shahih oleh Al Albani (Shahih Al Jami: 2879).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s