🍀 Dalam kitab Shahih-nya, al-Bukhari membuat suatu bab yang berjudul “باب فضل النفقة على الأهل” (Bab Keutamaan Memberi Nafkah kepada Keluarga). Beliau kemudian membawakan sebuah hadits dengan redaksi,

إذا أنفق المسلم نفقة على أهله وهو يحتسبها كانت له صدقة

“Apabila setiap muslim memberi nafkah kepada keluarga diiringi dengan niat untuk memperoleh pahala, maka nafkah yang diberikan terhitung sebagai sedekah.”

🍀 Ibnu Hajr menjelaskan,

والمراد بالاحتساب: القصد إلى طلب الأجر، ويستفاد منه أن الأجر لا يحصل بالعمل إلا مقروناً بالنية.

“al-Ihtisab berarti berniat untuk memperoleh pahala. Dapat dipahami bahwa pahala tidak akan diperoleh dengan sekedar beramal tanpa diiringi dengan niat untuk mendapatkan pahala.” [Fath al-Baari 9/498].

🍀 al-Qurthubiy mengatakan,

أفاد منطوقه أن الأجر في الإنفاق إنما يحصل بقصد القربة، سواءً كانت واجبة أو مباحة، وأفاد مفهومه أن من لم يقصد القربة لم يؤجر، لكن تبرأ ذمته من النفقة الواجبة

“Redaksi hadits menunjukkan bahwa pahala ketika memberi nafkah baru dapat diperoleh jika diniatkan sebagai ibadah, baik diniatkan sebagai sesuatu yang mubah atau wajib.
Dan secara tersirat, hadits tersebut menunjukkan setiap orang tidak akan memperoleh pahala jika tidak meniatkannya sebagai ibadah. Dia hanya terbebas dari beban tanggung jawab memberi nafkah yang wajib kepada keluarga.” [Fath al-Baari 1/136].

Sumber : Channel Telegram Fawaaid Fiqhiyyah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s