Pertanyaan
Apakah makna dari hadits
« إِنَّ الله لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا »
Sesungguhnya Allah tidaklah “bosan” hingga kalian bosan?

Jawaban
الحمد لله ربّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمّا بعد
Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Iman bab Ahabbu ad-Din ila Allah Adwamuha dan Muslim dalam kitab Shalat al-Musafirin bab Amru Man Na’usa fi Shalatihi dari hadits ‘Aisyah radliallahu ‘anha, dia mengatakan,
دخل عليّ رسول الله صلى الله عليه وسلم وعندي امرأة حسنة الهيئة، فقال: من هذه؟ قلت: هي فلانة بنت فلان، وهي يا رسول الله لا تنام الليل، فقال:« مَهْ، خذوا من العمل ما تطيقون، فإنّ الله لا يَمَلُّ حتى تَمَلُّوا، وأحبُّ العمل إلى الله ما داوم عليه صاحبُه وإن قلّ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke dalam rumahku sedang di sampingku terdapat seorang wanita yang shalih. Maka rasulullah bertanya, “Siapakah dia?” Saya menjawab, “Dia adalah fulanah binti fulan. Wahai rasulullah, dia sering begadang karena beribadah di waktu malam.” Rasulullah pun mengatakan, “Beramallah sesuai kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan.  Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara kontinu meski sedikit”[1].
Kata al-malal (secara bahasa) berarti menganggap berat sesuatu dan lari darinya setelah dulu menyukainya. Makna ini mengantarkan kepada makna “meninggalkan”, karena seorang yang bosan akan sesuatu pasti meninggalkannya atau berpaling darinya.
Ulama memiliki beragam penafsiran terhadap sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam << فإن الله لا يمل حتى تملوا >> dan hal itu terjadi karena perbedaan dalam memaknai huruf ” حتى” yang terdapat dalam hadits tersebut.
Ulama yang memaknai huruf tersebut dengan intiha-u al-ghayah, maka mereka menafsirkan dengan dua makna, yaitu:
Pertama, sesungguhnya Allah tidak akan memutus karunia-Nya kepada kalian hingga kalian bosan dalam meminta kepada-Nya sehingga kalian pun berhenti berharap kepada-Nya.
Kedua, sesungguhnya Allah tidak akan meninggalkan pemberian pahala dan balasan selama kalian tidak bosan dalam beramal.
Dengan demikian, makna al-malal dari pemahaman di atas adalah at-tark (meninggalkan), karena setiap orang yang bosan terhadap sesuatu niscaya akan meninggalkannya. At-tark diibaratkan dengan al-malal, karena hal itulah yang menjadi sebab dia meninggalkan sesuatu. Maka, penamaan at-tark dengan al-malal merupakan penamaan sesuatu dengan nama penyebabnya.
Jika saja hadits ‘Aisyah radliallahu ‘anha dengan redaksi, 
اكلفوا من العمل ما تطيقون، فإنّ الله لا يمل من الثواب حتى تملوا من العمل » [2]
berderajat shahih, maka niscaya hadits ini dapat menjadi penafsiran atas makna al-malal. Akan tetapi, dalam sanad hadits tersebut terdapat rawi yang bernama Musa bin ‘Ubaidah yang berstatus dla’if sebagaimana yang disebutkan al-Hafizh dalam al-Fath[3].
Di tempat lain beliau juga mengatakan,
أخرجه الطبري في تفسير سورة المزمل، وفي بعض طرقه ما يدل على أنّ ذلك مدرج من كلام بعض رواة الحديث
Ath Thabari meriwayatkan hadits ini di tafsir surat al-Muzammil dan di sebagian jalur periwayatannya terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa hadits ini merupakan mudraj yang berasal dari perkataan sebagian perawinya[4].
Ulama lain mengartikan huruf “حتى” dengan “الواو” sehingga hadits tersebut bermakna, “Allah itu tidak akan pernah bosan sedangkan kalian niscaya akan bosan”. Dengan demikian tafsiran ini menafikan sifat bosan dari Allah dan menetapkannya bagi mereka.
Ulama yang lain berpendapat berbeda dan mengartikan “حتى” dengan ” إنَّ” sehingga hadits di atas berarti, “Sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan meski kalian bosan” sebagaimana yang disebutkan oleh al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah, dimana dia mengatakan, “(Hal itu dilakukan) karena al-malal (bosan) mustahil menjadi sifat Allah”[5]. Dan al-Hafizh dalam al-Fath menukil ijma’ bahwa al-malal mustahil menjadi sifat Allah.
Komentar saya (Syaikh Ali Farkus) :
Meski indikasi hadits di atas menunjukkan bahwa al-malal merupakan sifat bagi Allah, namun al-malal haruslah dimaknai dengan makna yang sesuai dengan keagungan-Nya tanpa mengandung kekurangan dan aib sedikitpun seperti sifat manusia, karena sifat manusia yang mengandung kekurangan belum tentu ternafikan dari Allah ta’ala berdasarkan kaidah ahlu sunnah wa al-jama’ah yang menyatakan bahwa Allah disifati dengan sifat yang telah ditetapkan oleh-Nya dan juga rasul-Nya dengan penetapan yang tanpa disertai tamtsil dan penyucian tanpa diiringi ta’thil, karena tidak ada yang serupa dengan Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya.
Demikian pula, kesamaan yang dimiliki oleh dua hal yang berbeda pada segi nama dan sifat tidaklah berkonsekuensi adanya kesamaan dalam hakikat. Oleh karenanya, tidaklah pantas menganologikan Allah dengan makhluk-Nya, karena penganalogian hanya dapat dilakukan terhadap dua hal yang sejenis, sedangkan tidak ada yang serupa/sejenis dengan Allah. Terkadang sifat yang layak untuk-Nya justru merupakan sifat yang tidak layak dimiliki oleh manusia (karena mengandung makna keburukan apabila manusia memilikinya) seperti al-’uzhmah (agung) dan al-kibriya (sombong). Sebaliknya, terkadang suatu sifat layak dimiliki oleh makhluk-Nya, namun tidak layak untuk-Nya seperti sifatal-’ubudiyah (penghambaan).
والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبينا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليما.
Sumber : فتاوى الشيخ أبي عبد المعز محمد علي فركوس الجزائري

[1] – أخرجه البخاري في الإيمان (43)، ومسلم (1870)، وأبو داود في التطوع (1368)، والنسائي في القبلة (762)، وابن ماجة (4238)، ومالك في الموطأ (258)، وأحمد (24853)، والحميدي في مسنده (191)، والبيهقي (4925)، من حديث عائشة رضي الله عنها.
[2] Beramallah semampu kalian, karena sesungguhnya Allah tidaklah berhenti memberikan pahala hingga kalian sendiri yang bosan beramal.
[3] فتح الباري (1/137- 138(
[4] – فتح الباري (3/48).
[5] شرح السنة للبغوي (4/49)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s