Ketika shalat, setelah bangkit dari rukuk, kita disyari’atkan mengucapkan dzikir,

«رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، مِلْءَ السَموات، ومِلْءَ الأَرْض، ومِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ»

“Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian sepenuh langit dan bumi, serta sepenuh apa pun dari segala sesuatu setelah itu sesuai yang Engkau inginkan.” [Shahih. HR. Muslim].

Kita tidak diperintahkan mengucapkan “ربنا لك المدح”, namun diperintahkan mengucapkan “ربنا لك الحمد”, mengingat lafadz “الحمد” memiliki makna pujian kepada Allah yang lebih mendalam.

Meski memiliki makna yang sama, namun dalam bahasa Arab lafadz “المدح” tidak melazimkan objek yang diberi pujian juga dicintai dan diagungkan oleh pemberi pujian. Bisa jadi yang memuji, melontarkan pujian karena ada tendensi dan kepentingan, atau pujian dilontarkan agar bisa terhindar dari keburukan.

Sangat berbeda dengan lafadz “الحمد” di mana pujian yang diberikan pasti dibarengi dengan kecintaan dan pengagungan.

Ketika kita mengucapkan “مِلءَ السماوات والأرض”, maka pada momen tersebut kita tengah mengumumkan dan menghadirkan di dalam hati bahwa Allah ta’ala adalah Dzat yang dipuji dengan pujian yang memenuhi langit dan bumi.

Apabila kemudian kita mengucapkan, “«وملء ما شئت من شيء بعد»”, maka itu berarti kita tengah memuji Rabb kita, Allah, dengan pujian yang memenuhi segenap alam semesta yang berada di luar langit dan bumi, di mana besar dan luasnya hanya diketahui oleh Allah ta’ala.

Dr. Umar bin al-Muqbil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s