Melanjutkan artikel fikih ringkas thaharah. Pada kesempatan berikut kami ketengahkan secara ringkas beberapa pembahasan terkait hukum air yang bercampur dengan benda yang suci.

Air yang bercampur dengan benda yang suci memiliki beberapa kondisi, yaitu:

Kondisi pertama

Air yang mengalami perubahan sifat karena bercampur dengan benda yang suci namun tidak dapat larut di dalam air seperti minyak, kapur barus, getah, dan yang sejenis.

Mayoritas ahli fikih[1] berpendapat bahwa air dalam kondisi demikian tetap berstatus sebagai air thahur (suci dan menyucikan), sehingga masih dapat digunakan untuk bersuci.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

Pertama

Hadits Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha,

دخل علينا رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلَّم حين تُوفِّيت ابنته فقال: اغسلْنَها ثلاثًا أو خمسًا أو أكثر من ذلك إن رأيتُنَّ ذلك بماءٍ وسِدر، واجعلْنَ في الآخِرة كافورًا أو شيئًا من كافور، فإذا فرغتُنَّ فآذنَّنِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat kami, sedangkan kami tengah memandikan jenazah anak beliau (yaitu Zainab). Maka beliau berkata, “Mandikanlah dia sebanyak tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika diperlukan dan jadikanlah kali yang terakhir dengan kapur barus (wewangian). Apabila kalian telah selesai, segera beritahukan kepadaku’ [Shahih. HR. Bukhari : 1253 dan Muslim : 939].

Kedua

Hadits Ummu Haani radhiallahu ‘anha, dia mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْتَسَلَ وَمَيْمُونَةَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ فِي قَصْعَةٍ فِيهَا أَثَرُ الْعَجِينِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi bersama Maimunah dari bejana yang sama dan menggunakan gayung yang di dalamnya terdapat bekas adonan roti” [Shahih. HR. Ibnu Maajah : 378].

Pada hadits di atas jelas menyebutkan bahwa air yang digunakan untuk bersuci adalah air yang tercampur dengan zat lain yang juga suci. Meski demikian, pencampuran tersebut tidaklah menghilangkan penamaan air sehingga tidak dapat digunakan bersuci. Ibn al-Hamaam mengatakan,

وَقَدْ رَأَيْنَاهُ يُقَالُ فِي مَاءِ الْمَدِّ وَالنِّيلِ حَالَ غَلَبَةِ لَوْنِ الطِّينِ عَلَيْهِ، وَتَقَعُ الْأَوْرَاقُ فِي الْحِيَاضِ زَمَنَ الْخَرِيفِ فَيَمُرُّ الرَّفِيقَانِ وَيَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ هُنَا مَاءٌ تَعَالَ نَشْرَبْ نَتَوَضَّأْ، فَيُطْلِقُهُ مَعَ تَغَيُّرِ أَوْصَافِهِ بِانْتِفَاعِهَا، فَظَهَرَ لَنَا مِنْ اللِّسَانِ أَنَّ الْمُخَالِطَ الْمَغْلُوبَ لَا يَسْلُبُ الْإِطْلَاقَ فَوَجَبَ تَرْتِيبُ حُكْمِ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمَاءِ الَّذِي هُوَ كَذَلِكَ

“Kami telah mengetahui kabar perihal telaga al-maad dan an-niil di mana telaga tersebut bercampur dengan tanah sehingga warna air didominasi warna tanah dan juga ketika daun-daun di sekelilingnya masuk ke dalam telaga pada musim gugur. Ketika dua orang melewati telaga tersebut, salah seorang berkata kepada rekannya, “Ini ada sumber air. Kemarilah, kita dapat minum dan berwudhu dengannya.” Orang tersebut tetap menamakannya dengan air (menganggapnya sebagai air mutlak) meski telah mengalami perubahan karakteristik karena telah dimanfaatkan. Maka jelas bagi kami dari perkataan tersebut bahwa benda (suci) yang bercampur dan tidak mendominasi sifat air tidaklah menghilangkan kemutlakan air sehingga hukum mutlak tetap wajib diterapkan untuk air dengan kondisi yang demikian” [Fath al-Qaadir 1/72].

Selain itu, zat yang suci ini tidaklah larut di dalam air. Sebagai contoh minyak masuk ke dalam air akan mengapung di atas air sehingga yang terjadi adalah perubahan yang disebabkan adanya dua hal yang berdekatan (taghayyur mujaawarah), bukan perubahan yang disebabkan adanya dua hal yang larut bersama-sama.

Dengan demikian, pencampuran yang ada tidaklah sempurna secara keseluruhan dan taghayyur mujaawarah tidaklah menghilangkan sifat mensucikan dari air tersebut, tidak ada perbedaan baik zat yang yang suci tersebut dalam keadaan terpisah atau bersentuhan dengan air [Mawaahib al-Jaliil 1/75].

Termasuk dalam kondisi ini adalah air yang :

#1 : Bercampur dengan sesuatu yang suci di mana air sulit dijaga agar tidak bercampur dengan hal tersebut

Hal ini seperti air yang terdapat di suatu kolam yang ditumbuhi lumut atau tumbuhan semacamnya. Meski terjadi perubahan pada air, hukum air tersebut tetaplah suci dan menyucikan sehingga dapat digunakan untuk bersuci. Hukum yang sama juga diterapkan pada air yang ada di suatu kolam yang dipenuhi dengan dedaunan, atau air yang mengalami perubahan sifat karena ditempatkan pada wadah yang terbuat dari kulit atau tembaga, dan yang semisalnya.

#2 : Bercampur dengan garam 

Garam tidaklah menghilangkan sifat thahur pada air. Pendapat ini merupakan Hanafiyah[2], Malikiyah[3], salah satu pendapat di kalangan Syafi’iyah[4] dan Hanabilah[5], dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah[6], Ibnu Baaz[7], dan al-Utsaimin[8] rahimahumullah ajma’in.

Dalil akan hal ini adalah hadits yang menyatakan sucinya air laut. Seperti yang telah jamak diketahui bahwa air laut mengalami perubahan rasa karena kandungan garam yang sangat tinggi. Meski demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan akan kesuciannya. Air yang dicampur garam dan tentu dengan kandungan garam yang lebih rendah  dari air laut pasti memiliki hukum yang sama, yaitu berstatus suci dan menyucikan.

Kondisi kedua

Air yang mengalami perubahan sifat karena terlalu lama berada dalam wadah penyimpanan, yaitu air al-aajin yang mengalami perubahan rasa dan warna karena disimpan terlalu lama. Status air ini adalah suci dan menyucikan berdasarkan kesepakatan empat madzhab fikih[9].

Dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama

Dalil-dalil yang secara mutlak menunjukkan kesucian air yang turut mencakup air yang sifatnya berubah (misal : berbau tidak enak) karena berada dalam wadah penyimpanan dalam waktu yang lama [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwatiyah 39/358].

Kedua

Hadits az-Zubair radhiallahu ‘anhu, beliau menyampaikan,

 أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَأَتَى الْمِهْرَاسَ، وَأَتَاهُ بِمَاءٍ فِي دَرَقَتِهِ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَشْرَبَ مِنْهُ فَوَجَدَ لَهُ رِيحًا فَعَافَهُ، فَغَسَلَ بِهِ الدَّمَ الَّذِي فِي وَجْهِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: «اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى مَنْ دَمَّى وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ‘Ali bin Abi Thalib untuk mengambil air. Ali pun pergi ke al-Mihras dan membawakan air untuk beliau menggunakan tameng kulit. Namun, beliau tidak jadi meminumnya karena mencium bau yang tidak sedap. Kemudian, beliau hanya menggunakan air tersebut untuk mencuci darah yang terdapat di wajah beliau dan berkata, “Sungguh Allah sangat murka kepada kaum yang telah melukai wajah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.” [Hasan. HR. Ibnu Hibban : 6979].

Segi pendalilan
Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tetap menggunakan air tersebut untuk mencuci wajah merupakan dalil akan kesucian air tersebut [al-Ausath 1/368].

Ketiga

Perubahan sifat air pada kondisi tersebut tidak dapat dihindari sehingga hal ini serupa dengan sesuatu yang suci namun tidak dapat dicegah untuk bercampur dengan air (misal : tumbuhan lumut yang berada di kolam). [al-Majmu’ 1/91].

Tambahan : Hukum bersuci dengan jus

Mayoritas ulama[10] menyatakan tidaklah sah bersuci dengan jus ketika tidak ditemukan air[11]

Dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama :

Firman Allah ta’ala,

 

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air, atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” [QS. Al-Maidah: 6].

Segi pendalilan

Dalam ayat di atas, ketika tidak ditemukan air, maka yang menjadi pengganti untuk bersuci adalah tanah, bukan yang lain. Jus bukanlah air, baik ditinjau dari sisi bahasa maupun syari’at sehingga bersuci hanya diperbolehkan dengan menggunakan air atau tanah ketika tidak terdapat air. Seorang yang bersuci dengan jus, maka telah menyelisihi perintah di atas. [al-Ausath 1/363, al-Majmu’ 1/94].

Kedua

Hadits Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, beliau menyampaikan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا مُعْتَزِلًا لَمْ يُصَلِّ فِي القَوْمِ، فَقَالَ: يَا فُلاَنُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ فِي القَوْمِ؟ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَصَابَتْنِي جَنَابَةٌ وَلاَ مَاءَ، قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّعِيدِ فَإِنَّهُ يَكْفِيكَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang menyendiri dan tidak ikut shalat bersama orang banyak, beliau lalu bertanya, “Wahai fulan, apa yang menghalangi kamu untuk shalat bersama orang banyak?” Maka orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku mengalami junub dan tidak terdapat air.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wajib bagi anda menggunakan tanah dan itu sudah cukup buatmu.” [Shahih. HR. al-Bukhari : 348].

Segi pendalilan

Kalaulah bersuci dengan selain air itu diperbolehkan tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan orang tersebut untuk mencari jus atau yang sejenis untuk digunakan bersuci. [al-Ausath 1/364].

Ketiga

Penamaan air tidak dapat ditetapkan pada suatu benda cair di mana zat selain air lebih dominan sehingga seluruh karakteristik air tidak lagi ditemukan. Dengan demikian, jus atau yang sejenis tidaklah tepat jika masih tercakup dalam penamaan air, artinya tidak boleh digunakan untuk bersuci [al-Muhalla 1/195].

Catatan kaki:

[1]Fath al-Qaadir 1/72, al-Umm 1/28-29, al-Inshaaf 1/31, Mawaahib al-Jaliil 1/75.

[2] ad-Durr al-Mukhtaar 1/180, al-Bahr ar-Raa-iq 1/71.

[3] Hasyiyah ad-Dasuuqiy 1/37.

[4] al-Majmu’ 1/102.

[5] al-Inshaaf 1/32.

[6] Majmu’ al-Fataawa 21/26.

[7] Situs resmi beliau.

[8] Majmu’ Fataawa wa Rasaa-il 11/88.

[9] al-Bahr ar-Raaiq 1/71, Mawaahib al-Jalil 1/78, al-Majmu’ 1/90, al-Mughni 1/12.

[10] al-Mudawwanah al-Kubra 1/114, al-Majmu’ 1/93, asy-Syarh al-Kabir 1/23, al-Muhalla 1/195, Tabyin al-Haqaaiq 1/35.

[11] Terdapat klaim ijmak yang menyatakan bahwa bersuci dengan jus tidaklah sah jika terdapat air.

ath-Thahawi menyatakan, “Para ulama bersepakat bahwa perasan kurma tidak dapat digunakan untuk berwudhu bila terdapat air, karena status perasan kurma bukanlah air.” [Syarh Ma’ani al-Atsar 1/96].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s