Apabila seorang melaksanakan ruku’, dzikir yang diucapkan adalah ucapan tasbih “سبحان ربي العظيم”, Maha Suci Rabb-ku , Dzat Yang Maha Agung.

Dzikir di atas merupakan tasbih yang berarti tanzih (penyucian).

Oleh karena itu, ketika mengucapkan dzikir tersebut, hakikatnya seorang hamba tengah menyucikan Allah dari segala macam bentuk aib/kekurangan pada Dzat, nama, dan sifat-Nya.

Hanya milik Allah semata kesempurnaan secara mutlak dan keagungan di segala sisi.

Coba Anda renungkan firman-Nya di surat al-Anbiya ayat 104,

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاء كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْداً عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya.”

Sangatlah mudah menggulung lembaran-lembaran kertas. Seorang yang menulis di secarik kertas amatlah mudah bagi dirinya untuk menggulung kertas tersebut. Demikianlah perumpamaan ketika Allah menggulung langit. Langit yang sedemikian besar akan digulung Allah dengan mudah seperti mudahnya kita ketika menggulung kertas, bahkan apa yang dilakukan Allah lebih mudah dari itu. Tentu tidak mungkin bagi kita untuk membayangkan hakikatnya.

Seorang yang beriman ketika mengucapkan “سبحان ربي العظيم” akan mengingat bahwa dirinya tidaklah ruku’ melainkan hanya kepada Dzat yang berhak atas pengagungan secara mutlak, dan posisi ruku’ merupakan posisi pengagungan yang hanya pantas dilakukan di hadapan Allah ta’ala. Dengan begitu, dalam ruku’ dan dzikir yang dilakukan akan terkumpul penyucian terhadap Allah dalam bentuk perkataan dan perbuatan.

NB:
Dari sini pula kita ketahui bahwa posisi ruku’ ataupun sujud, di mana seorang menundukkan dirinya, bukanlah momen untuk membaca al-Quran karena al-Quran adalah dzikir yang paling utama. Di dalam shalat, al-Quran disyari’atkan untuk dibaca ketika posisi qiyam (berdiri). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda terkait hal ini,

 أَلا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا ، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ ، وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ – أي جدير وحقيق – أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Sesungguhnya aku dilarang membaca al-Quran ketika ruku’ atau sujud. Tapi agungkanlah Allah ketika ruku’ dan berdo’alah dengan sungguh-sungguh ketika sujud sehingga yakin untuk dikabulkan.” [Shahih. HR. Muslim].

-Dr. Umar Muqbil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s