Nabi Musa ‘alaihi as-salam berkata,

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Wahai Rabb-ku, sungguh diriku teramat butuh pada kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”

[al-Qashash : 24]

Syarh
Di dalam al-Quran terkadang do’a disebutkan dengan beberapa redaksi, yaitu:

Terkadang datang dengan redaksi ath-thalab (permintaan) seperti firman Allah ta’ala,

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Dan katakanlah: “Wahai Rabb-ku, berikanlah ampunan dan rahmat, Engkau-lah Pemberi rahmat Yang paling baik” [al-Mukminuun : 118].

Dapat juga tercantum dengan redaksi al-khabar (berita) yang mengandung ath-thalab seperti do’a yang dipanjatkan nabi ِAyyub ‘alaihi as-salam,

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Wahai Rabb, sungguh aku telah ditimpa penyakit dan Engkau-lah Dzat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang” [al-Anbiya : 83].

Pada redaksi do’a yang terdapat di awal artikel, nabi Musa ‘alaihi as-salam memohon kepada Allah dengan menyebutkan kondisinya yang fakir pada saat itu, teramat butuh pada kebaikan yang dimiliki Rabb-nya. Redaksi do’a yang beliau panjatkan menunjukkan etika yang sangat baik dan sempurna dari seorang hamba ketika memohon kepada Rabb semesta alam karena menggunakan ungkapan yang menggambarkan kelemahan dan kefakiran diri di hadapan Allah. Seolah-olah beliau berkata, “Wahai Rabb, sungguh diriku teramat butuh pada keutamaan, kecukupan, dan kebaikan yang Engkau turunkan sehingga Engkau mencukupkan diriku hanya dengan-Mu semata dan bukan selain Engkau.”

asy-Syaikh Abdurrahman as’Si’diy rahimahullah mengatakan,

 “Sesungguhnya Allah ta’ala senang apabila seorang berdo’a kepada-Nya bertawassul dengan nama dan sifat-Nya, demikian pula dengan menyebutkan kenikmatan yang secara khusus dan umum telah diberikan kepada hamba-Nya. Serupa dengan hal tersebut, Allah pun senang apabila seorang hamba berdo’a dengan bertawassul sembari menyebutkan kelemahan, ketidakberdayaan, dan kefakiran diri, serta pengakuan bahwa dirinya sama sekali tidaklah memiliki kekuatan untuk menghasilkan suatu maslahat untuk diri sendiri dan tidak pula mampu menolak segala bentuk bahaya dari dirinya. Allah cinta karena hal tersebut menunjukkan kerendahan diri, kepapaan, dan kefakiran kepada Allah yang memang merupakan hakikat dari setiap hamba” [Tafsiir Lathiif al-Mannaan hlm. 132].

Fawaaid

Sedikit  faidah dari do’a Musa ‘alaihi as-salam di atas adalah:

#1

Mengeluh pada Allah ta’ala tidaklah menafikan sifat sabar. Justru hal ini merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman dan bentuk ridha terhadap apa yang ditakdirkan-Nya;

#2

Seorang yang berdo’a kepada Allah hendaknya bertawassul dengan berbagai bentuk tawassul yang disyari’atkan, baik dengan nama dan sifat Allah, menyebutkan amal shalih yang telah dilakukan, atau seperti do’a nabi Musa ‘alaihi as-salam di atas. Berdo’a dengan berbagai bentuk tawassul tersebut menunjukkan kesempurnaan ‘ubudiyah yang tentu dicintai Allah ta’ala;

#3

Berlindung dari kefakiran itu disyari’atkan dan hal ini juga ditunjukkan dalam hadits yang memuat permohonan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar terlindung dari kefakiran.

Wallahu al-muwaffiq

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s