Terkait seorang yang beramal shalih dengan mengharap dunia, maka perlu disampaikan bahwa ibadah dalam syari’at terbagi menjadi dua :

Pertama, ibadah di mana syari’at tidak menyebutkan keuntungan duniawi secara khusus apabila amal itu dikerjakan. Ibadah (amal) yang demikian ini wajib diniatkan hanya untuk Allah semata dan tidak diperkenankan ketika mengerjakannya terbetik niat untuk memperoleh keuntungan dunia. Umumnya, ibadah dan amalan agama termasuk ke dalam jenis yang pertama ini.

Kedua, berkebalikan dengan yang pertama, yaitu ibadah di mana syari’at menerangkan secara khusus keuntungan duniawi yang akan diperoleh apabila amal tersebut dikerjakan.

Misalnya syari’at memotivasi untuk menyambung kekerabatan (silaturahim) dengan menyebutkan keuntungan dunia yang bisa didapatkan ketika mengerjakannya, yaitu rezeki dilapangkan dan umur diperpanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Setiap orang yang menginginkan rezeki yang dilapangkan dan umur yang diperpanjang, hendaklah menyambung tali kekerabatan.” [Shahih. HR. al-Bukhari dan Muslim].

Untuk ibadah jenis kedua ini, selain niat ikhlas karena Allah ta’ala, seseorang diperbolehkan menghadirkan niat untuk memperoleh keuntungan duniawi ketika mengerjakannya. Ketika syari’at secara khusus menyebutkan keuntungan duniawi yang akan diperoleh ketika amal tersebut dikerjakan, maka hal itu berarti syari’at telah mengizinkan dan seorang yang melakukan hal tersebut tidaklah dinamakan musyrik.

Masih terkait dengan ibadah jenis kedua, sebagai catatan agar diketahui bersama, bahwa seorang yang beramal dengan niat memperoleh keuntungan dunia di samping niat ikhlas karena Allah, tentu pahala yang akan diperolehnya tidak akan menyamai pahala seorang yang beramal dengan niat karena Allah semata. Seorang yang beramal dengan niat ikhlas lillahi ta’ala tentu pahala yang dihasilkan lebih besar.

Demikian itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَا مِنْ غَازِيَةٍ تَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُصِيبُونَ الْغَنِيمَةَ إِلَّا تَعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أَجْرِهِمْ مِنْ الْآخِرَةِ وَيَبْقَى لَهُمْ الثُّلُثُ وَإِنْ لَمْ يُصِيبُوا غَنِيمَةً تَمَّ لَهُمْ أَجْرُهُمْ

“Tidaklah seseorang berperang di jalan Allah kemudian ia mengambil bagiannya dari harta ghanimah, melainkan dua pertiga pahalanya di akhirat telah mereka peroleh dan hanya tersisa sepertiga di akhirat kelak. Namun, jika dia tidak mengambil harta ghanimah tersebut, maka pahalanya menjadi sempurna.” [Shahih. HR. Muslim].

Jamak diketahui seorang yang berjihad diperkenankan mengambil harta lawan yang telah dibunuhnya sebagaimana tersebut dalam hadits al-Bukhari dan Muslim.

Dan imam Ahmad rahimahullah pun pernah menjelaskan perihal yang sama, yaitu seorang yang berjihad dengan niat memperoleh ghanimah di samping niat ikhlas lillahi ta’ala. Beliau menerangkan bahwa pahala yang akan diperoleh sesuai dengan kadar keikhlasan niatnya. [Jaami’ al-‘Uluum wa al-Hikam].

Hal ini menunjukkan meski diperbolehkan tapi tetap ada perbedaan pahala yang akan diperoleh.

– Rangkuman dari Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah oleh Syaikh Shalih alu asy-Syaikh dengan sedikit penambahan –

Advertisements

One thought on “Beramal Shalih Karena Berharap Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s