Terdapat sejumlah adab yang dituntunkan dalam rangka memuliakan hari Jum’at. Namun, terkait dengan tema di atas maka kami menekankan pada lima adab yang telah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Aus bin Aus ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu,

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ ، وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ ، فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Setiap orang yang menggauli istrinya di hari Jum’at lalu mandi, kemudian berangkat di awal waktu dan mendapatkan awal khutbah, berjalan kaki dan tidak berkendara, mengambil posisi dekat dengan imam, mendengarkan khutbah dan tidak melakukan perbuatan sia-sia, niscaya setiap langkahnya akan terhitung setara dengan pahala amalan puasa dan shalat selama setahun.” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Mengenai makna “ghassala” sebagian ulama menafsirkannya dengan mencuci rambut.

Inilah lima adab shalat Jum’at yang terangkum dalam hadits, yaitu:

[1] Menggauli istri untuk kemudian mandi junub;
[2] Berangkat ke masjid di awal waktu dan mendapatkan awal khutbah;
[3] Berjalan kaki dan tidak berkendara;
[4] Mengambil posisi dekat dengan imam;
[5] Mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia.

Dapat Anda bayangkan, jika Anda mengerjakan berbagai amal sunnah ini, sementara jarak dari rumah Anda menuju masjid adalah sekitar 100 langkah. Dengan demikian, Anda akan berpotensi mendapatkan pahala puasa dan shalat selama 100 tahun.

Dalam sebulan, Anda berpotensi memperoleh pahala puasa dan shalat selama 400 tahun! Kira-kira dalam setahun, 10 tahun, atau 20 tahun berapa potensi pahala yang dapat diperoleh?

Jika kita menggunakan umur untuk berpuasa dan shalat, niscaya kita tidak akan sanggup untuk bertahan selama 100 tahun. Namun, karunia Allah teramat luas sehingga menganugerahkan kepada kita, hamba-Nya yang lemah dan relatif berusia pendek, berbagai keutamaan pahala apabila mengerjakan sunnah-sunnah yang tertera dalam hadits di atas. Tentu kita tidak akan rela kehilangan keutamaan itu.

Seorang muslimah boleh jadi merasa merugi karena kehilangan pahala tersebut mengingat shalat Jum’at tidaklah diwajibkan atas wanita. Namun, dia tidak perlu berkecil hati karena dia dapat mendorong suaminya untuk melaksanakan adab-adab shalat Jum’at. Pasalnya, orang yang memberikan petunjuk pada orang lain untuk berbuat kebaikan akan memperoleh pahala seperti pahala pelaku kebaikan tersebut.

Wallahul muwaffiq.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s