Allah ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu saja dan kamu telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah berbuat kefasikan” [QS. al-Ahqaaf : 20].

Kandungan ayat :

Pertama

Pada hari kiamat kelak orang-orang kafir akan digiring ke hadapan neraka dan akan dicampakkan ke dalam neraka sebelum ash-shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam. Adapun orang mukmin akan diuji dengan melewati ash-shirath yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Allah ta’ala berfirman,

وَإِن مِّنكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْماً مَّقْضِيّاًثُمَّ نُنَجِّى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّنَذَرُ ٱلظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيّاً

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.” [Maryam : 71-72];

Kedua

Ayat ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa pada umumnya orang-orang kafir memiliki kehidupan yang sukses di dunia dan dipermudah rezekinya sehingga bisa mengenyam berbagai kenikmatan dan kemudahan. Namun, ketika mereka berpindah ke negeri akhirat yang ada hanyalah siksa sebagai balasan dan bukan kenikmatan surga. Hal ini mengingat rezeki dan kebaikan yang dimiliki mereka sepenuhnya telah dinikmati ketika hidup di dunia sehingga tidak ada bagian kenikmatan yang tersisa bagi mereka di akhirat kelak;

Ketiga

Ayat ini juga memberitakan bahwa siksa yang diperoleh orang kafir selain disebabkan mereka telah puas menikmati kenikmatan dan memperturutkan syahwat semasa hidup di dunia, juga dikarenakan oleh kesombongan mereka tanpa hak dan kefasikan yang telah dilakukan;

Keempat

Keumuman ayat juga mencakup orang-orang kafir yang terkenal sebagai figur yang baik selama hidup di dunia. Dengan demikian, akhir kehidupan mereka di akhirat tetap memperoleh siksa di neraka. Adapun kebaikan yang dilakukan mereka telah ditunaikan balasannya secara kontan oleh Allah semasa di dunia. Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu memberitakan bahwa Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا، وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ، فَإِنَّ اللهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ»;

“Apabila orang kafir berbuat kebaikan, niscaya akan diberi balasannya di dunia. Adapun orang mukmin, Allah akan menyimpan balasan kebaikannya di akhirat di samping balasan rezeki yang diterimanya di dunia atas ketaatan yang dilakukan.” [Shahih. HR. Muslim : 2808].

an-Nawawi rahimahullah mengatakan,

 أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْكَافِرَ الَّذِي مَاتَ عَلَى كُفْرِهِ لَا ثَوَابَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُجَازَى فِيهَا بِشَيْءٍ مِنْ عَمَلِهِ فِي الدُّنْيَا مُتَقَرِّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَصَرَّحَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ بِأَنْ يُطْعَمَ فِي الدُّنْيَا بِمَا عَمِلَهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ أَيْ بِمَا فَعَلَهُ مُتَقَرِّبًا بِهِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِمَّا لَا يَفْتَقِرُ صِحَّتُهُ إِلَى النِّيَّةِ كَصِلَةِ الرَّحِمِ وَالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَالضِّيَافَةِ وَتَسْهِيلِ الْخَيْرَاتِ وَنَحْوِهَا وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُدَّخَرُ لَهُ حَسَنَاتُهُ وَثَوَابُ أَعْمَالِهِ إِلَى الْآخِرَةِ وَيُجْزَى بها مع ذلك أيضا فى الدنيا ولامانع مِنْ جَزَائِهِ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Ulama sepakat bahwa orang kafir yang meninggal di atas kekufuran tidak akan memperoleh pahala kelak di akhirat dan amal yang dilakukan di dunia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedikit pun tidak akan dibalas. Hadits ini tegas menyatakan bahwa kebaikannya akan segera dibalas di dunia, yaitu berbagai amalan yang dilakukan dengan ikhlas dan keabsahannya tidak bergantung pada niat seperti silaturahim, sedekah, membebaskan budak, menjamu tamu, membantu kebaikan, dan yang semisal.” [al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 17/150].

Kelima

Sebagian ulama berpendapat bahwa kaum muslimin bisa tercakup dalam ancaman yang ada dalam ayat tersebut, yaitu bagi mereka yang terjerumus ke dalam kemaksiatan yang sejatinya merupakan kenikmatan di akhirat kelak dan belum bertaubat.

Hal ini seperti seorang pria yang mengenakan sutra di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mereka,

مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ

“Barangsiapa memakai sutra di dunia, maka ia takkan memakainya di akhirat” [Shahih. HR. Bukhari : 5494 dan Muslim : 2073].

Demikian pula hal yang sama juga terjadi pada pecandu khamr, mereka yang minum dengan menggunakan bejana perak dan emas. Ibnu al-Qayyim rahimahullah menambahkan pezina bahkan pelaku maksiat secara umum yang bersenang-senang dengan kelezatan duniawi dengan cara yang haram, di mana kelezatan serupa juga terdapat di akhirat. Beliau mengatakan,

ومنها : أنه يعرض نفسه لفوات الاستمتاع بالحور العين في المساكن الطيبة في جنات عدن ، والله سبحانه وتعالى إذا كان قد عاقب لابس الحرير في الدنيا بحرمانه لبسه يوم القيامة ، وشارب الخمر في الدنيا بحرمانه إياها يوم القيامة ، فكذلك مَن تمتع بالصور المحرمة في الدنيا ، بل كل ما ناله العبد في الدنيا من حرام : فاته نظيره يوم القيامة

“Di antara hukuman bagi pezina adalah dia menawarkan pada dirinya agar melewatkan kesempatan untuk bersenang-senang dengan para bidadari di al-masaakin ath-thayibah yang terletak di surga ‘Adn.  Allah ta’ala menghukum pria yang memakai sutra di dunia dengan tidak memperbolehkan dirinya memakai sutra di akhirat. Demikian juga dengan peminum khamr di dunia akan diharamkan untuk menikmati khamr di surga kelak. Maka, demikian pula seorang yang bersenang-senang dengan cara yang diharamkan ketika di dunia. Bahkan, setiap kenikmatan duniawi yang diperoleh seorang hamba dengan cara yang haram akan mengakibatkan dirinya kelak tidak dapat menikmati kenikmatan tersebut di hari kiamat.” [Raudhah al-Muhibbin hlm. 365-368].

Keenam

Celaan Allah kepada orang kafir dalam ayat ini mendorong Nabi dan sebagian salaf bersikap zuhup dengan harapan memperoleh balasan di akhirat.

Umar radhiallahu ‘anhu pernah berkata,

رَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيْرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيْكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟

Aku pernah melihat bekas tikar di rusuk Nabi, maka aku pun menangis sehingga beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra dan Kaisar hidup bermegah-megahan, padahal Anda ini adalah utusan Allah.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” [Shahih. HR. Bukhari : 4913].

Umar juga pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam,

ادْعُ اللَّهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ، فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ، وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لاَ يَعْبُدُونَ اللَّهَ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: «أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا»

“Wahai Rasulullah do’akan agar kehidupan dunia dilapangkan bagi umatmu karena Allah telah memberi kelapangan bagi kaum Persia dan Romawi. Demikian pula dunia dalam genggaman mereka sementara mereka tidak menyembah Allah. Rasulullah pun duduk dan berkata, “Apakah engkau berada dalam keraguan, Ibn al-Khatthab? Mereka itu adalah kaum yang kebaikannya disegerakan di kehidupan dunia.” [Shahih. HR. Bukhari : 2468].

Ketujuh

Berdasarkan ayat ini, meski secara tegas diperuntukkan bagi orang kafir, sebagian salaf memahami bahwa gemar bersenang-senang dengan kehidupan dunia dapat mengurangi kebaikan seorang muslim yang akan diperoleh di surga. Amir al-Mukminin, Umar radhiallahu ‘anhu termasuk di antara mereka.

al-Ahnaf rahimahullah pernah mendengar Umar ibn al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata,

لَأَنَا أَعْلَمُ بِخَفْضِ الْعَيْشِ، وَلَوْ شِئْتُ لَجَعَلْتُ أَكْبَادًا وَصِلَاءً وَصِنَابًا وَصَلَائِقَ، وَلَكِنِّي أَسْتَبْقِيَ حَسَنَاتِي، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَصَفَ أَقْوَامًا فَقَالَ” أَذْهَبْتُمْ طَيِّباتِكُمْ فِي حَياتِكُمُ الدُّنْيا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِها”

“Sungguh aku tahu bagaimana memperoleh kelapangan hidup. Jika aku ingin, aku dapat menyantap hidangan berupa hati, shila, shinab, dan shalaa-iq. Namun, aku ingin agar kebaikanku tidak berkurang karena sungguh Allah telah menceritakan perihal suatu kaum, dimana Dia berfirman (yang artinya), “Kalian telah menghabiskan kebaikan-kebaikan kalian semasa hidup di dunia dan telah bersenang-senang dengannya” [Tafsir al-Qurthubi 16/200].

Beliau radhiallahu ‘anhu juga mengatakan,

وَاللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَوْلَا أَنِّي أَخَافُ أَنْ تَنْقُصَ حَسَنَاتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَشَارَكْنَاكُمْ فِي الْعَيْشِ! وَلَكِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لِأَقْوَامٍ: أَذْهَبْتُمْ طَيِّباتِكُمْ فِي حَياتِكُمُ الدُّنْيا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِها

“Demi Allah, Zat yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain-Nya, seandainya aku tidak khawatir kebaikanku akan berkurang di hari kiamat, tentu aku akan turut bersenang-senang dengan kalian. Akan tetapi aku telah mendengar Allah telah berfirman perihal suatu kaum (yang artinya), “Kalian telah menghabiskan kebaikan-kebaikan kalian semasa hidup di dunia dan telah bersenang-senang dengannya” [Tafsir al-Qurthubi 16/202].

Kedelapan

Seorang muslim tidak dilarang menikmati kehidupan dunia dan bersenang-senang dengan kelezatannya. Hal itu tidak akan mengurangi pahala kebaikan seorang muslim di akhirat. Allah ta’ala berfirman,

 قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” [al-A’raaf : 32].

Dengan catatan, bersenang-senang dengan kehidupan dunia tidak dilakukan secara berlebihan dan menjadi kebiasaan karena karakter hamba Allah itu tidak identik dengan gemar bersenang-senang, dan juga kebiasaan bersenang-senang dengan kenikmatan dunia mampu membuat pelakunya terjerumus ke dalam perkara syubhat dan haram.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمَ؛ فَإِنَّ عِبَادَ اللهِ لَيْسُوا بِالْمُتَنَعِّمِينَ

“Tinggalkanlah sifat gemar bersenang-senang (at tana’um). Karena hamba Allah yang sejati bukanlah orang yang gemar bersenang-senang” [Hasan. HR. Ahmad : 22105].

al-Halimi mengatakan,

 وَهَذَا الْوَعِيدُ مِنَ اللهِ تَعَالَى، وَإِنْ كَانَ لِلْكُفَّارِ، الَّذِينَ يُقْدِمُونَ عَلَى الطَّيِّبَاتِ الْمَحْظُورَةِ وَلِذَلِكَ قَالَ: {فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ} [الأحقاف: 20] فَقَدْ يَحْسُنُ مِثْلُهُ، عَلَى الْمُنْهَمِكِينَ فِي الطَّيِّبَاتِ الْمُبَاحَةِ، لِأَنَّ مَنْ تَعَوَّدَهَا مَالَتْ نَفْسُهُ إِلَى الدُّنْيَا فَلَمْ يُؤْمَنْ أَنْ يَرْتَكِبَ فِي الشَّهَوَاتِ وَالْمَلَاذِّ، وَكُلَّمَا أَجَابَ نَفْسَهُ إِلَى وَاحِدَةٍ مِنْهَا دَعَتْهُ إِلَى غَيْرِهَا، فَيَصِيرَ إِلَى أَنْ لَا يُمْكِنَهُ عِصْيَانُ نَفْسِهِ فِي هَوًى قَطُّ، وَيَنْسَدَّ بَابُ الْعِبَادَةِ دُونَهُ، فَإِذَا آلَ الْأَمْرُ بِهِ إِلَى هَذَا لَمْ يُبْعَدْ أَنْ يُقَالَ: {أَذَهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا} [الأحقاف: 20] فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُعَوَّدَ النَّفْسُ مَا يَمِيلُ بِهَا إِلَى الشَّرَهِ، ثُمَّ يَصْعُبَ تَدَارُكُهَا،

“Ancaman ini berasal dari Allah. Redaksi ayat diperuntukkan bagi orang kafir, yang kebiasaan mereka gemar menikmati berbagai kelezatan yang terlarang. Oleh karena itu, Allah berfirman pada redaksi selanjutnya (yang artinya), “Maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan…”.

Meskipun demikian, kondisi mereka serupa dengan orang-orang yang asyik menikmati berbagai kelezatan dunia yang bersifat mubah, karena seorang yang membiasakan diri bersenang-senang dengan kenikmatan akan memiliki jiwa yang condong kepada dunia sehingga dikhawatirkan dirinya akan memenuhi keinginan syahwat dan kesenangan. Setiap kali dirinya memenuhi ajakan syahwat, maka jiwa akan mengajak untuk menikmati syahwat yang lain, sehingga dia sama sekali tidak mampu  membendung ajakan hawa nafsu dan terhalang dari pintu ibadah.

Apabila berujung pada hal tersebut, maka firman Allah “أَذَهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا” layak ditujukan pada orang yang demikian kondisinya. Dengan demikian, tidak sepatutnya jiwa dibiasakan untuk menikmati kelezatan dunia sehingga menyebabkan “ketagihan” dan sulit untuk diobati.” [Syu’ab al-Iman 7/462]. 

Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin.

Tangerang, 2 Shafar 1437 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s