Definisi Air Najis

ِAir najis (الماء النَّجس) dapat diartikan sebagai,

ما وقعت فيه نجاسة وهو قليل أو كان كثيرا وتغير بها أحد أوصافه

“Air dengan volume yang banyak maupun sedikit, di mana najis masuk ke dalam air tersebut sehingga salah satu sifatnya (rasa, bau, dan warna) mengalami perubahan [Tahqiq al-Mathaalib bi Syarh Dalil ath-Thaalib 1/105].

Berdasarkan ijma’ air najis tidak dapat digunakan untuk bersuci. Ibnu al-Mundzir mengatakan,

 أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْقَلِيلَ أَوِ الْكَثِيرَ إِذَا وَقَعَتْ فِيهِ نَجَاسَةٌ فَغَيَّرَتِ النَّجَاسَةُ الْمَاءَ طَعْمًا، أَوْ لَوْنًا، أَوْ رِيحًا أَنَّهُ نَجَسٌ مَا دَامَ كَذَلِكَ، وَلَا يَجْزِي الْوُضُوءُ وَالِاغْتِسَالُ بِهِ

“Para ulama bersepakat bahwa setiap air, dengan volume yang sedikit maupun banyak, jika najis masuk ke dalam air dan mengubah rasa, warna, dan bau, maka air tersebut berstatus najis selama kondisinya demikian. Tidak boleh menggunakan air tersebut untuk berwudhu dan mandi” [al-Ausath fi as-Sunan wa al-Ijma’ wa al-Ikhtilaf 1/260].

Berdasarkan keterangan di atas selama salah satu sifat air tidak berubah, maka air yang kemasukan najis tidaklah dihukumi sebagai air najis. Oleh karena itu, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Kesimpulan pertama : air dengan volume yang banyak apabila bertemu dengan najis namun tidak mengalami perubahan, maka hukumnya tetap suci dan tidak najis.  Dalilnya adalah ijma’. Ibnu Rusyd mengatakan,

وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْكَثِيرَ الْمُسْتَبْحِرَ لَا تَضُرُّهُ النَّجَاسَةُ الَّتِي لَمْ تُغَيِّرْ أَحَدَ أَوْصَافِهِ

“Mereka bersepakat bahwa suatu najis tidaklah mempengaruhi status suatu air dengan volume yang melimpah, selama najis tidak merubah salah satu sifat air” [Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid 1/30].

Kesimpulan kedua : apabila najis masuk ke dalam air yang mengalir, status air tersebut tetap suci selama tidak mengalami perubahan dalam salah satu sifatnya. Demikianlah pendapat mayoritas fuqaha[1]. Dalil bagi pendapat ini adalah :

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bersabda,

لا يَبولنَّ أحدُكم في الماء الدَّائِمِ الذي لا يَجري ثُمَّ يَغتسِل منه

“Janganlah kalian buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian menggunakannya untuk mandi” [Shahih. HR.  Bukhari : 239 dan Muslim : 282].

Pada hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara air yang menggenang dengan air yang mengalir, di mana larangan buang air kecil dan mandi ditujukan pada air yang menggenang dan tidak berlaku pada air yang mengalir. Dengan demikian, mafhum hadits menunjukkan bahwa tidak mengapa apabila seorang buang air kecil di air yang mengalir dan menggunakannya untuk mandi [Majmu’ al-Fataawa 21/73].

Selain hadits di atas, dalil akan pendapat ini adalah dua argumentasi berikut :

Pertama

Najis yang terdapat dalam air yang mengalir secara hukum dapat dinyatakan terpisah dengan aliran/arus air yang ada di depan dan belakangnya, meskipun secara inderawi najis tersebut “bersentuhan” dengan aliran air. Hal ini mengingat setiap arus air mesti “berusaha” mendekati arus yang ada di depan dan menjauh dari arus yang ada di belakangnya. Dengan demikian, secara fisik najis tersebut tidaklah melekat pada air yang mengalir sehingga secara hukum status najis tidak pula melekat pada air yang yang mengalir [Mughni al-Muhtaj 1/24-25].

Kedua

Air yang mengalir apabila dikumpulkan akan melebihi dua qullah. Dan dengan mempertimbangkan kekuatan serta kekhususan setiap arus, najis tidak akan “menetap” pada arus/aliran air [asy-Syarh al-Kabiir 1/41].

Kesimpulan ketiga : air dengan volume yang sedikit meski najis masuk ke dalamnya tetap berstatus suci selama tidak terjadi perubahan dalam salah satu sifatnya. Pendapat ini merupakan pendapat Malikiyah, Zhahiriyah, salah satu riwayat dari Ahmad, dan dipilih sebagian ulama Hanabilah dan Syafi’iyah[2]. Pendapat ini juga diamini oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani, ash-Shan’ani, asy-Syaikh Ibn Baaz, dan Ibn ‘Utsaimin rahimahumullah ajma’in. Dalil bagi pendapat ini adalah :

Pertama

Firman Allah ta’ala,

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang thahur” [al-Furqaan : 48].

Selama air tersebut tidak mengalami perubahan sifat, maka tetap berstatus suci, baik volumenya sedikit atau banyak. Sifat suci tersebut tidak hilang dari air kecuali dengan bukti yang jelas [al-Kaafi 1/156-157].

Kedua

Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الماءَ طَهورٌ لا يُنجِّسه شيءٌ

”Sesungguhnya air itu thahur (suci dan menyucikan), tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya” [Shahih. HR. Ahmad : 11818, Abu Dawud : 67, at-Tirmidzi : 66].

Status suci itu berlaku secara umum dan tidak berubah kecuali air mengalami perubahan sifat dengan adanya najis. Apabila hal itu terjadi, maka status air tersebut berubah menjadi najis berdasarkan ijma’ ulama [al-Ijma’ hlm. 35].

asy-Syaikh Ibn Baaz mengatakan,

والصواب: أن ما دون القلتين لا ينجس إلا بالتغير، كالذي بلغ القلتين؛ لقول النبي – صلى الله عليه وسلم -: «إن الماء طهور لا ينجسه شيء » أخرجه الإمام أحمد، وأبو داود، والترمذي، والنسائي بإسناد صحيح، من حديث أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه -. وإنما ذكر النبي – صلى الله عليه وسلم – القلتين؛ ليدل على أن ما دونهما يحتاج إلى تثبت ونظر وعناية؛ لا أنه ينجس مطلقا؛ لحديث أبي سعيد المذكور
ويستفاد من ذلك: أن الماء القليل جدا يتأثر بالنجاسة غالبا، فينبغي إراقته، والتحرز منه؛ ولهذا ثبت عنه – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: «إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليرقه، ثم ليغسله سبع مرات »

“Pendapat yang tepat adalah pendapat yang menyatakan bahwa air dengan volume kurang dari dua qullah tidaklah menjadi najis jika tidak mengalami perubahan pada sifatnya, sebagaimana hal yang sama juga berlaku pada air yang volumenya melebihi dua qullah. Hal ini berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya air itu thahur (suci dan menyucikan), tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya”. Hadits ini diriwayatkan oleh imah Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasaa-i dengan sanad yang shahih dari hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu.

Kadar dua qullah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits hanya untuk menunjukkan bahwa air dengan volume kurang dari dua qullah memerlukan verifikasi dan penelitian yang lebih untuk memastikan kesuciannya, bukan menunjukkan bahwa air tersebut secara mutlak berstatus najis. Hal ini ketika kita turut mempertimbangkan hadits Abu Sa’id yang telah disebutkan sebelumnya.

Kesimpulan yang juga dapat dipetik dari hal di atas adalah air yang sangat sedikit pada umumnya berubah sifatnya jika bercampur dengan najis, sehingga sebaiknya air tersebut dibuang dan tidak digunakan. Oleh karena itu, terdapat hadits shahih di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka buanglah lalu cucilah sebanyak tujuh kali.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih beliau” [Majmu’ Fataawa Ibn Baaz 10/16].

Kesimpulan keempat : air yang baunya berubah karena berdekatan dengan najis tidak menghilangkan kesucian air tersebut. Pendapat ini merupakan pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah[3]. Dan sebagian ulama menyatakan tidak ada khilaf dalam permasalahan ini[4]. Hal ini dikarenakan air tersebut sifatnya berubah, dalam hal ini mengalami perubahan bau, karena berdekatan dengan najis, bukan karena kemasukan najis, sehingga pada hakikatnya najis tidaklah mempengaruhi air karena najis tersebut tidak berpindah masuk ke dalam air [asy-Syarh al-Kabiir 1/35, al-Majmu’ 1/105].

Meskipun demikian, akan lebih baik jika kita berusaha untuk mencari dan menggunakan air lain yang tidak berbau. asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin mengatakan,

ولا شكَّ أن الأَوْلَى التنزُّه عنه إن أمكن، فإِذا وُجِدَ ماء لم يتغيَّر فهو أفضل، وأبعد من أن يتلوَّث بماء رائحته خبيثة نجسة، وربما يكون فيه من النَّاحية الطبيَّة ضرر، فقد تحمل هذه الروائح مكروبات تَحُلُّ في هذا الماء

“Tentunya lebih baik sedapat mungkin tidak menggunakan air tersebut, dan apabila terdapat air yang tidak berubah sifatnya maka lebih afdhal menggunakan air tersebut dan tentu tidak akan terkontaminasi dengan air yang berbau najis. Selain itu, bisa jadi terdapat bahaya jika ditinjau dari segi kesehatan, di mana bau najis tersebut dapat membawa berbagai macam mikroba/mikroorganisme yang larut dalam air tersebut” [asy-Syarh al-Mumti’ 1/35].

Kesimpulan kelima : apabila perubahan sifat yang terjadi pada air yang tercampur najis dihilangkan, baik secara natural, atau dengan penambahan jumlah air, penyaringan, atau berbagai metode yang lain [5], maka status air tersebut kembali menjadi suci. Pendapat ini merupakan pendapat Malik, Ibn Hazm, asy-Syaukani, Ibn Baaz, Ibn ‘Utsaimin rahimahumullah ajma’in[6].

asy-Syaukani mengatakan,

.قد قدمنا لك أن الماء طاهر مطهر لا ينجسه إلا ما غير بعض أوصافه من غير فرق بين قليل وكثير. فهذه المياه القليلة لا تنجس بمجرد وقوع النجاسة فيها إلا أن يتغير بعض أوصافها على ما هو المذهب الحق والقول الراجح. فإن تغيرت حال قلتها صارت متنجسة,فإن زال ذلك التغير عند اجتماعها صارت طاهرة بزوال التغير وسواء كانت حال اجتماعها مستبحرة أم لا فليس المقصود الذي هو مناط الطهارة إلا زوال التغير

“Telah kami sampaikan bahwa air bersifat suci dan menyucikan, tidak ternajisi kecuali najis telah merubah sebagian sifatnya tanpa membedakan volume air, apakah sedikit atau banyak. Dengan demikian, berdasarkan pendapat yang tepat dan terkuat, air yang bervolume sedikit tidaklah berstatus najis dengan semata-mata masuknya najis kecuali sebagian sifat air berubah. Apabila air dengan volumen sedikit berubah sifat, maka statusnya menjaid najis.  Dan apabila perubahan tersebut hilang ketika terjadi pencampuran, maka air tersebut menjadi suci dengan hilangnya perubahan sifat tersebut, baik ketika pencampuran airnya melimpah atau tidak. Dengan demikian yang menjadi pedoman dalam menentukan kesucian adalah hilangnya perubahan sifat pada air tersebut” [as-Sail al-Jaraar hlm. 36].

Dalil bagi pendapat ini adalah sebagai berikut :

Pertama

Suatu hukum ditetapkan berdasarkan adanya ‘illat, apabila ‘illat tersebut hilang maka demikian pula dengan hukum tersebut. Dan penetapan najisnya suatu air juga bergantung pada keberadaan dan ketiadaan ‘illat. Dengan demikian, apabila terdapat najis dan merubah sifat air tersebut, maka air tersebut dapat ditetapkan sebagai najis. Sebaliknya, apabila najis tersebut hilang dengan metode apa pun, maka hilang pula hukum najis pada air tersebut [Majallah al-Buhuts al-Islamiyah 17/30].

Kedua

Setiap benda najis yang telah mengalami peralihan sifat, maka penamaan benda tersebut dengan najis yang menjadi timbulnya hukum najis tidak dapat lagi digunakan. Benda tersebut dapat dinamai dengan nama lain yang bisa jadi halal dan suci. Dengan demikian, benda yang semula najis tidak lagi berstatus najis dan haram. Bahkan telah menjadi benda lain yang memiliki hukum baru. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu hukum terkait dengan penamaan sesuatu, dan penamaan itu mengikuti sifat-sifat yang ada pada sesuatu tersebut [al-Muhalla 1/143, Majmu’ al-Fataawa 20/522, Fath al-Baari 10/71].

-Wallahu ta’ala a’lam-

 Catatan kaki :

[1]  al-Mabsuth 1/52, Mawaahib al-Jalil 1/100, al-Majmu’ 1/143, al-Mughni 1/25. Sebagian ulama mengklaim adanya ijma’ akan hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hazm dalam Maratib al-Ijma’ hlm. 17. Namun hal tersebut disanggah oleh Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan,

الشافعي في الجديد من قوليه، وأحد القولين في مذهب أحمد: أن الجاري كالراكد في اعتبار القلتين، فينجس ما دون القلتين بوقوع النجاسة فيه، وإن لم تظهر فيه

“Dari dua pendapat asy-Syafi’i yang ada, dalam qaul jadid beliau, demikian pula dalam salah satu pendapat Ahmad dinyatakan bahwa setiap air yang mengalir memiliki status yang sama dengan air yang menggenang apabila volume keduanya di bawah dua qullah. Dengan demikian, statusnya adalah air najis apabila najis masuk ke dalam suatu air (baik menggenang maupun mengalir) yang memiliki volume di bawah dua qullah, meskipun najis tidak merubah sifat air tersebut” [Naqd Maratib al-Ijma’ hlm. 288].

[2] Mawaahib al-Jaliil 1/98, al-Muhalla 1/141, al-Mughni 1/20, al-Majmu’ 1/113, Majmu’ al-Fataawa 20/518, as-Sail al-Jarar 1/37, Subul as-Salam 1/23, Majmu’ Fataawa Ibn Baaz 10/16, asy-Syarh al-Mumti’ 1/40-41.

[3] Mawaahib al-Jaliil 1/75, al-Majmu’ 1/106, Kasy al-Qanna’ 1/26.

[4] al-Majmu’ 1/106.

[5] Seperti mesin yang mengolah feses sebagai bahan baku air minum yang disebut Janicki Omniprocessor [http://www.gatesnotes.com/Development/Omniprocessor-From-Poop-to-Potable].

[6] Hasyiyah ad-Dasuuqi 1/46-47, al-Muhalla 1/143, as-Sail al-Jaraar hlm. 36,  Ikhtiyaraat asy-Syaikh Ibn Baaz al-Fiqhiyah 2/1513-1514, asy-Syarh al-Mumti’ 1/57].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s