Definisi Kaos Kaki

Al Haththab al Maliki rahimahullah mengatakan,

“Kaos kaki (al jaurab) adalah segala sesuatu yang bentuknya seperti sepatu dan terbuat dari kain rami, katun, dan bahan yang semisal.”[1]

Syaikh Muhammad Jamaluddin al Qasimi rahimahullah mengatakan,

“Kesimpulannya, bahasa dan ‘urf menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan  kaos kaki (jaurab) adalah segala sesuatu yang dipakai di kaki dan berbahan selain kulit, baik difungsikan sebagai sandal (sepatu) atau tidak.”[2]

 

Pensyari’atan Mengusap Kaos Kaki

Ulama memang berbeda pendapat dalam hal ini. Namun, yang tepat adalah pendapat yang mensyari’atkan pengusapan kaos kaki sebagaimana sepatu (khuf) juga disyari’atkan untuk diusap. Hal ini berdasarkan beberapa hal berikut:

Hadits dari al Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dan membasuh kaos kaki serta sandal.”[3]

Hadits dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَرِيَّةً فَأَصَابَهُمُ الْبَرْدُ فَلَمَّا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوا عَلَى الْعَصَائِبِ وَالتَّسَاخِينِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan ekspedisi. Cuaca dingin menimpa mereka. Tatkala mereka dating kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memerintahkan mereka untuk mengusap ‘ashaib dan tasakhin.”[4]

Syaikh Muhammad Jamaluddin al Qasimi mengatakan,

“Al ‘Allamah Ibnu al Atsir rahimahullah dalam an Nihayah mengatakan al-‘ashaib adalah al-‘amaim (imamah) karena diikat dengannya. Sedangkan at-tasakhin merupakan segala sesuatu yang digunakan untuk menghangatkan kaki baik itu sepatu, kaos kaki, dan semisalnya. Dan kata at tasakhin tidak memiliki bentuk tunggal.”[5]

Ishaq bin Rahawaih rahimahullah mengatakan,

“Mengusap kaos kaki telah menjadi sunnah para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in setelah mereka. Tidak ada perselisihan pendapat di antara mereka mengenai hal tersebut.”[6]

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan,

Tidak nampak perbedaan yang signifikan antara khuf dengan kaos kaki yang mampu menghalangi penganalogian hukum mengusap khuf terhadap kaos kaki.”[7]

Imam Ibnu al-Mundzir rahimahullah mengatakan,

“Keabsahan mengusap kaos kaki diriwayatkan dari sembilan sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Ammar bin Yasir, Abu Mas’ud, Anas bin Malik, Ibnu ‘Umar, al Barra bin ‘Azib, Bilal, Abu Umamah, dan Sahl bin Sa’ad.”[8]

An Nawawi rahimahullah mengutip dalil dari ‘Umar dan ‘Ali radhiallahu ‘anhuma yang membolehkan mengusap kaos kaki, meskipun tipis. An Nawawi kemudian mengatakan, “Para ulama meriwayatkan pendapat yang serupa dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah), Muhammad (ibnu Sirin), Ishaq, dan Dawud (azh-Zhahiri).”[9]

Permasalahan Seputar Mengusap Kaos Kaki[10]

Mengusap Kaos Kaki yang Robek

Syaikh al Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah megisyaratkan hal ini dalam al Masail al Maridiniyyah hlm. 78.[11] Beliau mengatakan, “Mayoritas ahli fikih berpendapat bahwa mengusap kaos kaki yang sobek diperbolehkan.”

Kemudian beliau menguatkan pendapat ini dan mengatakan, “Dispensasi yang diberikan bersifat umum dan kata khuf mencakup khuf yang sobek dan yang tidak. Terlebih lagi, diantara para sahabat banyak sahabat  yang ahli fikih. Mereka pun bersafar. Apabila kondisinya demikian, maka tentulah pada khuf mereka terdapat sobekan. Dan sepatu orang yang bersafar terkadang sobek ketika menempuh perjalanan dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki ketika sedang bersafar. Dengan demikian, apabila khuf yang sobek tidak diperbolehkan, maka maksud pemberian dispensasi tidak dapat terwujud.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Permasalahan mengusap khuf merupakan salah satu permasalahan dispensasi yang  diterangkan oleh sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sunnah juga menerangkan masalah pengusapan kaos kaki, imamah, dan selainnya. Oleh karena itu, maksud syari’at untuk memberikan toleransi tidak boleh dipertentangkan dengan tindakan yang mermpersulit.”

Beliau juga mengatakan, “Boleh mengusap khuf yang sobek selama masih dikategorikan sebagai khuf dan masih bisa dipakai untuk berjalan. Hal ini merupakan salah satu dari dua pendapat qadim Asy Syafi’i dan merupakan pilihan Abu al Barakaat dan ulama selain mereka.”[12]

Tsufyan ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “Usaplah keduanya selama masih bisa terpakai di kakimu. Bukankah khuf para sahabat Muhajirin dan Anshar juga sobek.”[13]

Imam Ibnu Al Mundzir rahimahullah telah menguatkan pendapat ini. Beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengusap khuf dan mengizinkan untuk mengusapnya, maka beliau memberikan izin yang bersifat umum dan mutlak, sehingga seluruh bentuk khuf tercakup di dalam izin beliau tersebut. Dengan demikian, segala sesuatu yang dikategorikan sebagai khuf diperbolehkan untuk diusap berdasarkan teks hadits-hadits yang membolehkannya.”[14]

Batas Waktu Mengusap

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ لِلْمُسَافِرِ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَلِلْمُقِيمِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ

“Mengusap khuf bagi musafir adalah selama tiga hari tiga malam, sedangkan bagi yang mukim selama sehari semalam.”[15]

Yang menjadi pertanyaan dan perdebatan para ulama, kapan permulaan waktu pengusapan. Apakah ketika memakai khuf? Atau pada saat pertama kali berhadats (setelah memakai khuf)? Atau pada awal mengusap?

Pendapat yang tepat adalah permulaan jangka waktu mengusap terhitung ketika pertama kali mengusap. Argumen pendapat ini adalah dalil di atas dan hadits yang diriwayatkan oleh Khuzaimah bin Tsabit, dia mengatakan, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَمْسَحُ الْمُسَافِرُ عَلَى الْخُفَّيْنِ ثَلاَثَ لَيَالٍ وَالْمُقِيمُ يَوْماً وَلَيْلَةً

“Musafir mengusap khufnya dalam jangka waktu tiga malam dan bagi yang mukim selama sehari semalam.”[16]

Syaikh Ali al Halabi hafizhahullah mengatakan, “Teks hadits ini menunjukkan bahwa waktu yang dimaksud adalah waktu tatkala mengusap bukan waktu ketika berhadats. Pada permasalahan ini, hadats sama sekali tidak disebutkan dalam satu riwayat pun.”

Al ‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Tolok ukurnya bukan jumlah shalat yang dikerjakan, tetapi tolok ukurnya adalah waktu. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batasan waktu sehari semalam bagi seorang yang mukim dan tiga hari tiga malam bagi musafir. Dan sehari semalam setara dengan 24 jam, dan tiga hari tiga malam setara dengan 72 jam.

Akan tetapi kapan jangka waktu tersebut dimulai? (Jawabannya) jangka waktu pengusapan dimulai ketika pertama kali mengusap, bukan ketika memaai khuf, tidak pula ketika pertama kali berhadats setelah memakai khuf. Hal ini dikarenakan syari’at menerangkan dengan kata al mash (mengusap) dan mengusap tidak akan terjadi kecuali setelah dikerjakan.”

Beliau melanjutkan, “Dengan demikian, apabila waktu telah berlalu selama 24 jam dari awal mengusap, maka berakhirlah jangka waktu pengusapan bagi seorang yang mukim. Demikian juga, apabila waktu telah berlalu selama 72 jam, jangka waktu pengusapan bagi musafir telah berakhir.”[17]

Syarat Memakai Kaos Kaki dalam Keadaan telah Suci

Ulama sepakat bahwa suci dari hadats merupakan syarat agar seorang diperbolehkan untuk mengusap khuf dan kaos kaki. Hal ini berdasarkan hadits al Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَأَهْوَيْتُ لأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ  دَعْهُمَا ، فَإِنِّى أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ

“Saya bersama dengan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Kemudian saya bermaksud untuk menangalkan kedua khufnya. Maka beliau bersabda, “Biarkanlah, sesungguhnya saya memasukkan keduanya dalam keadaan suci.”[18]

Namun, bagaimanakah hukum seorang yang membasuh salah satu kakinya kemudian memasukkannya ke dalam kaos kaki, kemudian baru membasuh kaki yang lain dan memasukkannya ke kaos kaki, apakah dalam kondisi demikian, mengusap kaos kaki tetap diperbolehkan baginya?

Para ulama terbagi ke dalam dua pendapat, antara yang membolehkan dan yang tidak.

Asy Syairazi rahimahullah mengatakan, “Tidak diperbolehkan mengusap kaos kaki kecuali setelah seorang berthaharah secara sempurna. Seorang membasuh salah satu kaki dan memasukkannya ke dalam kaos kaki, kemudian membasuh kaki yang lain dan kemudian memasukkannya ke dalam kaos kaki yang tersisa, maka dia tidak boleh mengusap kaos kakinya (ketika berhadats dan hendak berwudhu). Dia baru boleh mengusapnya setelah dia melepas kaos kaki yang terpakai sebelum sempurna bersuci kemudian kembali mengenakannya di kaki. Dalilnya adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Biarkanlah, sebab saya memasukkan keduanya dalam keadaan suci.[19][20]

Syaikh al Islam Ibnu Taimiyah memiliki pendapat yang lain. Beliau mengatakan, “Seorang yang membasuh salah satu kakinya kemudian memasukkannya ke dalam khuf sebelum membasuh kaki yang lainnya, maka dia boleh mengusap kedua khufnya (ketika berhadats dan hendak bersuci) tanpa dipersyaratkan untuk melepas khufnya terlebih dahulu. Memakai khuf sebelum penyempurnaan thaharah sama dengan memakainya setelah penyempurnaan thaharah.”[21]

Kemudian beliau melanjutkan, “Sebagian rekan kami yang mendukung pendapat ini berargumen bahwa seorang apabila telah membasuh wajah, kedua tangan, dan mengusap kepala, kemudian membasuh salah satu kakinya, maka dengan demikian kaki yang telah dibasuhnya  tersebut telah suci. Apabila dia memasukkannya ke dalam khuf, maka dia memasukkan kaki tersebut dalam kondisi suci. Kemudian, apabila dia membasuh kaki yang lain tidak lama kemudian dan memasukkannya ke dalam khuf, maka dia juga telah memasukkan kaki tersebut ke dalam khuf dengan kondisi suci. Oleh karenanya, pada tata cara yang demikian, dia telah memasukkan kedua kakinya ke dalam khuf dengan kondisi suci. Tentunya, (ketika berhadats dan hendak bersuci) dia boleh mengusap kedua khufnya berdasarkan teks hadits, karena dia telah memasukkan keduanya dalam kondisi suci.”

Namun, untuk lebih hati-hati, seorang disarankan untuk berwudhu secara sempurna terlebih dahulu baru kemudian memakai kedua khufnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Permasalahan ini menjadi ajang perdebatan para ulama. Diantara mereka berpendapat bahwa harus menyempurnakan thaharah sebelum memakai khuf dan kaos kaki. Sebagian yang lain menyatakan bahwa boleh mengusap khuf, apabila seorang membasuh kaki kanan kemudian memakai khuf atau kaos kaki, setelah itu dia baru membasuh kaki kiri dan memakai khuf atau kaos kaki, sehingga dia tidak memasukkan kaki kanan setelah menyucikannya dan kaki kiri pun demikian. Dengan demikian, pada kondisi yang terakhir memang benar bahwa dia memasukkan kedua kakinya dalam keadaan suci. Akan tetapi, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh ad Daruquthni serta al Hakim dan beliau mengabsahkannya, yang menyatakan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang di antara kalian telah berwudhu dan memakai kedua khufnya…” (al Hadits). Kata “apabila dia telah berwudhu” dapat dipakai sebagai argumen untuk menguatkan pendapat yang pertama, karena seorang yang belum membasuh kaki kiri tidak dapat dikatakan sebagai orang yang telah berwudhu, dengan demikian pendapat yang pertama lebih patut untuk dikedepankan.”[22]

Melepas Kaos Kaki setelah Berwudhu, Apakah Membatalkan Wudhu?

Terdapat perbedaan pendapat yang masyhur dalam permasalahan ini yang dapat dibagi ke dalam tiga pendapat, yaitu:

  1. Pendapat yang menyatakan pada kondisi demikian wudhu seorang tidaklah batal dan tidak ada kewajiban apa pun baginya.
  2. Pendapat yang menyatakan batalnya wudhu orang tersebut.
  3. Pendapat yang menyatakan dia wajib untuk membasuh kedua kakinya ketika melepas kaos kaki agar wudhunya tetap terjaga.

Al Imam Ibnu al Mundzir mengatakan setelah memaparkan berbagai pendapat dalam permasalahan ini, “Sebagian ulama yang berpandangan seorang tidak wajib mengulangi wudhu (ketika membuka khuf atau kaos kaki) dan dia juga tidak wajib membasuh kedua kaki (agar wudhunya tetap terjaga) berargumen bahwa orang tersebut dan khuf yang dipakainya telah berada dalam kondisi suci yang sempurna berdasarkan hadits yang menyatakan hal tersebut. Maka, tidak boleh menyatakan wudhu orang tersebut batal apabila dia melepas khufnya kecuali berlandaskan argumen (hujjah) yang berasal dari hadits atau ijma’, dan orang yang berpendapat wajib mengulangi wudhu atau membasuh kedua kaki ketika melepas khuf tidaklah memiliki hujjah.”[23][24]

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Wudhu seorang yang mengusap khuf dan ‘imamah tidaklah batal dikarenakan melepas keduanya. Dia juga tidak wajib untuk mengusap (kembali) kepalanya, tidak pula wajib untuk membasuh kedua kakinya. Pendapat ini merupakan madzhab al Hasan al Bashri, sebagaimana hukum menghilangkan rambut yang telah diusap, dan juga madzhab imam Ahmad dan pendapat mayoritas ulama berdasarkan pendapat yang kuat.”[25]

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan lemahnya pendapat yang menyatakan batalnya wudhu ketika melepas khuf, “Hal itu dikarenakan pendapat yang menyatakan batalnya wudhu ketika jangka waktu pengusapan telah habis merupakan pendapat yang tidak berdasarkan dalil, karena ketika jangka waktu pengusapan telah habis hal itu berarti seorang tidak diperbolehkan lagi untuk mengusap khuf, bukan berarti ketika jangka waktu telah habis thaharah (status suci) orang tersebut batal. Dengan demikian, apabila objek yang dibatasi waktu dalam permasalahan ini adalah tindakan mengusapnya, bukan status suci, maka tidak ada dalil yang membatalkan status suci seorang yang mengusap khuf ketika jangka waktu pengusapan telah berakhir. Oleh karena itu, kita katakan, orang ini telah berwudhu dengan cara yang shahih dengan berbagai konsekuensi yang terkandung dalam dalil syar’i yang valid. Di satu sisi, tidak terdapat dalil yang menyatakan batalnya wudhu orang tersebut ketika jangka waktu pengusapan berakhir. Dengan demikian, status suci orang itu tetap ada hingga dia melakukan pembatal wudhu yang ditetapkan di dalam al-Quran, hadits, atau ijma’.”[26]

 

Apakah Berakhirnya Batas Waktu Pengusapan Membatalkan Wudhu?

Dalam permasalahan ini terdapat beberapa pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa berakhirnya batas waktu pengusapan membatalkan wudhu seorang. Ulama yang lain mengatakan untuk menjaga kesuciannya dia wajib mencuci kedua kakinya. Sebagian yang lain berpendapat bahwa dia tetap suci dan tidak ada kewajiban apa pun yang harus ditunaikan untuk menjaga kesuciannya. Imam an Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat yang terakhir ini.[27]

Imam Ibnu Hazm mengatakan, “Inilah pendapat yang harus dipilih, karena tidak terdapat riwayat (hadits) yang menyatakan bahwa status suci itu batal pada seluruh anggota wudhu atau sebagiannya dengan berakhirnya jangka waktu pengusapan.[28] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya melarang seorang untuk mengusap (khuf atau kaos kakinya) melebihi tiga hari bagi musafir atau selama sehari semalam bagi seorang yang mukim. Barangsiapa yang berpendapat dengan pendapat yang lain, maka sungguh dia telah menyusupkan pemahaman yang tidak berdasar pada hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga telah merekayasa sebuah perkataan yang tidak diucapkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan hal tersebut karena bimbang, maka tidak ada dosa baginya. Namun, jika dia sengaja melakukannya setelah ditegakkan hujjah pada dirinya, maka sungguh dia telah mengerjakan dosa besar.

Status suci tidaklah batal kecuali dengan hadats. Orang ini telah suci dengan benar dan tidak berhadats, dengan demikian statusnya suci, seorang yang suci dapat mendirikan shalat selama dia tidak berhadats. Dan orang ini yang telah berakhir jangka waktu pengusapannya dan tidak berhadats, tidak terdapat dalil yang menyatakan status sucinya batal, baik pada sebagian anggota wudhunya maupun seluruhnya. Sehingga dia tetap berstatus suci sampai dia berhadats. Ketika dia berhadats, maka barulah dia melepas khufnya dan segala yang melekat di kakinya (missal kaos kaki) dan berwudhu, kemudian dia dapat mulai mengusap (khuf dan kaos kaki) dengan batas waktu pengusapan yang baru. Demikianlah seterusnya.”[29]

Memakai Kaos Kaki Dobel

Seorang yang memakai kaos kaki dobel diperbolehkan untuk mengusap selama dia memakai keduanya ketika kondisi dirinya suci. Jika dia memakai kaos kaki yang kedua dalam keadaan berhadats, maka dia tidak boleh mengusapnya.[30] Apabila dia melepas kaos kaki yang kedua –yang dipakainya ketika kondisi dirinya suci-, maka dia tetap diperbolehkan untuk mengusap kaos kaki yang pertama.[31]

 

Apakah Niat harus Mendahului Pengusapan?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Niat tidaklah diwajibkan dalam hal ini, karena konsekuensi hukum (dalam hal mengusap kaos kaki dan semisalnya) dikaitkan semata-mata dengan keberadaan perbuatan tersebut, sehingga tidak membutuhkan niat. Hal ini sebagaimana memakai baju. Seorang tidak dipersyaratkan untuk berniat menutup aurat daam shalat ketika memakai baju. Demikian pula, seorang tidak dipersyaratkan ketika memakai khuf untuk berniat bahwa dia akan mengusap keduanya. Tidakpula dia dipersyaratkan untuk berniat menentukan batas waktu pengusapan khuf di dalam hati. Seorang yang mengusap khuf, maka secara otomatis dia memiliki tenggat waktu pengusapan sebanyak tiga hari tiga malam, apabila dia seorang musafir, baik dia berniat menentukan batas waktu pengusapan atau tidak. Apabila dia seorang yang mukim, maka secara otomatis batas waktu pengusapan untuknya adalah sehari semalam, baik dia berniat menentukan batas waktu pengusapan atau tidak.”[32]

-Waffaqaniyallahu wa iyyakum.-

Sumber:

  1. Al Mash ‘ala al Jaurabain disertai Tamam an Nush fi Ahkam al Mash.
  2. Ahkam asy Syitta fi as Sunnah al Muthahharah.

Catatan kaki:

[1] Al Mash ‘alal Jaurabain; Asy Syamilah.

[2] Al Mash ‘alal Jaurabain; Asy Syamilah.

[3] HR. Abu Dawud: 159, Tirmidzi: 99.

[4] HR. Abu Dawud: 146.

[5] Al Mash ‘alal Jaurabain; Asy Syamilah.

[6] Al Muhalla 2/118.

[7] Tahdzib as Sunan 1/122.

[8] Al Ausath 1/462.

[9]  Al Majmu’ (1/500).

[10]  Syaikh ‘Ali al Halabi mengatakan, “Segala pendapat yang terpilih dalam permasalahan mengusap kaos kaki tentunya lebih berhak diberlakukan dalam permasalahan mengusap khuf (sepatu).” (Ahkam asy Syitta hlm. 23).

Patut kita tekankan pula bahwa hukum kaos kaki dianalogikan dengan hukum khuf. Lihat kembali perkataan Ibnu al Qayyim yang telah lalu.

[11]  Dikutip dari Ahkam asy Syitta.

[12] Al Ikhtiyaraat al Fiqhiyyah hlm. 13.

[13] HR. Abdur Razzaq: 753 dalam al Mushannaf. Diabsahkan oleh Syaikh al Albani dalam Tamam an Nush fi Ahkam al  Mash hlm. 84.

[14] Al Ausath 1/450.

[15] HR. Abu Dawud: 157.

[16] HR. Ahmad: 22489; Asy Syamilah.

[17] Majmu al Fatawa karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 7/161-162.

[18] HR. Bukhari: 182, Muslim: 274.

[19] HR. Bukhari: 182, Muslim: 274.

[20] HR. Bukhari: 182, Muslim: 274.

[21] Al Ikhtiyaraat hlm. 14.

[22] Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibn ‘Utsaimin 11/125; asy Syamilah.

[23] Al Ausath 1/457-460.

[24] Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh al-Albani dalam Tamam an-Nush hlm. 87

[25] Al Fatawa al Kubra hlm. 5/303; Asy Syamilah.

[26] Majmu’ al Fatawa 7/162.

[27] Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab 1/527.

[28] Lihat perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin sebelumnya.

[29] Al Muhalla 2/94.

[30] Syaikh ‘Ali al Halabi hafizhahullah mengatakan, “Sebagian ulama membolehkan hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam al Majmu’ 1/650 karya an Nawawi, dan pendapat tersebut tidak bertopang pada dalil!” (Ahkam asy Syitta fi as Sunnah al Muthahharah hlm. 37).

[31] Lihat Majmu al Fatawa karya Syaikh al ‘Utsaimin 7/193.

[32] Majmu’ al-Fatawa 7/165.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s