Terkait penghasilan seorang pegawai/karyawan, maka terdapat dua kondisi, yaitu :

Pertama

Penghasilan seorang pegawai digunakan seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan sehingga tidak memiliki simpanan/tabungan. Dalam kondisi ini zakat tidaklah diwajibkan;

Kedua

Sebagian penghasilan dapat disisihkan/ditabung dan mencapai nishab, di mana terkadang bertambah ataupun berkurang. Dalam kondisi ini terdapat dua cara untuk mengeluarkan zakat dari penghasilannya tersebut.

Cara pertama
Membuat jurnal keuangan pribadi yang memuat catatan pemasukan dari gaji yang diperoleh sejak pertama kali diterima. Zakat dikeluarkan untuk setiap nominal (yang tersisa setelah dikurangi pengeluaran) setiap kali tercapai haul (yaitu 1 tahun dari tanggal penerimaan gaji).
Cara ini agak sulit dan membutuhkan ketelitian karena harta yang bersumber dari gaji terkadang mengalami penambahan dan pengurangan sehingga terdapat kesulitan untuk menghitung bagian gaji yang  haulnya telah terpenuhi.

Cara kedua 

Cara ini yang terbaik. Apabila umumnya simpanan/tabungan memenuhi nishab di sepanjang tahun, maka lebih utama awal haul ditentukan sejak simpanan pertama kali yang telah memenuhi nishab. Zakat dikeluarkan dari seluruh tabungan yang ada ketika telah terpenuhi haul (yaitu 1 tahun).
Dengan demikian tabungan yang haulnya telah terpenuhi ditunaikan zakatnya tepat waktu. Sedangkan tabungan yang haulnya belum terpenuhi, penunaian zakatnya dimajukan dan hal ini tidak mengapa dilakukan. Cara ini yang paling mudah untuk dilakukan. Lihat Fatawa al-Lajnah 9/280.

Contoh:

Seorang yang menerima gaji bulanan pada bulan Muharram dan ditabung sebesar 1.000 riyal. Apabila telah datang bulan Muharram berikutnya, maka dia menghitung seluruh tabungan yang dimiliki dan mengeluarkan zakat dari total tabungan tersebut.

Uang kertas seperti riyal, dollar dan yang lain wajib dikeluarkan zakatnya sesuai dengan ketentuan zakat pada emas dan perak karena dianalogikan dengan keduanya. Dengan demikian ketentuan zakat pada uang kertas serupa dengan ketentuan pada emas dan perak, sedangkan ketentuan kadar nishab yang dipilih adalah yang paling menguntungkan bagi fakir miskin, artinya dipilih nominal yang lebih kecil antara nishab emas (85 gram) dan nishab perak (595 gram). Kondisi yang ada saat ini nishab perak jika dikonversikan ke dalam nominal uang kertas memiliki nilai yang lebih jauh kecil daripada nishab emas. Oleh karena itu nishab uang kertas dihitung berdasarkan nishab perak.

Apabila nominal uang kertas yang dimiliki telah mencapai 595 gram perak maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Apabila kurang dari itu, maka tidak wajib untuk dikeluarkan zakat. Demikian pendapat Ibn Utsaimin, Ibn Baaz, dan al-Lajnah ad-Daaimah 9/257.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s