إِنَّ مَنْ أَحَبَّ إنْسَانًا لِكَوْنِهِ يُعْطِيه فَمَا أَحَبّ إلَّا الْعَطَاءَ وَمَنْ قَالَ : إنَّهُ يُحِبُّ مَنْ يُعْطِيه لِلَّهِ فَهَذَا كَذِبٌ وَمُحَالٌ وَزُورٌ مِنْ الْقَوْلِ وَكَذَلِكَ مَنْ أَحَبَّ إنْسَانًا لِكَوْنِهِ يَنْصُرُهُ إنَّمَا أَحَبّ النَّصْرَ لَا النَّاصِرَ

“Orang yang mencintai manusia karena dia telah memberikan sesuatu kepadanya, sesungguhnya dia tidak cinta kecuali hanya kepada pemberian tersebut. Orang yang berkata, “Sesungguhnya dia cinta orang yang memberinya karena Allah”, maka ucapan ini merupakan dusta dan omong kosong. Demikian pula, orang yang mencintai manusia karena ia telah menolongnya, sesungguhnya dia senang pada pertolongannya bukan si penolong.

وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ اتِّبَاعِ مَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ فَإِنَّهُ لَمْ يُحِبَّ فِي الْحَقِيقَةِ إلَّا مَا يَصِلُ إلَيْهِ مِنْ جَلْبِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ فَهُوَ إنَّمَا أَحَبَّ تِلْكَ الْمَنْفَعَةَ وَدَفْعَ الْمَضَرَّةِ وَإِنَّمَا أَحَبّ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إلَى مَحْبُوبِهِ وَلَيْسَ هَذَا حُبًّا لِلَّهِ وَلَا لِذَاتِ الْمَحْبُوبِ

Seluruh hal ini merupakan salah satu bentuk tindakan mengikuti apa yang sejalan dengan hawa nafsu manusia, karena pada hakekatnya dia tidak cinta kecuali terhadap keuntungan yang diperoleh, baik itu perolehan manfaat atau terhindar dari suatu bahaya. Dia hanya cinta pada manfaat yang dia peroleh dan bahaya yang terhindarkan dari dirinya. Dia mencintai manusia karena statusnya sebagai perantara untuk memperoleh apa yang disukainya. Hal ini bukanlah kecintaan karena Allah, tidakpula kepada orang yang dia akui telah dicintainya.

. وَعَلَى هَذَا تَجْرِي عَامَّةُ مَحَبَّةِ الْخَلْقِ بَعْضِهِمْ مَعَ بَعْضٍ وَهَذَا لَا يُثَابُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يَنْفَعُهُمْ بَلْ رُبَّمَا أَدَّى ذَلِكَ إلَى النِّفَاقِ وَالْمُدَاهَنَةِ فَكَانُوا فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْأَخِلَّاءِ الَّذِينَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ عَدُوٌّ إلَّا الْمُتَّقِينَ . وَإِنَّمَا يَنْفَعُهُمْ فِي الْآخِرَةِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَلِلَّهِ وَحْدَهُ

Di atas hal inilah, umumnya kecintaan makhluk kepada makhluk lainnya berjalan. Kecintaan ini, pemiliknya tidak akan memperoleh pahala di akhirat, tidak pula bermanfaat bagi mereka. Bahkan, terkadang kecintaan ini justru mengantarkan pemiliknya kepada kemunafikan dan mudahanah[1] (mengorbankan agama demi kemaslahatan duniawi). Dengan demikian, mereka adalah golongan yang menjadi teman akrab di dunia, namun malah menjadi musuh satu sama lain di akhirat kelak, kecuali bagi mereka yang bertakwa. Sesungguhnya yang hanya mampu memberikan manfaat kepada mereka di akhirat adalah kecintaan di jalan Allah dan karena Allah”[2]

-Ibnu Taimiyah-

Catatan kaki:

[1] Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari 10/454 mengatakan,

المداهنة ترك الدين لصلاح الدنيا

”Al Mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan duniawi.”

Di tempat lain beliau mengatakan,

فسرها العلماء بأنها معاشرة الفاسق وإظهار الرضا بما هو فيه من غير إنكار عليه

”Para ulama mendefinisikan mudahanah seperti bergaul dengan orang fasik dengan menampakkan keridlaan terhadap kefasikannya tanpa adanya pengingkaran” (Fathul Baari 10/528).

[2] Al Fatawa 1/609-610.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s