Definisi Air Mutlak

Air mutlak (الماء المطلق) dapat diartikan sebagai,

الْمَاءُ الْبَاقِي عَلَى خِلْقَتِهِ، أَوْ هُوَ الَّذِي لَمْ يُخَالِطْهُ مَا يَصِيرُ بِهِ مُقَيَّدًا

“Air yang tidak mengalami perubahan karakteristik, atau tidak bercampur dengan zat lain yang akan membutuhkan pembatasan dalam penamaannya sebagai air” [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 29/96].

seluruh ulama sepakat air mutlak ini sifatnya suci dan dapat digunakan untuk menyucikan dari hadats dan najis, sehingga karena sifatnya tersebut air ini lazim juga disebut dengan air thahur. al-Qurhubi mengatakan,

أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ لُغَةً وَشَرِيعَةً عَلَى أَنَّ وَصْفَ طَهُورٍ يختص بالماء ولا يَتَعَدَّى إِلَى سَائِرِ الْمَائِعَاتِ وَهِيَ طَاهِرَةٌ، فَكَانَ اقْتِصَارُهُمْ بِذَلِكَ عَلَى الْمَاءِ أَدَلَّ دَلِيلٍ عَلَى أَنَّ الطَّهُورَ هُوَ الْمُطَهِّرُ

“Ditinjau dari segi bahasa dan syari’at, seluruh umat telah sepakat bahwa sifat thahur khusus digunakan untuk air dan tidak berlaku pada benda cair lain meski berstatus suci. Dengan demikian, tindakan ulama yang hanya membatasi sifat tersebut untuk air merupakan dalil terkuat bahwa sifat thahur itu identik dengan sifat muthahhir (mampu menyucikan dari hadats dan najis)” [al-Jaami’ li Ahkaam al-Quran 13/41].

Jenis-jenis Air Mutlak

Pertama : air hujan

Allah ta’ala berfirman,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنِ السَّمَاء مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ

“..dan Allah menurunkan kepada kalian air dari langit untuk digunakan menyucikan dirimu” [al-Anfaal : 11].

Kedua : air laut

Terkait status air laut, terdapat perbedaan di kalangan sahabat, apakah air laut dapat menyucikan atau tidak. Ibnu Rusyd berkata,

وَأَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ جَمِيعَ أَنْوَاعِ الْمِيَاهِ طَاهِرَةٌ فِي نَفْسِهَا مُطَهِّرَةٌ لِغَيْرِهَا، إِلَّا مَاءَ الْبَحْرِ، فَإِنَّ فِيهِ خِلَافًا فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ شَاذًّا

“Ulama sepakat bahwa seluruh jenis air bersifat suci (thahir) dan dapat menyucikan (muthahhir) benda lain, kecuali air laut. Namun, terdapat khilaf yang syaadz di kalangan sahabat” [Bidaayah al-Mujtahid 1/29].

Pendapat akan kemakruhan bersuci menggunakan air laut diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhum[1]. Ibnu Hazm berkata,

رُوِّينَا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الْوُضُوءَ لِلصَّلَاةِ وَالْغُسْلَ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ لَا يَجُوزُ وَلَا يُجْزِئُ

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar[2], Abdullah bin Amr[3], dan Abu Hurairah[4] bahwa berwudhu dengan air laut tidak diperkenankan dan tidak sah” [al-Muhalla 1/210].

Namun, pendapat mereka tidak tepat karena bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

سأل رجلٌ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم فقال: يا رسولَ الله، إنَّا نركبُ البحرَ، ونحمِل معنا القليلَ من الماء، فإنْ توضأْنا به عطِشْنا، أفنتوضَّأُ من ماء البحر؟ فقال رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلَّم: هو الطَّهورُ ماؤُه الحِلُّ ميتتُه

“Seorang pria pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, apabila kami berwudlu menggunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, apakah kami boleh berwudhu menggunakan air laut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Laut itu airnya thahur  dan bangkai yang terdapat di dalamnya halal” [Shahih. HR. Abu Dawud : 83, at-Tirmidzi : 69, an-Nasaai : 332, Ibnu Majah : 314].

Ketiga : air sungai

Allah ta’ala berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمُ الأَنْهَارَ

“Dan Dia telah menundukkan pula bagimu sungai-sungai” [Ibrahim :32].

Ayat ini digunakan sebagai dalil untuk menunjukkan kesucian air sungai karena tidak terkontaminasi dengan najis [Hasyiyah Ibn Abidin 1/180].

Keempat : air sumur

Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ  أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةٍ- وَهِيَ بِئْرُ يُطْرَحُ فِيْهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلاَبِ وَالنَّتْنُ- فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  الْمَاءُ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Rasulullah pernah ditanya, “Bolehkah kami berwudhu menggunakan air yang berasal dari sumur Budha’ah? -yaitu sumur yang di dalamnya terdapat kain darah haidh, kotoran, dan daging anjing- Rasulullah menjawab, “Air itu suci, tidak dinajiskan oleh sesuatu pun” [Shahih. Ahmad : 11275, Abu Dawud : 66, at-Tirmidzi : 66].

Kelima : air salju dan es yang turun dari langit [5]

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

كان رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم يسكُت بين التَّكبير وبين القراءة إسكاتة – قال: أحسبه قال: هُنيَّةً -، فقلت: بأبي وأمِّي يا رسولَ الله، إسكاتك بين التَّكبير والقراءة ما تقول؟ قال: أقول: اللهمَّ باعدْ بيني وبين خطاياي كما باعدتَ بين المشرِقِ والمغرب، اللهم نقِّني من الخطايا كما يُنقَّى الثوبُ الأبيض من الدَّنس، اللهمَّ اغسِلْ خطاياي بالماء والثَّلج والبَرَد

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiam ketika shalat, di antara takbir dan bacaan al-Quran.” -Abu Zur’ah berkata,” Aku mengira Abu Hurairah berkata, “Diam sebentar,”- lalu aku (Abu Hurairah) bertanya, “Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku! Anda tadi diam di antara takbir dan bacaan. Apa yang anda baca?” Beliau menjawab, “Aku membaca,

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

(Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan es)” [Shahih. HR. Al-Bukhari : 744 dan Muslim : 598].

Keenam : air yang bersumber dari mata air (air bawah tanah)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ الَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا ۚإِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, kemudian diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi, kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” [az-Zumar : 21].

Ayat ini digunakan sebaga dalil untuk menunjukkan kesucian air bawah tanah karena tidak terkontaminasi dengan najis [Hasyiyah Ibn Abidin 1/179-180].

Ketujuh : air zamzam

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,

أنَّ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم دعا بسَجْلٍ من ماء زمزم، فشرِب منه وتوضَّأ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta dibawakan segantang air zamzam. Beliau kemudian meminumnya dan berwudhu dengannya” [Shahih. HR. Ahmad : 564].

Kedelapan : air musakhkhan (yang dipanaskan)
Terdapat beberapa jenis air musakhkhan, yaitu :

Air musakhkhan bi asy-syams (air musyammas), yaitu air yang bersuhu panas karena terkena sinar matahari. Pendapat terkuat boleh dan tidak dimakruhkan menggunakan air musyammas untuk bersuci[6].

an-Nawawi rahimahullah mengatakan,

أَنَّ الْمُشَمَّسَ لَا أَصْلَ لِكَرَاهَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ عن الاطباء فيه شئ فَالصَّوَابُ الْجَزْمُ بِأَنَّهُ لَا كَرَاهَةَ فِيهِ وَهَذَا هُوَ الْوَجْهُ الَّذِي حَكَاهُ الْمُصَنِّفُ وَضَعَّفَهُ وَكَذَا ضَعَّفَهُ غَيْرُهُ  وَلَيْسَ بِضَعِيفٍ بَلْ هُوَ الصَّوَابُ الْمُوَافِقُ لِلدَّلِيلِ وَلِنَصِّ الشَّافِعِيِّ فَإِنَّهُ قَالَ فِي الْأُمِّ لَا أَكْرَهُ الْمُشَمَّسَ إلَّا أَنْ يُكْرَهَ مِنْ جِهَةِ الطِّبِّ كَذَا رَأَيْتُهُ فِي الْأُمِّ

“Pernyataan bahwa air musyammas makruh tidak memiliki landasan dan tidak ada keterangan dari ahli medis bahwa bersuci menggunakan air musyammas memiliki dampak pada kesehatan[7]. Dengan demikian, pendapat yang tepat adalah pendapat yang menyatakan dengan pasti bahwa tidaklah makruh untuk bersuci dengan air musyammas. Inilah pendapat yang dipaparkan dan dilemahkan oleh penulis dan ulama selain beliau, padahal pendapat tersebut bukanlah pendapat yang lemah bahkan pendapat yang tepat dan sesuai dengan dalil dan perkataan asy-Syafi’i di mana beliau mengatakan dalam al-Umm, “Saya tidak memakruhkan bersuci dengan air musyammas kecuali hal tersebut berdampak pada kesehatan.” Demikianlah pernyataan beliau yang saya baca dalam al-Umm” [al-Majmu’ 1/87].

Alasan lainnya adalah :

  • Air musyammas masih berada dalam cakupan penamaan air, sehingga dalil-dalil yang menyatakan kesucian air turut mencakup air musyammas kecuali terdapat dalil lain yang mengecualikan air musyammas dari cakupan tersebut;
  • Tidak terdapat dalil yang menyatakan kemakruhan air musyammas. Atsar yang menyatakan bersuci dengan air musyammas dapat menyebabkan lepra merupakan atsar yang sanadnya lemah;
  • Pihak yang memakruhkan pun berselisih pendapat dalam beberapa hal yaitu, apakah kemakruhan air musyammas ditinjau dari segi syar’i atau medis. Mereka juga berbeda pendapat dalam menentukan batasan-batasan air musyammas apabila terkait dengan suhu di suatu tempat dan perihal adanya pensyaratan niat ketika memanaskan air tersebut di terik matahari, serta berselisih pendapat apakah status makruh itu hilang apabila air musyammas didinginkan. Semua hal ini menunjukkan bahwa tidak ada landasan yang tetap dan pasti untuk menopang pendapat mereka akan kemakruhan air musyammas.

Air musakhkhan bi ath-thaahir, yaitu air yang dipanaskan dengan sesuatu yang suci seperti air yang direbus dengan menggunakan kayu bakar, bahan bakar minyak, dan yang sejenis. Hukumnya boleh digunakan untuk bersuci berdasarkan atsar dari beberapa sahabat di antaranya adalah atsar dengan sanad yang shahih dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, di mana beliau berwudhu dan mandi dengan menggunakan air yang bersuhu panas [Shahih. HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf 1/175].

Air musakhkhan bi an-najis, yaitu air yang direbus dengan menggunakan bahan bakar yang terbuat dari sesuatu yang najis seperti bahan bakar biogas yang berasal dari kotoran manusia.

Hukumnya boleh dipergunakan selama tidak tercampur dengan najis sehingga karakteristiknya berubah dan mempengaruhi kesuciannya. Dalilnya adalah ijma sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan,

وَأَمَّا الْمُسْخَنُ بِالنَّجَاسَةِ فَلَيْسَ بِنَجِسِ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ إذَا لَمْ يَحْصُلْ لَهُ مَا يُنَجِّسُهُ

“Air yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar yang najis, maka status air tersebut tidaklah menjadi najis berdasarkan kesepakatan para imam selama tidak tercampur dengan sesuatu yang menajisi” [Majmu’ al-Fatawa 21/69].

-Wallahu ta’ala a’lam-

Tangerang, 11 Muharram 1437 H.

Catatan kaki :

[1] Hal ini disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi sebagai catatan untuk hadits ke-69, al-Majmu’ 1/136, al-Mughni 1/22, dan al-Muhalla 1/210.

[2] Shahih mauquf. HR. Ibnu Abi Syaibah : 1393.

[3] Shahih mauquf. HR. Ibnu Abi Syaibah : 1394.

[4] Dha’if. HR. Ibnu Abi Syaibah : 1395.

[5] Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukum bersuci dengan menggunakan salju atau es yang masih dalam keadaan solid [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 39/356].

[6] Pendapat ini merupakan pendapat Hanabilah (asy-Syarh al-Kabiir 1/9); Zhahiriyah (al-Muhalla 1/210); salah satu pendapat di kalangan Malikiyah (adz-Dzakhirah 1/170); salah satu pendapat yang dikemukakan kalangan asy-Syafi’iyah (al-Umm 1/16).

[7] Terdapat atsar yang yang diriwayatkan dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu bahwa beliau tidak menyukai apabila seorang mandi dengan air musyammas karena menurut beliau hal tersebut akan menyebabkan penyakit kusta. Namun, sanad atsar tersebut lemah sebagaimana keterangan Syaikh al-Albani dalam Irwa al-Ghalil 1/53.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s