Berkenalan dengan Dakwah Salafiyah

oleh : Samir al-Mabhuh

Mukaddimah

Sesungguhnya dakwah Salafiyyah berlandaskan Al Qur-an dan Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat ini (salafush shalih). Para da’i yang menyerukan dakwah ini mengambil ilmu mereka, dari para imam dakwah Salafiyyah di setiap zaman. Mereka belajar di bawah bimbingan para ulama rabbaniyyin. Dan setiap dakwah yang tidak berlandaskan asas ini merupakan dakwah yang menyimpang dari kebenaran sesuai dengan kadar penyimpangan dakwah tersebut.

Oleh karena itu, saya berkeinginan untuk turut ambil bagian dalam menjelaskan bahwa dakwah Salafiyyah merupakan dakwah yang benar serta menerangkan beberapa perkara yang sulit dipahami oleh sebagian saudaraku yang mulia serta saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang terlintas di benak para pemuda.

Penjelasan ini saya susun dengan ringkas dan barangsiapa yang membutuhkan keterangan tambahan di setiap permasalahan yang saya kemukakan, maka sebaiknya ia merujuk pada sumber aslinya sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang ditopang oleh berbagai dalil yang berasal dari Al Qur-an dan As Sunnah dengan diperkuat oleh perkataan para imam salaf.

Akhir kata, kami memuji Allah ta’ala karena telah menjadikan kami termasuk di antara da’i Salafiyyah. Kami memohon kepada-Nya agar menyempurnakan nikmat dan karunia-Nya kepada kami, serta memberikan rezeki kepada kami berupa konsistensi di atas sunnah dan mengamalkannya. Kami juga memohon agar mewafatkan kami di atas sunnah, bukan sebagai orang-orang yang mengganti syari’at dan bukan pula orang yang mengada-adakan sesuatu dalam perkara agama yang tidak dituntunkan dalam syari’at.

و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين

Ditulis oleh Samir Al Mabhuh

Definisi Salafiyyah

Secara etimologi Ibnu Manzhur mengatakan,

قال ابن منظور “والسلف من تقدمك من آبائك وذوى قرابتك الذين هم فوقك فى السن والفضل ومنه قول الرسول صلى الله عليه وسلم لابنته فاطمة الزهراء رضى الله عنها “فإنه نعم السلف أنا لك” رواه مسلم.

“Salaf adalah orang yang telah mendahuluimu seperti ayahmu dan berbagai orang yang memiliki jalur kekerabatan denganmu, yaitu mereka yang berumur lebih tua dan lebih utama daripada engkau. Diantara (bentuk penggunaan istilah salaf ditinjau dari segi etimologi-pent) adalah sabda rasulullah saw kepada putri beliau, Fathimah Az Zahra radliallahu ‘anha, “Sesungguhnya salaf terbaik bagimu adalah aku” (HR. Muslim nomor 2450).

Sedangkan pengertian dalam terminologi syari’at dijelaskan oleh Al Qalsyani,

“Salafush shalih adalah generasi kurun pertama yang kokoh dalam keilmuan, mereka adalah generasi yang diberi petunjuk untuk meniti ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penjaga sunnah beliau. Allah ta’ala telah memilih mereka untuk menemani nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Allah ta’ala telah menerima mereka sebagai imam bagi umat ini. Mereka telah mencurahkan segala upaya dalam berjihad di jalan Allah, menasehati umat dan memberi manfaat kepada mereka serta mengerahkan jiwa mereka demi menggapai keridlaan Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه

”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada.” (At Taubah: 100).

  

Afiliasi kepada Madzhab Salaf

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدى تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور”

”Wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk setelahku. Pegang teguhlah ajarannya dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah berbagai perkara yang diada-adakan dalam agama.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam Al Irwa nomor 2455).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

لا عيب على من أظهر مذهب السلف، وانتسب إليه، واعتزى إليه، بل يجب قبول ذلك منه باتفاق، فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقاً”

“Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf. Bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan, karena madzhab salaf adalah kebenaran”. (Majmu’ul Fatawa IV:149).

Salafiyyah dan Para Ulama

Ibnul Qayyim mengatakan,

“هم فقهاء الإسلام، ومن دارت الفتيا على أقوالهم بين الأنام خصوا باستنباط الأحكام، وعنوا بضبط قواعد الحلال من الحرام”

”Ulama adalah para fuqaha (yang mengerti agama) islam, perkataan mereka menjadi fatwa yang dijadikan rujukan oleh manusia. Mereka memiliki spesialisasi dalam penentuan berbagai hukum dan kodifikasi kaidah halal dan haram.” (I’laamul Muwaqqi’in 1/9).

Salah satu cara untuk mengetahui keilmuan seorang adalah dengan melihat rekomendasi para guru mereka kepadanya, karena para ulama kaum muslimin terdahulu dan yang mengikuti mereka dengan baik senantiasa mewariskan berbagai ilmu kepada murid mereka yang akan mengganti kedudukan mereka serta menjadi pemimpin dan penunjuk jalan bagi umat kelak.

Para murid tersebut tidak akan tampil di depan umat hingga memperoleh pengakuan dan izin dari guru mereka untuk memberi fatwa dan mengajar, sehingga mereka inilah yang pantas diambil ilmunya. Menuntut ilmu dengan membaca kitab (tanpa bimbingan seorang guru) tidaklah berguna, bahkan mencukupkan diri mengambil ilmu dari kitab merupakan salah satu bencana, demikian pula dengan mengadakan kelompok belajar/diskusi diantara para pemuda tanpa adanya bimbingan guru.

Salafiyyun mencintai ulama mereka, memuliakan, menghargai serta membela kehormatan mereka. Salafiyyun berbaik sangka kepada mereka, mengambil ilmu dari mereka serta menyebarluaskan berbagai kebaikan mereka. Perkara yang patut dicamkan adalah mereka tetaplah seorang manusia yang tidak ma’shum. Mereka tidak terlepas dari kesalahan dan lupa, namun hal itu tidaklah mengurangi kedudukan mereka dan salafiyyun pun tetap mengambil ilmu dari mereka.

Salafiyyah dan Fatwa

Salafiyyun meneladani para sahabat radliallahu ‘anhum dalam berfatwa. Mereka menolak dan menawarkan kepada para sahabat lainnya jika dimintai fatwa. Hal ini mereka lakukan karena mereka mengetahui bahaya berbicara mengenai agama Allah tanpa dilandasi ilmu. Mereka sangat berhati-hati dari hal tersebut karena lebih mementingkan keselamatan dan takut berkata-kata mengenai agama Allah tanpa ilmu.

Salafiyyah dan Ijtihad

Ijtihad adalah salah satu nikmat kepada kaum muslimin. Ijtihad merupakan salah satu bentuk kemudahan bagi mereka dalam menjelaskan hukum syar’i berbagai permasalahan kontemporer yang tidak memiliki nash (dalil tegas) di dalam Al Qur-an dan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dalam permasalahan ini, seorang ’alim menetapkan suatu hukum syar’i dengan berpijak pada ijtihadnya.

Pintu ijtihad akan senantiasa ada bagi individu yang dimudahkan oleh Allah (memiliki kapabilitas dari segi keilmuan, pent-) sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها

”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan seorang yang akan memperbaharui agama umat ini (dari berbagai penyimpangan) di setiap penghujung seratus tahun.” (HR. Abu Dawud nomor 4291, Syaikh Al Albani menilai shahih hadits ini dalam Ash Shahihah nomor 599).

Salafiyyah dan Taklid

Sesungguhnya madzhab atau perkataan salah seorang imam bukanlah agama yang wajib ditaati oleh umat ini. Umat ini tidak memiliki madzhab yang wajib diikuti kecuali madzhab yang berpijak pada dalil Al Qur-an, As Sunnah dan ijma’ yang terpercaya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

لا يجوز الفتوى بالتقليد لأنه ليس بعلم، والفتوى بغير علم حرام، ولا خلاف بين الناس أن التقليد ليس بعلم، وأن المقلد لا يطلق عليه اسم عالم

”Tidak boleh berfatwa dilandasi dengan taklid, karena taklid bukanlah ilmu, sedangkan berfatwa tanpa ilmu adalah hal yang haram. Tidak ada perselisihan bahwa fatwa yang dilandasi taklid bukanlah ilmu dan seorang muqallid tidak dapat disebut sebagai seorang ’alim.” (I’lamul Muwaqqi’in 1/45).

  

Salafiyyah dan Akhlak

Salafiyyun adalah manusia yang memiliki akhlak terbaik, sangat lembut,toleran dan tawadlu’. Mereka adalah manusia yang paling bersemangat menyeru manusia untuk berakhlak mulia dan melakukan berbagai amal yang terpuji seperti berwajah ceria, menyebarkan salam, memberi makan kepada orang yang membutuhkan, menahan amarah, tidak menyakiti orang lain, mendahulukan dan berusaha membantu kebutuhan orang lain, mempergunakan kedudukan yang dimiliki untuk memberikan syafa’at kepada orang lain, berlemah lembut kepada fakir miskin, berkasih sayang kepada para kerabat dan tetangga, mudah dimintai pertolongan, berbuat baik dan menolong kepada pihak yang meminta bantuan, serta berbuat baik dan sopan kepada kedua orang tua dan para ulama. Allah ta’ala

 وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al Qalam: 4).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أثقل شئ فى الميزان الخلق الحسن

”Amal yang memiliki timbangan terberat di Mizan adalah akhlak yang baik.” (HR. Ibnu Hibban nomor 481 dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam Ash Shahihah nomor 876).

Salafiyyah dan Berbagai Pemberitaan

Salafiyyun dalam menyikapi berbagai pemberitaan bercermin pada firman Allah ta’ala,

)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Al Hujuuraat: 6).

Hal ini berbeda dengan orang-orang yang gegabah dalam memvonis dan serampangan dalam menyematkan tuduhan kepada berbagai individu yang memiliki keutamaan. Akhirnya mereka memfasikkan, membid’ahkan, dan mengkafirkan dengan berpijak pada tuduhan dan praduga yang tidak dilandasi ilmu dan bukti yang valid.

 

Salafiyyah dan Takfir

Salafiyyun tidak mengingkari takfir secara mutlak dan mereka tidak pula mengkafirkan setiap pelaku dosa. Mereka tidak mengatakan, ”Sesungguhnya takfir mu’ayyan (pengkafiran individu tertentu) tidak mungkin dilakukan”. Mereka juga tidak mengkafirkan secara global tanpa pemenuhan berbagai syarat pengkafiran dan lenyapnya berbagai faktor yang dapat menghalangi pengkafiran individu tertentu.

Mereka tidak bertawaqquf (berdiam diri) dalam menetapkan keislaman seorang yang secara lahiriah memegang teguh ajaran Islam. Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan kekufuran dan berbagai syarat pengkafiran telah terpenuhi, begitupula tidak terdapat faktor yang menghalangi pengkafiran orang tersebut, maka mereka (salafiyyun) tidaklah takut dan lembek untuk mengkafirkannya.

Salafiyyah dan Para Penguasa

Salafiyyun berpegang teguh pada kebenaran dan berinteraksi dengan para penguasa sesuai tuntunan yang tercantum dalam berbagai nash syari’at.

Mereka menaati para penguasa dalam perkara yang mereka suka maupun tidak, di saat sulit maupun lapang, dan dalam keadaan yang tak disukai selama mereka tidak diperintahkan mengerjakan suatu kemaksiatan. Hal ini dikarenakan tidak wajib menaati seorang makhluk dalam mengerjakan kemaksiatan kepada Allah ta’ala dan ketaatan itu hanya berlaku dalam perkara yang ma’ruf.

(Mereka melaksanakan hal di atas) sebagaimana mereka juga senantiasa menasehati para penguasa serta saling membantu dalam berbagai urusan yang berorientasi pada kebaikan dan ketakwaan, meski para penguasa tersebut adalah penguasa yang zhalim.

Oleh karena itu, salafiyyun berpendapat akan bolehnya mendirikan shalat Jum’at, jama’ah dan ’ied bersama mereka. Salafiyyun juga berpendapat kewajiban jihad akan senantiasa berlangsung hingga hari kiamat, baik di bawah pimpinan penguasa yang baik maupun yang buruk.

Salafiyyun tidak akan melepaskan ketaatan mereka terhadap penguasa, tidak pula berselisih mengenai suatu perkara dengan pakarnya sebagaimana mereka menolak untuk menentang para penguasa yang zhalim-terlebih lagi para penguasa yang adil-. Berbagai prinsip di atas tidak berlaku apabila mereka melihat kekufuran yang nyata pada diri penguasa tersebut dan terdapat bukti yang valid dan didukung oleh ketentuan Allah, selain itu mereka memiliki kekuatan dan penentangan terhadap penguasa tersebut tidak akan menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Mereka merupakan manusia yang paling zuhud dalam melontarkan pujian palsu dan sanjungan mematikan yang dapat menumbuhkan perasaan ujub pada diri seorang. Mereka menolak sikap mudahanah[1] dalam agama dan mereka tidak khawatir akan celaan para pencela dalam menegakkan agama Allah ta’ala.

Salafiyyah serta Wala dan Bara

Salafiyyun menerapkan loyalitas (wala) berdasarkan ajaran agama, pembelaan yang mereka lakukan bukan untuk diri mereka sendiri serta kemarahan mereka tidak dilatarbelakangi oleh faktor-faktor pribadi. Akan tetapi loyalitas mereka hanya diperuntukkan kepada Allah, rasul-Nya dan kaum mukminin. Begitupula disloyalitas yang mereka lakukan dilandasi dengan niat tulus kepada Alah ta’ala. Sikap mereka konsisten, tidak akan berganti dan berubah. Allah ta’ala berfirman,

)إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا(

”Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman” (Al Maaidah: 55).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وليس لأحد أن ينصب للأمة شخصاً يدعو إلى طريقته، ويوالي ويعادي عليها، غير النبى صلى الله عليه وسلم، ولا ينصب لهم كلاما يوالي عليه ويعادي، غير كلام الله ورسوله، وما اجتمعت عليه الأمة، بل هذا من فعل أهل البدع الذين ينصبون لها شخصاً أو كلاماً يفرقون به بين الأمة، يوالون به على ذلك الكلام أو تلك النسبة ويعادون

”Seorang tidak boleh menyeru umat untuk mengikuti suatu ajaran individu tertentu di luar ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menerapkan loyalitas dan disloyalitas di atas ajaran tersebut. Begitupula tidak boleh mengajak umat untuk menaati suatu perkataan seorang yang kemudian dijadikan sebagai tolok ukur loyalitas dan disloyalitas selain firman Allah, sabda rasul-Nya dan ijma’ para sahabat. Tindakan seperti ini merupakan perbuatan ahli bid’ah yang memposisikan tokoh tertentu atau perkataannya untuk ditaati oleh umat dengan tujuan mengkotak-kotakkan umat serta menerapkan loyalitas dan disloyalitas di atas perkataan tokoh tersebut atau penisbatan kepadanya.” (Majmu’ul Fatawa 20/164).

Kaum muslimin tidak membutuhkan sebuah ketentuan tertulis, perjanjian yang distempel, tidak pula manhaj yang berpijak pada suatu landasan selain Al Qur-an dan As Sunnah.

Suatu serikat (perkumpulan), muassasah, jum’iyyah (yayasan) atau lajnah (komite) dimana manusia mesti menunggu sebuah izin untuk memasukinya (bergabung di dalamnya) atau seorang harus memiliki kesesuaian dengan mereka dalam artian menjadi pengabdi bagi lembaga tersebut, maka hal ini bukanlah suatu amalan yang islami. Kaum muslimin tidak butuh kartu anggota, penisbatan atau loyalitas kepada berbagai nama tertentu, apalagi simbol dan papan nama.

Tidak boleh seorang muslim menerapkan sikap loyalitas dan disloyalitas berdasarkan kelompok atau golongan, atau memandang bahwa ajaran kelompoknya merupakan kebenaran sedangkan yang menyelisihinya merupakan kebatilan.

Salafiyyah dan Bid’ah

Salafiyyun adalah manusia yang paling selamat dari bid’ah, begitupula kesyirikan. Adapun berbagai maksiat dan dosa besar terkadang hal ini menimpa sebagian salafiyyin, akan tetapi hal tersebut lebih sedikit terjadi di kalangan mereka jika dibandingkan dengan yang lain.

Terkadang anda menjumpai seorang yang keliru dalam suatu permasalahan atau melakukan kemaksiatan, namun status orang tersebut bukanlah seorang mubtadi, namun pelaku kemaksiatan atau seorang yang fasik. Apabila terdapat seorang yang melakukan kebid’ahan atau ia tidak mengetahui bid’ah sehingga melakukannya dikarenakan kebodohan atau takwil, maka ia telah terjerumus ke dalam kebid’ahan namun kita tidak menghukuminya sebagai seorang mubtadi’

Sedangkan seorang yang membuat bid’ah dalam agama Allah yang dilatarbelakangi oleh kesengajaan, dan hujjah telah ditegakkan terhadap dirinya begitupula berbagai syubhat telah dihilangkan dari dirinya namun ia bersikukuh untuk tetap melakukan kebid’ahan, maka orang ini merupakan ahli bid’ah.

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan,

إذا أخطأ المخطئ عن تأويل، لأن التأويل شبهة تدرأ عنه الحكم بأنه مبتدع، ولأنه ظن أن تأويله سائغ، أو قلد من ظن أنه على حق، فهذا يقال فى حقه أنه أخطأ، أو خالف، لا يقال: إنه مبتدع

”Jika seorang keliru karena menakwil (maka ia tidak dihukumi sebagai mubtadi’), sebab takwil merupakan salah satu syubhat yang menghalangi penetapan hukum bahwa dirinya adalah seorang mubtadi’, selain itu ia beranggapan bahwa takwil yang ia lakukan diperbolehkan atau ia taklid kepada seorang yang ia anggap berada di atas kebenaran. Maka status orang ini adalah orang yang keliru atau orang yang menyelisihi kebenaran, dan ia tidak disebut sebagai seorang mubtadi.”

Hajr Mubtadi Tidak Diperbolehkan kecuali untuk Dua Alasan Berikut, yaitu:

  1. Mendidik seorang mubtadi dan memperingatkan orang yang semisal dari perbuatannya.
  2. Adanya kekhawatiran akan timbulnya bahaya dan fitnah karena bermajelis dengannya

Syakhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

و إن كان لا المهجور ولا غيره يرتدع بذلك، بل يزيد الشر، والهاجر ضعيف بحيث يكون مفسدة ذلك راجحة على مصلحته، لم يشرع الهجر، بل يكون التأليف لبعض الناس أنفع من الهجر، ولهذا كان النبى صلى الله عليه وسلم يتألف قوماً ويهجر آخرين

”Apabila orang yang dihajr dan selainnya (yaitu orang awam yang semisal dengannya-pent) tidak terhalangi dengan hajr yang dilakukan, bahkan keburukan malah bertambah dan pihak yang menghajr berada dalam posisi yang lemah, yaitu ditinjau dari mafsadat yang ditimbulkan oleh hajr tersebut ternyata lebih banyak daripada maslahatnya, maka hajr dalam kondisi demikian tidak disyari’atkan. Bahkan ta’lif bagi sebagian orang, lebih bermanfaat ketimbang hajr. Oleh karena itu, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlemah lembut dengan mengambil hati sebagian kalangan dan menghajr kalangan yang lain.” (Majmu’ul Fatawa 28/206).

 

Salafiyyah dan Hizbiyyah

Salafiyyah memandang bahwa hizbiyyah (fanatik golongan sehingga mengesampingkan kebenaran) merupakan suatu penyakit yang akut, keburukan yang tersebar dan bahaya yang dahsyat bagi pelakunya baik di dunia dan akhirat kelak. Hizbiyyah memecah belah suatu masyarakat yang dahulu bersatu, bahkan suatu keluarga yang satu turut terpecah gara-gara hizbiyyah. Perbuatan tersebut merupakan tradisi kaum musyrikin. Allah ta’ala telah memperingatkan akan hal tersebut dalam firman-Nya,

) وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ  الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ(

”Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Ar Ruum: 31-32).

)إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ(

”Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” (Al An’aam: 159).

Berbagai firqoh dan kelompok yang ada di medan dakwah pada saat ini tidak pernah mendapat legitimasi oleh agama ini, bahkan Islam melarang dengan keras pembentukan berbagai firqoh. Hal itu salah satu tipu muslihat yang dilancarkan oleh syaithan yang berbentuk jin dan manusia terhadap umat ini. Prinsip dasar yang diakui Islam dalam hal ini satu jama’ah dan umat yang bersatu di atas akidah yang satu dan di atas manhaj Islam. Allah ta’ala berifiman,

) إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ(

”Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan aku adalah Rabb-mu, maka sembahlah aku” (Al Anbiyaa: 92).

)وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا(

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (Ali Imran: 103).

Salafiyyah dan Amal Sirri (Gerakan Rahasia)

Dakwah salafiyyah tidak mengenal dakwah sirriyah, bahkan dakwah salafiyyah adalah dakwah yang jelas dan terang di permukaan bumi. Dakwah salafiyyah tidak pula mengenal gerakan bawah tanah yang tersembunyi karena dakwah salafiyyah merupakan dakwah yang diperuntukkan bagi segenap manusia agar mereka mau berjalan di atas Al Qur-an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Alamat dakwah salafiyyah adalah di masjid-masjid, berbagai pelajaran diadakan di berbagai masjid, di hadapan manusia dan diperuntukkan bagi mereka seluruhnya. Kita berada di dalam suatu masyarakat Islam. Meski terdapat sebagian kemungkaran dan kemaksiatan, hal itu tidak mengeluarkan masyarakat tersebut dari status Islam sehingga kita kembali ke fase Mekkah.

Tanzhim sirri (organisasi rahasia) merupakan faktor penyebab berbagai bencana menimpa kita, memperluas kerenggangan antara para penguasa dengan para da’i dan orang-orang yang giat mengadakan perbaikan, sehingga memberi kesempatan kepada orang-orang yang menyimpang (seperti kalangan sekuler) untuk lebih mendekatkan diri kepada kelompok yang berkedudukan agar bisa mencapai maksud dan tujuan mereka. Bahkan hal inilah yang menyebabkan para penguasa dan orang-orang terpercaya mengarahkan pandangan kepada para da’i dengan pandangan  takut dan waspada akan terjadinya suatu bentuk perubahan.

Dari Abdullah bin ’Umar radliallahu ‘anhu, beliau berkata,

”Seorang lelaki mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ”Wahai rasulullah, nasehatilah aku! Maka nabi berkata,

اعبد الله ولا تشرك به شيئاً، وأقم الصلاة…وعليك بالعلانية وإياك والسر

”Sembahlah Allah dan janganlah engkau menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Tegakkanlah shalat,… engkau wajib terang-terangan dalam masalah agamamu dan berhati-hatilah terhadap perilaku rahasia dalam beragama” (HR. Ibnu Abi ’Ashim dalam As Sunnah dengan sanad yang jayyid. Al Albani dalam Zhilalul Jannah nomor 1070 mengatakan sanad hadits ini jayyid).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan,

إذا رأيت قوماً يتناجون فى دينهم بشيء دون العامة فاعلم أنهم على تأسيس ضلالة

”Jika kamu melihat suatu kaum yang saling mengadakan ‘pembicaraan rahasia’ dalam agama mereka, tanpa menceritakannya kepada orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka berada dalam satu dasar kesesatan.”  (Az Zuhd halaman 353).

 

Salafiyyah dan Bai’at

Terdapat berbagai ayat dan hadits yang membicarakan tentang bai’at, akan tetapi yang disepakati bahwasanya bai’at yang diisyaratkan dalam berbagai hadits tersebut adalah bai’at yang dilakukan oleh seluruh umat Islam dan hal itu hanya diperuntukkan bagi seorang imam yang muslim serta memiliki kekuasaan yang kokoh di suatu wilayah yang menegakkan khilafah islamiyyah dengan berpijak pada manhaj nubuwwah yang mubarakah. Hal ini dapat terlaksana dengan sempurna setelah meminta pendapat dari mayoritas kaum muslimin dan pilihan ahli halli wal aqdi.

Sedangkan berbagai bai’at, perjanjian dan ketentuan mengikat yang diambil dari para pemuda merupakan bentuk bai’at yang tidak disyari’atkan.

Al Imam Qurthubi mengatakan,

فأما إقامة إمامين أو ثلاثة فى عصر واحد وبلد واحد فلا يجوز إجماعاً

“Pembai’atan dua orang imam atau tiga orang imam di waktu dan wilayah yang sama tidak diperbolehkan secara ijma.” (Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an 1/302).

Realitanya setiap jama’ah yang ada pada saat ini memiliki imam, maka betapa banyak jama’ah saat ini dan betapa banyak para imam yang dibai’at?!

 

Salafiyyah dan Amal Jama’i

Salafiyyun menyerukan amal jama’i (kerjasama) yang sesuai dengan konteks syar’i, sedangkan amal jama’i yang bersifat hizbiyyah maka hal ini tertolak. Konteks syar’i bagi amal jama’i adalah ta’awun (saling menolong) dalam berbagai aktivitas yang berorientasi pada kebaikan dan ketakwaan.

Tidak mengapa jika disana terdapat jama’ah tertentu yang secara khusus bergerak di bidang tauhid, sedangkan yang lain bergerak di bidang hadits, fiqh atau tafsir dan lain sebagainya. Seluruhnya berdakwah berdasarkan spesialisasinya masing-masing akan tetapi dipersyaratkan berbagai jama’ah tersebut berada di bawah kendali seorang imam jika ada, dan mereka berada di atas akidah dan manhaj yang benar, yaitu akidah dan manhaj salafush shalih. Rukun ini merupakan salah satu ketentuan pokok dalam melaksanakan amal jama’i dan mewujudkan keberhasilan dakwah. Dalam kondisi apapun rukun tersebut harus diperhatikan dan dilaksanakan sebab rukun tersebut tidak mungkin ditinggalkan.

 

Salafiyyah dan Jihad

Salah satu prinsip dasar dakwah salafiyyah adalah kewajiban jihad akan senantiasa berlangsung hingga hari kiamat bersama para penguasa, baik mereka penguasa yang baik atau buruk. Oleh karena itu, jiwa mereka sangat rindu untuk turut ke medan jihad, hati mereka sangat ingin memperoleh syahid di jalan Allah. Karena mereka tahu akan keutamaan jihad, sebab tegaknya jihad akan menjadikan seluruh penghambaan hanya diperuntukkan kepada Allah semata. Dengan jihad berbagai kezhaliman akan musnah, kebenaran akan nampak, kerusakan akan lenyap dan jihad merupakan sebab kokohnya kekuasaan di muka bumi, menjaga kemuliaan kaum muslimin sekaligus sarana untuk menghinakan dan memerangi musuh-musuh Allah, mencegah berbagai gangguan yang akan mereka timbulkan dan sebagai sarana untuk menguji keimanan kaum mukminin dan membinasakan kaum kuffar. Akan tetapi hal ini harus dibarengi dengan menunaikan sebab, memperhatikan syarat serta mendalami fiqih jihad, bukan didorong oleh perasaan dan semangat semata yang justru akan menghantarkan kaum muslimin ke jurang kebinasaan.

Ibnul Qayyim mengatakan,

تا لله ما عدا عليك العدو إلا بعد أن تولى عنك الولي، فلا تظن أن الشيطان غلب، ولكن الحافظ أعرض

“Demi Allah, musuh tidak akan menzhalimimu kecuali Allah yang melindungimu telah berpaling darimu. Janganlah anda mengira bahwa syaithan telah menang, namun Zat yang dulu menjagamu kini telah berpaling.” (Al Fawaa-id halaman 68).

 

Salafiyyah dan Rekomendasi Syahid terhadap Individu Tertentu

Dari ’Umar radliallahu ‘anhu, beliau sedang berkhutbah dan mengatakan,

تقولون فى مغازيكم فلان شهيد، و مات فلان شهيداً، ولعله قد يكون أوقر راحلته، ألا تقولوا ذلكم، ولكن قولوا كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:من مات فى سبيل الله أو قتل فهو شهيد

”Kalian mengatakan bahwa fulan telah syahid dalam peperangan yang kalian ikuti, kalian juga mengatakan fulan wafat dalam keadaan syahid, padahal bisa jadi ia berbuat curang ketika berjihad. Janganlah kalian mengucapkan hal itu, namun katakanlah sebagaimana sabda rasulullah, ”Barangsiapa yang wafat atau terbunuh ketika berjihad di jalan Allah, maka dia syahid” (HR. Ahmad nomor 285 dan 340, dihasankan oleh Ibnu Hajar).

Al ’Allamah Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan,

:”لا يجوز لنا أن نشهد لشخص بعينه أنه شهيد، حتى لو قتل مظلوماً، أو قتل وهو يدافع عن الحق، فإنه لا يجوز أن نقول: فلان شهيد، لأن قولك عن فلان شهيد يعتبر شهادة سوف تسأل عنها يوم القيامة، سوف يقال لك: هل عندك علم أنه قتل شهيداً، ولهذا قال النبى صلى الله عليه وسلم:”ما من مكلوم يكلم فى سبيل الله – والله أعلم بمن يكلم فى سبيله – إلا جاء يوم القيامة وكلمه يثعب دماً،اللون  لون الدم، والريح ريح المسك” رواه البخاري فتأمل قوله:”والله أعلم بمن يكلم فى سبيله” قال ابن حجر – رحمه الله:”لأن الشهادة بالشئ لا تكون إلا عن علم به، وشرط كون الإنسان شهيداً: أن، يقاتل لتكون كلمة الله هى العليا، وهى نية باطنة لا سبيل إلى العلم بها” فالأصل فى ذلك الاستثناء، أن تقول إن شاء الله يكون شهيداً، أو نحسبه عند الله شهيدا

 ”Kita tidak boleh menetapkan secara spesifik bahwa seorang telah syahid, walaupun ia terbunuh karena dizhalimi, atau ia terbunuh ketika sedang membela kebenaran. Anda tidak boleh mengatakan, ”Fulan telah syahid” karena ucapan anda tersebut termasuk penetapan kesyahidan yang akan ditanya pada hari kiamat. Anda akan ditanya, ”Apakah anda memiliki ilmu bahwa si fulan terbunuh dalam keadaan syahid?” Oleh karena itu, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ”Setiap orang yang terluka di jalan Allah-dan Allah lebih mengetahui siapa saja yang terluka di jalan-Nya- akan datang di hari kiamat kelak dengan luka yang mengucurkan darah berwarna merah dan memiliki bau misk.” (HR. Bukhari). Coba anda renungkan sabda nabi, ”Dan Allah lebih mengetahui siapa saja yang terluka di jalan-Nya.” Ibnu Hajar mengatakan, ”Hal ini dikarenakan syahadah (persaksian) terhadap sesuatu tidak mungkin terwujud kecuali didukung oleh adanya pengetahuan terhadap sesuatu tersebut. Dan syarat individu berstatuskan sebagai syahid adalah ia berperang dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah, dan hal ini merupakan niat yang terdapat di dalam hati yang tidak mungkin diketahui oleh orang lain.” Oleh karenanya hukum asal dalam permasalahan ini adalah anda mengucapkan, ”Insya Allah si fulan syahid” atau ucapan, ”Kami berharap ia memperoleh syahid di sisi Allah.”

 

Salafiyyah dan Politik

Salafiyyun mendukung politik yang sejalan dengan syari’at yang berfokus pada penguasaan dan pengetahuan terhadap berbagai hukum pemerintahan, berbagai hak rakyat dan penguasa serta pelurusan terhadap berbagai perkara dengan menggunakan timbangan syar’i. Sehingga, politik syar’i merupakan upaya menjaga berbagai urusan umat Islam dengan melaksanakan berbagai metode yang tidak menyelisihi Al Qur-an dan As Sunnah.

Perkara terpenting dan memiliki prioritas utama adalah permasalahan tauhid dan iman, karena akidah merupakan kewajiban yang pertama dan terakhir yang harus dilakasanakan seorang. Inilah politik islami yang murni dan berfungsi menjaga berbagai urusan umat rabbaniyah.

Sedangkan politik kontemporer yang dipraktekkan pada saat ini hanya berfokus pada upaya untuk menipu, mencaci maki, berkelompok-kelompok, berkutat dalam perdebatan, kedustaan dan menyelisihi perjanjian. Semua hal itu merupakan perbuatan yang teramat dekat dengan kemunafikan, karena hal itu mengikis akidah, membunuh keimanan, melepas ikatan wala’ (loyalitas) dan bara’ (disloyalitas) serta menipu kaum muslimin. Politik yang demikianlah yang diingkari oleh salafiyyun dan mereka memperingatkan umat dari hal tersebut serta kita berlepas diri dari segala jeratan dan keburukannya karena politik yang demikian merupakan sarang tipu daya dan landasan bagi mereka yang menyembah Allah namun tidak disertai dengan penuh keyakinan.

 

Salafiyyah, Demonstrasi, dan Tindakan Anarkis

Demonstrasi bukanlah termasuk perkara agama kita, namun hal tersebut merupakan produk impor dari negeri-negeri kafir. Begitupula berbagai tindakan anarkis seperti pembakaran ban-ban mobil yang dapat menyebabkan penyakit dan perusakan berbagai yayasan pendidikan dan ekonomi serta penghancuran berbagai sarana umum.

Demonstrasi merupakan inti awal penentangan terhadap para penguasa yang berujung pada penumpahan darah, pelanggaran kehormatan, penganiayaan terhadap sunnah dan ahlinya serta peniadaan aktivitas keilmuan di lingkungan masjid, sehingga tindakan demonstrasi ini menjadi sarang bagi para da’i demonstrasi dan berbagai tindakan anarkis. Tindakan ini bersumber dari gerakan politik dan yang patut kita sadari disana terdapat berbagai pihak yang tersembunyi, baik berasal dari internal umat Islam atau eksternal yang berupaya mempropagandakan tindakan ini untuk merusak masyarakat Islam.

Salafiyyun mengingkari berbagai manhaj/metode kudeta revolusioner yang mengorbankan nyawa  kaum muslimin dan menghambat perkembangan dakwah Islam.  Meskipun demikian, salafiyyun tidaklah mengingkari (kebaikan) berbagai pihak yang berusaha untuk mengadakan perubahan, namun salafiyyun mengingkari berbagai metode yang mereka tempuh dalam mengadakan perubahan yang justru merugikan seperti metode demonstrasi dan tindakan anarkis yang kerap dilakukan.

 

Salafiyyah dan Berhukum dengan Hukum Positif

Berhukum dengan syari’at Allah merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim sebagaimana hal ini wajib dilaksanakan oleh seorang hakim muslim yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengatur urusan umat Islam. Ia harus menghukumi berbagai urusan mereka dengan syari’at Allah, baik yang kecil maupun yang besar.

Barangsiapa yang beranggapan bahwa ayat hukum hanya khusus diperuntukkan bagi para penguasa semata, maka ia telah keliru karena ayat tersebut bersifat global yang hukumnya berlaku bagi para penguasa dan selain mereka.

Mereka yang senantiasa berupaya untuk menegakkan hukum Allah di tampuk tertingi kekuasaan sebelum menegakkan hal tersebut di level bawah (rakyat)-dan tentu hal ini ditempuh dengan jalur kekerasan dan senjata- hanya akan menipu diri mereka sendiri dan manusia karena yang menjadi tujuan agama ini (kewajiban pokok agama) adalah konsistensi manusia di atas akidah yang benar, kemudian setelah itu barulah berbagai kewajiban pelengkap diwujudkan, diantaranya adalah kewajiban berhukum dengan syari’at Allah.

Hal yang sangat menyedihkan adalah disana terdapat para pemuda belia yang serampangan dalam mengkafirkan para penguasa tanpa meminta keterangan dari hakim mengenai perincian para ulama akan hal ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

والإنسان متى حلل الحرام المجمع عليه، أو حرم الحلال المجمع عليه، أو بدل الشرع المجمع عليه، كان كافراً مرتداً، باتفاق الفقهاء، وفى مثل هذا نزل قوله على أحد القولين.  ) وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ([المائدة:44] أى هو المستحل للحكم بغير ما أنزل الله.

“Seseorang tatkala menghalalkan sesuatu yang telah disepakati keharamannya (oleh syari’at-pent) atau mengharamkan sesuatu yang telah disepakati kehalalannya atau mengganti salah satu syari’at yang telah disepakati maka dia kafir, murtad dengan kesepakatan para ulama’. Dan yang senada dengan hal ini adalah firman Allah ta’ala, menurut salah satu dari dua penafsiran

﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ [المائدة:44]

”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Maksudnya adalah orang yang beranggapan bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah” (Majmu’ul Fatawa 3/267).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

والصحيح أن الحكم بغير ما أنزل الله يتناول الكفرين: الأصغر والأكبر بحسب حال الحاكم، فإنه إن اعتقد وجوب الحكم بما أنزل الله فى هذه الواقعة، وعدل عنه عصياناً مع اعترافه بأنه مستحق للعقوبة، فهذا كفر أصغر، وإن اعتقد أنه غير واجب، وأنه مخير فيه، مع تيقنه أنه حكم الله، فهذا كفر أكبر، وان جهله أو أخطأه فهذا مخطئ له حكم المخطئيين”.

“Pendapat yang benar, perbuatan berhukum dengan selain yang Allah turunkan mencakup dua jenis kekufuran, yaitu kufur asghar dan kufur akbar tergantung kondisi yang ada pada seorang hakim.

Apabila dia meyakini wajibnya untuk berhukum dengan yang Allah turunkan dalam suatu perkara, kemudian dia berpaling karena maksiat sedangkan dia mengetahui dan meyakini bahwa dia berhak untuk diadzab atas perbuatannya tersebut, maka perbuatan ini termasuk kufur asghar.

Apabila dia meyakini bahwa berhukum dengan yang Allah turunkan tidak wajib baginya dan dia bebas memilih serta meyakini bahwa yang demikian itu adalah hukum Allah maka perbuatan ini merupakan kufur akbar. Akan tetapi apabila dia tidak tahu hukum Allah dan salah dalam menghukumi, maka dia seorang yang mukhthi’ (berbuat salah dengan tidak sengaja-pent) dan berlaku untuknya ketentuan untuk orang yang salah tanpa disengaja.” (Madaarijus Salikin 1/336).

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Makassar, 20 Jumadits Tsani 1429 H.

Catatan kaki:

[1] Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari 10/454 mengatakan,

المداهنة ترك الدين لصلاح الدنيا

”Al Mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan duniawi.”

Di tempat lain beliau mengatakan,

فسرها العلماء بأنها معاشرة الفاسق وإظهار الرضا بما هو فيه من غير إنكار عليه

”Para ulama mendefinisikan mudahanah seperti bergaul dengan orang fasik dengan menampakkan keridlaan terhadap kefasikannya tanpa adanya pengingkaran” (Fathul Baari 10/528).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s