Akidah Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam Takfir Mu’ayyan

oleh : Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin

 

Salah satu persoalan yang telah dianggap sebagai kebenaran dalam akidah ahlu as-sunnah wa al-jama’ah adalah pembedaan antara vonis kafir atau syirik terhadap keyakinan, perkataan dan perbuatan dengan vonis spesifik terhadap seorang yang memiliki keyakinan yang kufur, melakukan perbuatan kufur, atau mengatakan perkataan kufur.

Penilaian bahwa suatu perkataan atau perbuatan  merupakan kekufuran terkait dengan penjelasan hukum syar’i secara umum (mutlak). Sedangkan penilaian secara spesifik terhadap seorang yang berkeyakinan, berkata, atau berbuat kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, seperti mengingkari perkara yang telah berketetapan jelas dalam agama (al-ma’lum minad-din bidh-dharurah), mencela Allah, atau mencela agama Islam, wajib memastikan kondisi orang yang akan divonis. Hal ini dilakukan dengan mengetahui apakah berbagai syarat untuk memvonis kafir orang tersebut telah terpenuhi dan juga memastikan ketiadaan berbagai faktor penghambat dalam vonis tersebut. Apabila syarat pengkafiran terpenuhi dan berbagai faktor penghambat tidak ada, barulah orang tersebut dapat divonis kafir. Sebaliknya, apabila terdapat satu syarat atau lebih yang tidak terpenuhi, atau ditemukan satu faktor penghambat atau lebih, maka orang tersebut tidak dapat divonis kafir[1].

 Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

أَنَّ التَّكْفِيرَ لَهُ شُرُوطٌ وَمَوَانِعُ قَدْ تَنْتَقِي فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ وَأَنَّ تَكْفِيرَ الْمُطْلَقِ لَا يَسْتَلْزِمُ تَكْفِيرَ الْمُعَيَّنِ إلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ يُبَيِّنُ هَذَا أَنَّ الْإِمَامَ أَحْمَد وَعَامَّةَ الْأَئِمَّةِ: الَّذِينَ أَطْلَقُوا هَذِهِ العمومات لَمْ يُكَفِّرُوا أَكْثَرَ مَنْ تَكَلَّمَ بِهَذَا الْكَلَامِ بِعَيْنِهِ. فَإِنَّ الْإِمَامَ أَحْمَد – مَثَلًا – قَدْ بَاشَرَ ” الْجَهْمِيَّة ” الَّذِينَ دَعَوْهُ إلَى خَلْقِ الْقُرْآنِ وَنَفْيِ الصِّفَاتِ وَامْتَحَنُوهُ وَسَائِر عُلَمَاءِ وَقْتِهِ وَفَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الَّذِينَ لَمْ يُوَافِقُوهُمْ عَلَى التَّجَهُّمِ بِالضَّرْبِ وَالْحَبْسِ وَالْقَتْلِ وَالْعَزْلِ عَنْ الْوِلَايَاتِ وَقَطْعِ الْأَرْزَاقِ وَرَدِّ الشَّهَادَةِ وَتَرْكِ تَخْلِيصِهِمْ مِنْ أَيْدِي الْعَدُوِّ بِحَيْثُ كَانَ كَثِيرٌ مِنْ أُولِي الْأَمْرِ إذْ ذَاكَ مِنْ الْجَهْمِيَّة مِنْ الْوُلَاةِ وَالْقُضَاةِ وَغَيْرِهِمْ: يُكَفِّرُونَ كُلَّ مَنْ لَمْ يَكُنْ جهميا مُوَافِقًا لَهُمْ عَلَى نَفْيِ الصِّفَاتِ مِثْلِ الْقَوْلِ بِخَلْقِ الْقُرْآنِ وَيَحْكُمُونَ فِيهِ بِحُكْمِهِمْ فِي الْكَافِرِ…

“Pengkafiran (takfir) memiliki beberapa syarat dan faktor penghambat yang terkadang tidak terpenuhi dalam kaitannya dengan individu secara khusus. Pengkafiran secara mutlak tidaklah melazimkan pengkafiran individu secara spesifik (tunjuk hidung), kecuali setelah terpenuhi berbagai persyaratan dan tidak ditemukan satu pun faktor penghambat yang menghalangi pengkafiran terhadap orang tersebut. Hal ini telah ditunjukkan oleh imam Ahmad dan para imam yang lain, di mana mereka menggunakan berbagai bentuk ungkapan yang secara umum menunjukkan pengkafiran, -seperti ungkapan “Seorang yang mengatakan atau melakukan… sungguh telah kafir”-, namun mereka tetap tidak mengkafirkan mayoritas orang yang mengatakan perkataan (kekufuran) secara spesifik.

Imam Ahmad sungguh tetap berinteraksi dengan kalangan Jahmiyah yang telah menyeru diri beliau untuk menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, menafikan sifat-sifat Allah, menguji diri beliau dan para ulama di masa itu, serta memberikan ujian kepada kaum mukminin yang tidak menyetujui akidah tahajjum mereka dengan melakukan pemukulan, penahanan, pembunuhan, pengasingan, pemutusan subsidi, penolakan atas persaksian yang diberikan, dan peniadaan upaya pembebasan apabila mereka ditawan musuh. Semua hal itu dilakukan mengingat mayoritas penguasa pada waktu itu, baik itu pejabat pemerintahan, qadhi, dan selain mereka, merupakan pemeluk akidah Jahmiyah yang mengkafirkan setiap orang yang tidak berakidah Jahmiyah dan menyepakati mereka dalam menolak sifat-sifat Allah, berpendapat bahwa al-Quran adalah makhluk, sehingga mereka pun menyamakan status hukum kaum mukminin tersebut sebagaimana orang-orang kafir…

Ibnu Taimiyah melanjutkan,

ثُمَّ إنَّ الْإِمَامَ أَحْمَد دَعَا لِلْخَلِيفَةِ وَغَيْرِهِ. مِمَّنْ ضَرَبَهُ وَحَبَسَهُ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ وحللهم مِمَّا فَعَلُوهُ بِهِ مِنْ الظُّلْمِ وَالدُّعَاءِ إلَى الْقَوْلِ الَّذِي هُوَ كُفْرٌ وَلَوْ كَانُوا مُرْتَدِّينَ عَنْ الْإِسْلَامِ لَمْ يَجُزْ الِاسْتِغْفَارُ لَهُمْ؛ فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ لِلْكَفَّارِ لَا يَجُوزُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَهَذِهِ الْأَقْوَالُ وَالْأَعْمَالُ مِنْهُ وَمِنْ غَيْرِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ صَرِيحَةٌ فِي أَنَّهُمْ لَمْ يُكَفِّرُوا الْمُعَيَّنِينَ مِنْ الْجَهْمِيَّة الَّذِينَ كَانُوا يَقُولُونَ: الْقُرْآنُ مَخْلُوقٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُرَى فِي الْآخِرَةِ وَقَدْ نُقِلَ عَنْ أَحْمَد مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَفَّرَ بِهِ قَوْمًا مُعَيَّنِينَ… فيُحْمَلُ الْأَمْرُ عَلَى التَّفْصِيلِ. فَيُقَالُ: مَنْ كَفَّرَهُ بِعَيْنِهِ؛ فَلِقِيَامِ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّهُ وُجِدَتْ فِيهِ شُرُوطُ التَّكْفِيرِ وَانْتَفَتْ مَوَانِعُهُ وَمَنْ لَمْ يُكَفِّرْهُ بِعَيْنِهِ؛ فَلِانْتِفَاءِ ذَلِكَ فِي حَقِّهِ هَذِهِ مَعَ إطْلَاقِ قَوْلِهِ بِالتَّكْفِيرِ عَلَى سَبِيلِ الْعُمُومِ.

وَالدَّلِيلُ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ: الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ وَالِاعْتِبَارُ…

أَنَّ التَّكْفِيرَ الْعَامَّ – كَالْوَعِيدِ الْعَامِّ – يَجِبُ الْقَوْلُ بِإِطْلَاقِهِ وَعُمُومِهِ. وَأَمَّا الْحُكْمُ عَلَى الْمُعَيَّنِ بِأَنَّهُ كَافِرٌ أَوْ مَشْهُودٌ لَهُ بِالنَّارِ: فَهَذَا يَقِفُ عَلَى الدَّلِيلِ الْمُعَيَّنِ فَإِنَّ الْحُكْمَ يَقِفُ عَلَى ثُبُوتِ شُرُوطِهِ وَانْتِفَاءِ مَوَانِعِهِ

Kemudian imam Ahmad tetap mendo’akan kebaikan bagi khalifah pada saat itu, dan juga bagi mereka yang telah menyiksa dan menawan beliau. Beliau memintakan ampunan kepada Allah bagi mereka, menghalalkan kezaliman yang telah mereka perbuat kepada beliau dan pemaksaan mereka agar beliau mengucapkan perkataan kufur tersebut. Jika mereka dinilai telah murtad dari Islam, tentu tidak diperkenankan mendo’akan ampunan bagi mereka, karena permintaan ampun bagi orang kafir tidak diperbolehkan berdasarkan al-Quran, hadits, dan ijma’.

Seluruh perkataan dan perbuatan beliau dan juga para imam yang lain dengan jelas menunjukkan bahwa beliau dan para ulama tersebut tidak mengkafirkan individu tertentu dari kalangan Jahmiyah, padahal mereka telah mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk dan Allah tidak dapat dilihat di akhirat kelak.

Terdapat nukilan perkataan imam Ahmad yang menunjukkan bahwa beliau telah mengkafirkan sekelompok orang tertentu yang berpendapat dengan pendapat dan akidah Jahmiyah…, namun hal tersebut membutuhkan perincian, sehingga disimpulkan bahwa setiap pihak yang dikafirkan secara spesifik oleh beliau adalah mereka yang telah ditegakkan hujjah, syarat-syarat pengkafiran telah terpenuhi, dan tidak ditemukan satu pun faktor penghambat. Sedangkan setiap orang yang tidak dikafirkan secara spesifik oleh beliau dikarenakan syarat-syarat pengkafiran belum terpenuhi atau terdapat faktor penghambat yang menghalangi pengkafiran terhadap dirinya. Hal ini dengan tetap mengingat perkataan beliau terkait pengkafiran secara umum.

Prinsip ini berdalilkan kepada al-Quran, hadits, dan ijma’, serta logika…pengkafiran secara umum seperti ancaman yang disampaikan secara umum, wajib diberlakukan secara mutlak dan umum. Adapun hukum/penilaian/putusan terhadap individu tertentu (secara spesifik) bahwa dirinya telah kafir atau dipersaksikan dirinya masuk ke dalam neraka, maka hal tersebut membutuhkan dalil yang spesifik, mengingat suatu putusan terkait hal ini dapat dijatuhkan setelah berbagai persyaratan terpenuhi dan tidak ditemukan satu pun faktor penghambat.”[2]

Beliau juga mengatakan,

فَإِنَّ نُصُوصَ ” الْوَعِيدِ ” الَّتِي فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنُصُوصَ الْأَئِمَّةِ بِالتَّكْفِيرِ وَالتَّفْسِيقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَا يُسْتَلْزَمُ ثُبُوتُ مُوجَبِهَا فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ إلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ

“Berbagai dalil ancaman yang terdapat dalam al-Quran, hadits, dan ucapan para imam yang mengandung pengkafiran, pemfasikan, dan hal semisal tidaklah melazimkan kandungan nash-nash tersebut pasti berlaku jika diterapkan secara spesifik pada individu, kecuali berbagai syarat pengkafiran telah terpenuhi dan tidak ditemukan satu pun faktor penghambat.”[3]

Syaikhul Islam berkata perihal kondisi seorang yang mengucapkan beberapa perkataan aliran kebatinan yang mengandung kekufuran,

فهذه المقالات هي كفر لكن ثبوت التكفير في حق الشخص المعين موقوف على قيام الحجة التي يكفر تاركها وإن أطلق القول بتكفير من يقول ذلك فهو مثل إطلاق القول بنصوص الوعيد مع أن ثبوت حكم الوعيد في حق الشخص المعين موقوف على ثبوت شروطه وانتفاء موانعه ولهذا أطلق الأئمة القول بالتكفير مع أنهم لم يحكموا في عين كل قائل بحكم الكفار

“Berbagai perkataan ini merupakan kekufuran, akan tetapi kepastian atas pengkafiran terhadap seseorang secara spesifik berpatokan pada penegakan hujjah (qiyaamul hujjah), yang pelakunya dihukumi kafir jika meninggalkan kandungan hujjah tersebut. Hal itu seperti penggunaan ungkapan secara mutlak yang terdapat dalam nash-nash ancaman padahal kepastian ancaman pada nash-nash tersebut berlaku secara spesifik pada diri seseorang harus berpatokan pada terpenuhinya beberapa syarat dan ketiadaan faktor penghambat. Oleh karena itu, para imam melakukan takfir secara mutlak terhadap perkataan yang mengandung kekufuran, sementara mereka tidak serta merta memvonis kafir secara spesifik terhadap setiap orang yang mengucapkannya.[4]

Ibn Abil ‘Izz al-Hanafi berkata dalam Syarh ath-Thahawiyah ketika membahas seputar takfir mu’ayyan,

الشَّخْصَ الْمُعَيَّنَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مُجْتَهِدًا مُخْطِئًا مَغْفُورًا لَهُ، أَوْ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ لَمْ يَبْلُغْهُ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ النُّصُوصِ، وَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ لَهُ إِيمَانٌ عَظِيمٌ وَحَسَنَاتٌ أَوْجَبَتْ لَهُ رَحْمَةَ اللَّهِ… ثُمَّ إِذَا كَانَ الْقَوْلُ فِي نَفْسِهِ كُفْرًا قِيلَ: إِنَّهُ كُفْرٌ، وَالْقَائِلُ لَهُ يكفر بشروط وانتفاء موانع

“Individu tertentu mungkin berstatus seorang mujtahid yang keliru sehingga kesalahannya dimaafkan, mungkin dirinya termasuk orang yang belum mengetahui dalil-dalil terkait persoalan tersebut, mungkin juga dia adalah seorang yang memiliki keimanan yang besar dan kebaikan yang banyak sehingga mengharuskan rahmat Allah turun kepadanya…kemudian apabila perkataan tersebut merupakan kekufuran, maka dapat dikatakan “ucapan tersebut kufur”, sedangkan orang yang mengucapkannya kafir apabila berbagai syarat pengkafiran terpenuhi dan tidak ditemukan faktor penghambat.”[5]

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Lahtif, asy-Syaikh Ibrahim bin Abdul Lathif, dan asy-Syaikh Sulaiman bin Samhaan rahimahumullah mengatakan,

ومسألة تكفير المعين مسألة معروفة، إذا قال قولا يكون القول به كفرا، فيقال: من قال بهذا القول فهو كافر، لكن الشخص المعين، إذا قال ذلك لا يحكم بكفره، حتى تقوم عليه الحجة التي يكفر تاركها

“Persoalan takfir mu’ayyan merupakan persoalan yang ma’ruf, di mana apabila seorang mengucapkan perkataan kufur, maka dikatakan, “Setiap orang yang mengatakan perkataan ini telah kafir”, namun dalam kaitannya dengan individu tertentu secara spesifik, orang tersebut tidak langsung divonis kafir apabila dia mengucapkannya hingga ditegakkan hujjah pada dirinya yang menyebabkan pelakunya kafir apabila meninggalkan kandungan yang terdapat dalam hujjah tersebut.”[6]

Guru kami, Muhammad bin al-Utsaimin rahumahullah mengatakan,

“الواجِب قبل الحكم بالتَّكْفير أن يُنْظَر في أمرين:

الأمر الأول: دلالة الكتاب والسُّنَّة على أن هذا مُكَفِّر؛ لئِلاَّ يُفْتَرى على الله الكَذِب.

الثاني: انطباق الحُكم على الشخص المُعَيَّن؛ بحيث تتم شروط التكفير في حَقِّه، وتنتفي الموانع”

“Wajib memperhatikan dua hal sebelum memberikan putusan kafir.

Pertama : indikasi dari al-Quran dan hadits yang benar-benar menunjukkan perbuatan/perkataan tersebut dapat mengafirkan pelakunya sehingga tidak ada kedustaan dengan mengatasnamakan Allah;

Kedua : kesesuaian penerapan putusan pada individu tertentu secara spesifik dengan berpatokan pada terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran dan tidak ditemukan satu pun faktor yang menghalangi pengkafiran pada diri orang tersebut”[7]

Asy-Syaikh Sulaiman bin Nashir al-Ulwan di akhir risalah at-Tibyaan Syarh Nawaaqidh al-Islam mengatakan,

إذا عُلِمَ ما تَقَدَّمَ مِنَ النواقض التي تُحبِط الأعمال، وتجعل صاحبها منَ الخالدين في النار، فَلْيُعْلَم أنَّ المسلم قد يقول قولاً، أو يفعل فعلاً قد دَلَّ الكتاب والسنة وإجماع سلف الأمة على أنَّه كُفْر ورِدَّة عنِ الإسلام؛ ولكن لا تلازُم عند أهل العلم بين القول بأنَّ هذا كُفْر، وبين تكفير الرَّجُل بعينه.

فليس كلُّ مَن فعل مُكَفِّرًا حُكِمَ بِكُفْره؛ إذِ القول أوِ الفعل قد يكون كفرًا؛ لكن لا يُطْلَق الكفر على القائل أو الفاعل إلاَّ بشرطه؛ لأنه لا بُدَّ أن تثبتَ في حقِّه شروط التكفير، وتَنْتفي موانِعُه؛ فالمرءُ قد يكون حديث عهد بإسلام، وقد يفعل مُكَفِّرًا، ولا يعلم أنه مُكَفِّر فإذا بُيِّنَ له رَجَع، وقد ينكر شيئًا متأولاً أخطأ بتأويله، وغير ذلك منَ الموانع التي تَمْنَعُ منَ التكفير.

وهذا أصلٌ عظيم يجب تفهُّمه والاعتناء به؛ لأنَّ التكفير ليس حقًّا للمخلوق، يُكفِّر مَن يشاء على وَفْق هواه؛ بل يجب الرُّجوع في ذلك إلى الكتاب والسُّنَّة على فَهْم السَّلَف الصالح، فمَن كَفَّرَهُ الله ورسوله، وقامتْ عليه الحجة، فهو كافر، ومَن لا، فلا”.

“Apabila berbagai pembatal keislaman yang dapat menggugurkan amal dan menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka telah diketahui, ketahuilah bahwa seorang muslim terkadang mengucapkan atau melakukan suatu perkataan dan perbuatan yang dinilai sebagai kekufuran dan riddah dalam al-Quran, hadits, dan ijma’ salaf. Akan tetapi, menurut para ulama tidak ada korelasi antara perkataan “perbuatan tersebut merupakan kekufuran” dengan pengkafiran seorang yang melakukannya.

Tidak setiap orang yang melakukan kekufuran dapat divonis kafir mengingat suatu perkataan atau perbuatan bisa saja dinilai sebagai kekufuran namun kekufuran tersebut tidak serta merta dimutlakkan kepada orang yang mengucapkan atau melakukan kekufuran tersebut kecuali telah memenuhi beberapa persyaratan. Dalam mengkafirkan seseorang harus dipastikan bahwa syarat-syarat pengkafiran telah terpenuhi pada diri orang tersebut dan tidak terdapat satu pun faktor yang menghambat pengkafirannya.

Terkadang seorang yang baru masuk Islam melakukan kekufuran dan tidak mengetahui bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang dapat mengkafirkan perlakunya[8]. Apabila dijelaskan hal tersebut, dia akan kembali kepada kebenaran. Terkadang pula seseorang mengingkari sesuatu (di mana pengingkarannya tersebut merupakan kekufuran) karena salah tafsir. Faktor penghambat semacam ini dan yang lain dapat menjadi penghalang atas pengkafiran seseorang.

Hal ini merupakan prinsip yang sangat penting, wajib dipahami dengan baik, dan menjadi perhatian karena pengkafiran bukanlah hak bagi makhluk sehingga dia dapat dengan leluasa mengkafirkan orang lain sesuai hawa nafsu. Pengkafiran seseorang wajib berpatokan pada al-Quran dan hadits dengan mengikuti pemahaman as-salaf ash-shalih. Setiap orang yang dikafirkan Allah dan Rasul-Nya dan hujjah telah ditegakkan pada dirinya, maka kafirlah orang tersebut. Jika tidak demikian, tentu dia tidaklah kafir.”

Kemudian Syaikh menyampaikan hadits muttafaq ‘alaih perihal kisah seorang pria yang memerintahkan anak-anaknya untuk membakar dirinya apabila dia telah meninggal dan menebarkan abunya di udara agar Allah tidak mampu membangkitkannya. Syaikh pun mengutip perkataan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah yang menjelaskan bahwa Allah telah memberikan dispensasi kepada pria tersebut dikarenakan ketidaktahuan dan rasa takut atas siksa Rabb-nya.

Lalu, Syaikh pun melanjutkan,

“والحاصِلُ أنَّ مذهب أهل التحقيق التَّفريقُ بين تكفير الفعل، وبين تكفير الفاعل، وكذلك الأمر في التَّبْديع، هناك فرقٌ بين تبديع القول أو الفعل، وبين تبديع القائل أو الفاعل، فليسَ كُلُّ مَن فعل بدعة صار مبتدعًا.

ومَن نظر في سيرة السَّلَف عَرَفَ حقيقة هذا القول، وعلم أنَّ هذا مذهبهم، وهذه طريقتهم، ورأى ما هم عليه منَ العدل، والإنصاف، وقول الحق، والحِرْص على هداية الخَلْق؛ لِمَا خَصَّهمُ الله به منَ العلم النافع، والعمل الصالح، وهذا هو الواجب على جميع الخَلْق، أن يكونَ قصدهم بيانَ الحق، وإزهاق الباطل، مع العدل والإنصاف؛ ليكونَ الدِّين كلُّه لله، والحمد لله رب العالمين”

“Sebagai kesimpulan dapat disampaikan bahwa jalan yang ditempuh oleh para ulama adalah membedakan antara pengkafiran perbuatan dengan pengkafiran pelakunya. Demikian pula hal yang serupa diterapkan dalam persoalan pembid’ahan. Terdapat perbedaan antara pembid’ahan suatu perkataan dan perbuatan dengan pembid’ahan pelakunya. Tidak setiap orang yang berbuat bid’ah otomatis divonis sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah).

Setiap orang yang mengamati perikehidupan para salaf akan mengenal kebenaran hal ini dan mengetahui bahwa yang demikian merupakan pendapat dan jalan yang ditempuh oleh mereka. Dia akan melihat bahwa mereka senantiasa mengutamakan keadilan, kesamaan, berkata benar, dan bersemangat untuk menuntun manusia ke jalan hidayah. Semua itu dikarenakan mereka telah diistimewakan Allah dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Inilah yang menjadi kewajiban bagi setiap makhluk, yaitu hendaklah niat mereka adalah untuk menjelaskan kebenaran dan melenyapkan kebatilan dengan cara yang adil sehingga agama ini ditegakkan seluruhnya untuk Allah semata. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”[9]

Dengan demikian, seorang boleh jadi terjerumus dalam sebagian kekufuran atau kesyirikan akbar yang telah dinyatakan bahwa hal tersebut depat mengeluarkan pelakunya dari agama, dan juga ulama mengatakan bahwa “Setiap orang yang melakukan perbuatan tersebut telah kafir”. Namun, terkadang pelaku yang beragama Islam tidak serta merta dapat dikafirkan karena syarat-syarat pengkafiran belum terpenuhi pada dirinya atau terdapat faktor penghambat yang menghalangi pengkafiran atas dirinya.

——————————————————————————————————————

Catatan kaki:

[1] Di antara faktor penghambat dalam vonis kafir terhadap seorang yang mengingkari perkara al-ma’lum minad-din bidh-dharurah adalah kebodohan (al-jahl), seperti seorang yang baru masuk ke dalam agama Islam.

Dan di antara faktor penghambat dalam vonis kafir terhadap seorang yang mencela Allah atau agama Islam adalah dilakukan secara terpaksa. Penjelasan akan hal ini akan dipaparkan insya Allah.

Sebaliknya, setiap orang yang melakukan kekufuran yang telah disebutkan sebelumnya dapat divonis kafir, misalnya mencela agama Islam dengan sengaja bukan dikarenakan salah ucap atau yang semisal, mengetahui bahwa perkataan yang diucapkan merupakan ungkapan penghinaan dan celaan, tidak dipaksa, -dengan kata lain syarat pengkafiran telah terpenuhi dan tidak ditemukan faktor penghambat-. Namun, vonis tersebut hanya dilakukan oleh para ulama. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut insya Allah.

Perincian memperjelas perbedaan antara vonis/penilaian secara umum (mutlak) dengan vonis/penilaian secara spesifik (mu’ayyan). Perincian semacam ini juga dapat ditemui dalam beberapa hukum syar’i. Di antaranya adalah:

Hukum potong tangan bagi pencuri disebutkan secara umum dalam syari’at sebagaimana tersebut dalam firman Allah,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [al-Maaidah : 38].

Akan tetapi, dalam praktiknya, tidak diperbolehkan memotong tangan seorang yang telah ditangkap mencuri kecuali terpenuhi berbagai syarat untuk pemotongan tangan dan dipastikan seluruh faktor penghambat tidak ada.

Orang yang mencuri tersebut haruslah:

  • Seorang yang baligh dan berakal;
  • Harta tersebut dicuri dari tempat penyimpanan dan mencapai nilai nominal yang menjadi kadar untuk pemotongan tangan;
  • Tidak ditemukan syubhat pada diri pencuri tersebut terhadap harta yang dicuri dan alasan semisal.

Apabila seluruh syarat pemotongan tangan terpenuhi dan tidak ditemukan satu pun faktor penghambat yang menghalangi, maka dalam kondisi demikian barulah putusan untuk memotong tangan pencuri tersebut dapat dijatuhkan.

Praktik yang sama ditunjukkan dalam hukum pewarisan harta orang tua kepada anak seperti yang disebutkan secara umum dalam firman Allah ta’ala,

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأنْثَيَيْنِ

“Allah mensyari’atkan kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…” [an-Nisaa : 11].

Akan tetapi, dalam hal seorang anak tertentu mewarisi harta orang tua patut memperhatikan pemenuhan syarat-syarat warisan dan seluruh faktor penghambat dipastikan tidak ada.

Anak yang mewarisi harus:

  • Dipastikan masih hidup setelah orang tua meninggal;
  • Memiliki kesamaan agama dengan orang tua;
  • Tidak membunuh orang tua;
  • Tidak berstatus sebagai budak, dan syarat yang semisal.

Apabila seluruh syarat pewarisan terpenuhi dan tidak ditemukan faktor penghambat atas diri sang anak, maka putusan bahwa dia berhak mewarisi harta orang tua dapat ditetapkan.

Contoh yang sama, hukum rajam terhadap seorang yang pernah menikah dan melakukan perzinahan disebutkan secara umum. Akan tetapi, proses rajam terhadap seorang yang pernah menikah dan diketahui berzina tidak boleh dilakukan sebelum persyaratan untuk melakukan proses rajam terpenuhi dan tidak ditemukan faktor yang menghalangi proses tersebut.

Kondisi orang yang berzina tersebut harus:

  • Mengetahui bahwa zina merupakan perbuatan yang haram, karena bisa jadi dia baru masuk ke dalam agama Islam dan tidak mengetahui hukum zina;
  • Pernah menikah (muhshan);
  • Tidak ditemukan syubhat pada diri orang tersebut, dan alasan yang semisal.

Apabila seluruh syarat rajam terpenuhi pada diri orang yang berzina tersebut dan tidak ditemukan satu pun faktor penghambat, maka putusan untuk merajam orang tersebut dapat dijatuhkan.

[2] Majmu’ al-Fataawa 12/487-489, 498.

[3] Majmu’ al-Fataawa 10/372, 35/165-166; al-Massa-il al-Mardiniyah hlm. 71.

[4] Bughyatul Murtaad fii ar-raad ‘alaa al-Mutalassifah wa al-Qaraamithah wa la-Baathinah hlm. 353, 354.

Syaikhul Islam juga berkata dalam Majmu’ al-Fataawa 10/329-330,

وَلَكِنَّ لَعْنَ الْمُطْلَقِ لَا يَسْتَلْزِمُ لَعْنَ الْمُعَيَّنِ الَّذِي قَامَ بِهِ مَا يَمْنَعُ لُحُوقَ اللَّعْنَةِ لَهُ وَكَذَلِكَ ” التَّكْفِيرُ الْمُطْلَقُ ” و ” الْوَعِيدُ الْمُطْلَقُ “. وَلِهَذَا كَانَ الْوَعِيدُ الْمُطْلَقُ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَشْرُوطًا بِثُبُوتِ شُرُوطٍ وَانْتِفَاءِ مَوَانِعَ

“Laknat yang diungkapkan secara mutlak tidak melazimkan laknat tersebut juga dapat ditetapkan secara spesifik pada individu tertentu yang memiliki alasan sehingga penetapan laknat tidak disematkan pada dirinya. Demikian pula dengan pengkafiran dan ancaman secara mutlak. Oleh karena itu, ancaman secara mutlak yang terdapat dalam al-Quran dan hadits dalam penetapannya pada individu tertentu dipersyaratkan dengan adanya kepastian bahwa seluruh syarat pengkafiran telah terpenuhi dan tidak ditemukan adanya faktor penghambat.” Lihat pula keterangan pada Bughyatul Murtaad hlm. 311.

[5] Syarh ath-Thahawiyah hlm. 437.

[6] Ad-Duraar as-saniyah 10/432-433.

[7] Majmu Fataaw asy-Syaikh Ibn Utsaimin 2/134.

[8] Lebih tepat jika dikatakan, “dia tidak mengetahui bahwa hal tersebut diharamkan”. Penjelasan akan hal tersebut akan dipaparkan ketika membahas syarat-syarat takfir mu’ayyan (pengkafiran terhadap seseorang) insya Allah.

[9] At-Tibyaan Syarh Nawaaqidl al-Islam cetakan keenam pada bagian lampiran hlm. 75-76. Pada bagian pendahuluan hlm. 3 Syaikh telah mengatakan, “Saya telah menulis catatan lain pada bagian akhir kitab ini perihal pembedaan antara pengkafiran terhadap suatu perbuatan dengan pengkafiran pelakunya, mengingat sebagian orang mencampuradukkan keduanya, sehingga berpandangan kedua memiliki keterkaitan yang erat. Anda akan melihat bahwa hal tersebut merupakan kekeliruan ketika membaca penjelasan hal ini di bagian lampiran.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s