Berpuasa Syawal di Luar Bulan Syawal

Terdapat silang pendapat di antara ulama mengenai hukum seorang yang melakukan puasa Syawal di bulan yang lain. Mereka terbagi ke dalam tiga pendapat berikut:

Pendapat Pertama

Sah melakukan puasa Syawal di luar bulan Syawal. Pendapat ini merupakan pendapat Syafi’iyah, sebagian Malikiyah dan Hanabilah.

Dalil bagi pendapat ini adalah hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu, di mana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ السَّنَةِ.

”Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan maka puasa sebulan dalam bulan tersebut setara dengan berpuasa selama sepuluh bulan. Dan dengan berpuasa enam hari setelah ‘idul fithri dia telah melengkapi puasa menjadi setahun”. [Shahih. HR. Ahmad; Ibnu Majah; an-Nasaa-i dalam al-Kubra; dan yang lain].

Segi pendalilan

Keutamaan pelipatgandaan pahala kebaikan sebesar sepuluh kali lipat sebagaimana diisyaratkan dalam hadits di atas dapat terjadi di bulan Syawal maupun bulan yang lain. Penyebutan Syawal pada hadits tersebut sekedar menunjukkan kemudahan pelaksanaan puasa pada bulan tersebut karena sebelumnya telah mengerjakan puasa Ramadhan. Selain itu, hal tersebut juga meringankan bagi mukallaf.

Ibnu  Muflih mengatakan,

ويتوجه احتمال : تحصل الفضيلة بصومها في غير شوال , وفاقا لبعض العلماء , ذكره القرطبي , لأن فضيلتها كون الحسنة بعشر أمثالها , كما في خبر ثوبان , ويكون تقييده بشوال لسهولة الصوم لاعتياده رخصة

“Bisa jadi keutamaan puasa Syawal tetap diperoleh meski dikerjakan di luar bulan Syawal, mengikuti pendapat sebagian ulama. Demikian yang disampaikan oleh al-Qurthubi. Hal ini dikarenakan fokus keutamaan puasa Syawal adalah pelipatgandaan kebaikan sebesar 10 kali lipat seperti yang tercantum dalam hadits Tsauban. Adapun penyebutan bulan Syawal merupakan rukshah karena mudahnya melakukan puasa di bulan tersebut setelah sebelumnya mengerjakan puasa Ramadhan.” [al-Furu’].

Sebagian ulama yang memegang pendapat ini menyatakan keutamaan penuh tetap diperoleh meski puasa tersebut dikerjakan di luar bulan Syawal.

Al-‘Adawi mengatakan,

” وإنما قال الشارع : ( من شوال ) للتخفيف باعتبار الصوم ، لا تخصيص حكمها بذلك الوقت ، فلا جرم أن فعلها في عشر ذي الحجة مع ما روي في فضل الصيام فيه أحسن ؛ لحصول المقصود مع حيازة فضل الأيام المذكورة , بل فعلها في ذي القعدة حسن أيضا , والحاصل : أن كل ما بعد زمنه كثر ثوابه لشدة المشقة “

“Teks hadits “من شوال” berfungsi sebagai motivasi karena saat itu kaum muslimin masih mudah untuk melakukan puasa. Redaksi tersebut bukanlah membatasi hukum pelaksanaannya di bulan Syawal. Tidaklah mengapa apabila puasa Syawal dilakukan pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah mengingat terdapat riwayat yang menerangkan keutamaan berpuasa pada saat itu lebih baik. Dengan demikian tujuan puasa Syawal ikut tercapai berikut keutamaan berpuasa pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Bahkan, puasa Syawal yang dilakukan di bulan Dzulqa’dah juga baik.

Kesimpulannya, semakin jauh jarak puasa Syawal yang dilakukan, maka semakin besar pula pahala yang diperoleh mengingat besarnya kesulitan yang ada.” [Hasyiyah ‘alaa Syarh al-Khurasyi].

Sedangkan sebagian lagi menyatakan setiap orang yang terluput mengerjakan puasa Syawal diperbolehkan mengqadha di bulan Dzulqa’dah, namun besaran pahala yang diperoleh berada di bawah pahala orang yang mengerjakannya di bulan Syawal.

Ibnu Hajar al-Makki mengatakan,

وَحَاصِلُهُ أَنَّ مَنْ صَامَهَا مَعَ رَمَضَانَ كُلُّ سَنَةٍ تَكُونُ كَصِيَامِ الدَّهْرِ فَرْضًا بِلَا مُضَاعَفَةٍ وَمَنْ صَامَ سِتَّةً غَيْرَهَا كَذَلِكَ تَكُونُ كَصِيَامِهِ نَفْلًا بِلَا مُضَاعَفَةٍ

“Kesimpulannya, seorang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, maka dirinya dalam sepanjang tahun tersebut memperoleh pahala mengerjakan puasa wajib, tanpa ada penggandaan. Sedangkan seorang yang mengerjakan puasa Syawal di luar bulan Syawal, maka di sepanjang tahun tersebut dirinya terhitung memperoleh pahala mengerjakan puasa sunnah, tanpa ada penggandaan.” [Tuhfah al-Muhtaj].

Pendapat kedua

Sah melakukan puasa Syawal di luar bulan Syawal dan keutamaannya tetap diperoleh apabila orang tersebut tidak berpuasa Syawal karena adanya suatu udzur seperti sakit, haidh, nifas dan alasan yang sejenis. Pendapat ini merupakan pendapat beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Abdurrahman as-Sa’di  dan Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan,

أما إن كان له عذر من مرض أو حيض أو نفاس أو نحو ذلك من الأعذار التي بسببها أخر صيام قضائه أو أخر صيام الست ، فلا شك في إدراك الأجر الخاص ، وقد نصوا على ذلك .

وأما إذا لم يكن له عذر أصلا ، بل أخر صيامها إلى ذي القعدة أو غيره ، فظاهر النص يدل على أنه لا يدرك الفضل الخاص ، وأنه سنة في وقت فات محله ، كما إذا فاته صيام عشر ذي الحجة أو غيرها حتى فات وقتها ، فقد زال ذلك المعنى الخاص ، وبقي الصيام المطلق

“Apabila orang tersebut memiliki udzur seperti sakit, haid, nifas atau udzur semisal yang menyebabkan dirinya mengakhirkan pelaksanaan puasa qadha atau puasa Syawal, maka tidak ragu lagi dia turut memperoleh pahala khusus yang termaktub dalam hadits tersebut. Para ulama telah menyatakan hal tersebut.

Adapun jika dia tidak memiliki udzur sama sekali, bahkan dia mengakhirkan pelaksanaan puasa Syawal di bulan Dzulqa’dah atau selainnya tanpa alasan, maka teks hadits menyatakan bahwa orang ini tidak memperoleh pahala khusus yang disebutkan dalam hadits. Pahala puasa yang dikerjakan tersebut bernilai puasa sunnah semata (tidak memiliki pahala khusus lagi) karena waktu khususnya telah berlalu.

Hal ini seperti seorang yang terluput mengerjakan puasa di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah atau puasa semisal yang waktu khususnya telah berlalu. Pahala khusus yang terkait dengan momen tersebut telah hilang sehingga yang tersisa adalah puasa sunnah mutlak biasa.” [al-Fatawa as-Sa’diyah].

Dalil bagi pendapat ini adalah dalil-dalil yang menerangkan bahwa Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengqadha ibadah yang luput beliau kerjakan seperti i’tikaf di bulan Ramadhan, shalat malam dan dua raka’at shalat sunnah setelah shalat Zhuhur.

Segi pendalilan:

Berbagai dalil yang menyebutkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengqadha ibadah yang luput beliau kerjakan karena adanya suatu udzur menunjukkan bahwa hukum yang sama berlaku untuk puasa Syawal jika terdapat suatu udzur sehingga seorang terluput untuk mengerjakannya.

Pendapat ketiga

Tidak sah puasa Syawal yang dilakukan dan keutamaan puasa Syawal yang disebutkan hadits tidak akan diperoleh secara mutlak jika dilaksanakan di luar bulan Syawal.

Pendapat ini merupakan pendapat Hanafiyah, mayoritas Hanabilah dan salah satu pendapat di kalangan Syafi’iyah.

Dalil bagi pendapat ini adalah hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu di mana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ia mengiringi dengan berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa selama setahun”. [Shahih. HR. Muslim].

Segi pendalilan:

Secara tekstual, hadits Abu Ayyub radhiallahu ‘anhu di atas mengkhususkan penyebutan bulan Syawal untuk keutamaan pahala berpuasa selama setahun, bukan di bulan yang lain. Jika penyebutan bulan Syawal dalam hadits tersebut bukan suatu pembatasan, maka tidak akan ada faidah dari penyebutan tersebut.

Ibnu al-Qayyim mengatakan,

أَنَّ الْمَقْصُود بِهِ الْمُبَادَرَة بِالْعَمَلِ , وَانْتِهَاز الْفُرْصَة , خَشْيَة الْفَوَات . قَالَ تَعَالَى { فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَات } وَقَالَ { وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَة مِنْ رَبّكُمْ } وَهَذَا تَعْلِيلُ طَائِفَةٍ مِنْ الشَّافِعِيَّة وَغَيْرهمْ . قَالُوا : وَلَا يَلْزَم أَنْ يُعْطِيَ هَذَا الْفَضْل لِمَنْ صَامَهَا فِي غَيْره , لِفَوَاتِ مَصْلَحَة الْمُبَادَرَة وَالْمُسَارَعَة الْمَحْبُوبَة لِلَّهِ . قَالُوا : وَظَاهِر الْحَدِيث مَعَ هَذَا الْقَوْل . وَمَنْ سَاعَدَهُ الظَّاهِرُ فَقَوْلُهُ أَوْلَى . وَلَا رَيْب أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ إِلْغَاء خُصُوصِيَّة شَوَّال , وَإِلَّا لَمْ يَكُنْ لِذِكْرِهِ فَائِدَة . وَقَالَ آخَرُونَ : لَمَّا كَانَ صَوْم رَمَضَان لَا بُدّ أَنْ يَقَع فِيهِ نَوْع تَقْصِير وَتَفْرِيط , وَهَضْم مِنْ حَقِّهِ وَوَاجِبِهِ نَدَبَ إِلَى صَوْم سِتَّة أَيَّام مِنْ شَوَّال , جَابِرَةٍ لَهُ , وَمُسَدِّدَة لِخَلَلِ مَا عَسَاهُ أَنْ يَقَع فِيهِ . فَجَرَتْ هَذِهِ الْأَيَّام مَجْرَى سُنَن الصَّلَوَات الَّتِي يُتَنَفَّل بِهَا بَعْدهَا جَابِرَة وَمُكَمِّلَة , وَعَلَى هَذَا : تَظْهَر فَائِدَة اِخْتِصَاصهَا بِشَوَّال , وَاَللَّه أَعْلَم.

“Maksud hadits tersebut adalah agar setiap muslim bersegera mengamalkan dan memanfaatkan waktu karena dikhawatirkan bulan Syawal akan segera berlalu.

Allah ta’ala berfiman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَات

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” [Al-Baqarah : 148].

Dia juga berfirman,

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu.’ [Ali ‘Imran : 133].

Inilah alasan yang dikemukakan sekelompok ulama Syafi’iyah dan selainnya. Mereka berpandangan tidak ada kelaziman bahwa keutamaan yang disebutkan dalam hadits juga diberikan kepada seorang yang berpuasa Syawal di luar bulan Syawal. Hal ini dikarenakan keutamaan bersegera mengerjakan sesuatu yang dicintai Allah telah terluput.

Selain itu, mereka berpandangan bahwa redaksi hadits mendukung pendapat ini dan tentu pendapat yang lebih didukung oleh redaksi hadits lebih layak untuk dikedepankan.  Tidak ragu lagi bahwa tidak mungkin meniadakan kekhususan bulan Syawal dalam hadits tersebut. Jika hal tersebut dilakukan tentu penyebutan bulan Syawal dalam hadits tersebut tidak lagi berguna.

Sebagian ulama mengemukakan alasan lain dengan menyatakan bahwa seorang yang berpuasa Ramadhan pasti melakukan kelalaian, dengan tidak menunaikan puasa dengan hak serta memenuhi kewajiban yang dituntut. Oleh karena itu, syari’at menganjurkan untuk berpuasa Syawal selama enam hari sebagai bentuk kompensasi dan memperbaiki segala bentuk kesalahan yang mungkin dilakukan selama berpuasa. Dengan demikian, puasa pada enam hari di bulan Syawal seperti layaknya shalat-shalat sunnah setelah pelaksanaan shalat wajib yang dilakukan untuk memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan shalat wajib.

Berdasarkan alasan tersebut, nampak jelas pengkhususan bulan Syawal dalam hadits tersebut. Wallahu a’lam.” [Tahdzib as-Sunan].

Tarjih

Kami lebih condong untuk menguatkan pendapat terakhir menimbang kuatnya argumentasi yang dikemukakan oleh ulama yang mendukung pendapat ini. Selain itu patut diperhatikan pula bahwa mengqadha suatu ibadah memerlukan dalil khusus dan tidak ada dalil dalam masalah ini.

Apabila seorang jujur dalam niatnya, di mana dia akan melaksanakan puasa Syawal apabila tidak memiliki udzur, insya Allah Allah akan memberikan pahala puasa Syawal tersebut kepada dirinya. Hal ini berdasarkan hadits

إذا مرض العبد أو سافر كتب الله له ما كان يعمل مقيماً صحيحاً

“Apabila seorang hamba sakit atau bersafar, Allah akan tetap menetapkan pahala ibadah yang sering dilakukannya ketika dia dalam kondisi sehat dan bermukim.” [Shahih. HR. Bukhari].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s