Berniat Puasa Syawal di Malam Hari

Hal ini dikenal di kalangan ulama dengan istilah tabyiitu an-niyah (berniat di malam hari/sebelum fajar). Mengingat puasa Syawal merupakan puasa yang hukumnnya sunnah, maka terdapat dua pendapat di kalangan ulama terkait hukum berniat puasa sunnah di malam hari.

Pendapat pertama

Berniat di malam hari untuk puasa sunnah merupakan syarat sehingga hukumnya wajib sebagaimana ketika seorang ingin menunaikan puasa wajib. Pendapat ini merupakan pendapat Malaikiyah dan Ibnu Hazm.

Dalil bagi pendapat ini adalah keumuman hadits Ummu al-Mukminin Hafshah radhiallahu ‘anha. Beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum Shubuh, maka tidak ada puasa untuknya” [Shahih. HR. Abu Dawud dan Tirmidzi].

Segi pendalilan:

Hadits di atas lafadznya umum sehingga turut mencakup puasa wajib dan sunnah. Dengan demikian, dalam puasa sunnah seorang juga wajib untuk berniat di malam hari sebagaimana ketika dia hendak melaksanakan puasa wajib.

Al-Haththab ar-Ru’aini mengatakan,

أَنَّ شَرْطَ صِحَّةِ الصَّوْمِ مُطْلَقًا – أَيْ فَرْضًا كَانَ أَوْ نَفْلًا مُعَيَّنًا أَوْ غَيْرَ مُعَيَّنٍ – أَنْ يَكُونَ بِنِيَّةٍ، لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ» رَوَاهُ الشَّيْخَانِ. وَقَوْلُهُ: «لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ» رَوَاهُ أَصْحَابُ السُّنَنِ الْأَرْبَعَةِ

“Syarat sah puasa secara mutlak –baik puasa tersebut hukumnya wajib atau sunnah mu’ayyan dan ghairu mu’ayyan- adalah berniat…” kemudian beliau melanjutkan,

وَيُشْتَرَطُ فِي صِحَّةِ الصَّوْمِ أَيْضًا أَنْ تَكُونَ النِّيَّةُ مُبَيَّتَةً مِنَ اللَّيْلِ لِلْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ

“Dan dipersyaratkan juga niat tersebut dilakukan pada malam hari berdasarkan hadits (Hafshah) tadi” [Mawaahib al-Jalil].

Adapun hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha –yang akan disebutkan kemudian- yang secara zhahir mengecualikan puasa sunnah ditakwil oleh mereka dengan mengatakan bahwa dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berniat di malam hari namun kemudian di siang hari beliau hendak berbuka jika ‘Aisyah memiliki makanan [al-Muhalla].

Pendapat kedua 

Berniat di malam hari bukanlah syarat untuk puasa sunnah. Dengan demikian, puasa sunnah yang dilakukan seorang meski dia tidak berniat di malam hari adalah sah dengan syarat tidak melakukan pembatal puasa sejak terbit fajar. Pendapat ini merupakan pendapat Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.

Dalil bagi pendapat ini adalah:

#1

Hadits Ummu al-Mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata,

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَاتَ يَوْمٍ «يَا عَائِشَةُ، هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟» قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ: «فَإِنِّي صَائِمٌ» قَالَتْ: فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ – أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ – قَالَتْ: فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ – أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ – وَقَدْ خَبَأْتُ لَكَ شَيْئًا، قَالَ: «مَا هُوَ؟» قُلْتُ: حَيْسٌ، قَالَ: «هَاتِيهِ» فَجِئْتُ بِهِ فَأَكَلَ، ثُمَّ قَالَ: «قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا»

“Pada suatu hari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Wahai ‘Aisyah apakah engkau memiliki makanan?” Saya pun menjawab, “Wahai rasulullah, kami tidak memiliki makanan apa pun.” Beliau pun berkata, “Jika demikian saya akan berpuasa.” Kata ‘Aisyah, “Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar. Tak lama kemudian, saya diberi hadiah berupa makanan -atau dengan redaksi seseorang mengunjungi kami.” Aisyah berkata, “Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali saya pun berkata, “Wahai rasulullah, tadi ada seseorang datang memberi kita hadiah berupa makanan –atau dengan redaksi seseorang mengunjungi kami- dan masih kusimpan untuk Anda. Beliau bertanya, “Makanan apa itu?” Saya menjawab, “Hais (kurma yang dicampur dengan minyak samin dan keju).” Beliau bersabda, “Bawalah kemari.” Maka saya pun membawakan makanan tersebut dan beliau memakannya. Beliau kemudian berkata, “Sungguh dari pagi tadi aku berpuasa.” [Shahih. HR. Muslim].

#2

Riwayat yang berasal dari beberapa sahabat seperti riwayat Ummu ad-Darda, beliau berkata,

كان أبو الدرداء يقول: عندكم طعام؟ فإن قلنا: لا، قال: فإني صائمٌ يومي هذا

Abu ad-Darda pernah bertanya, “Apakah engkau memiliki makanan?” Apabila kami menjawab tidak, beliau akan berkata, “Jika demikian saya akan berpuasa di hari ini.” [Shahih. HR. Bukhari secara mu’alaaq]. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu ‘’Abbas dan Hudzaifah radhiallahu ‘anhum ajama’in.

Segi pendalilan:

Hadits ‘Aisyah dan riwayat dari beberapa sahabat –radhiallahu ‘anhum- yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa nabi dan para sahabat baru berniat untuk berpuasa di siang hari. Dengan demikian, kewajiban berniat di malam hari sebagaimana yang terdapat dalam hadits Hafshah radhiallahu ‘anha dikhususkan untuk pelaksanaan puasa wajib. Selain itu, redaksi hadits ‘Aisyah umum untuk puasa sunnah, baik puasa yang bersifat mutlak maupun mu’ayyan.

An-Nawawi mengatakan,

(وَالْجَوَابُ) عَنْ حَدِيثِ تَبْيِيتِ النِّيَّةِ أَنَّهُ عَامٌّ فَنَخُصُّهُ بِمَا ذَكَرْنَاهُ جَمْعًا بَيْنَ الْأَحَادِيثِ وَرَوَى الشَّافِعِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ بِالْإِسْنَادِ الصَّحِيحِ عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ بَدَا لَهُ الصَّوْمُ بَعْدَ مَا زَالَتْ الشمس فصام والله أعلم

“Jawaban terhadap hadits tabyiitu an-niyah (hadits Hafshah) adalah redaksi hadits Hafshah bersifat umum namun kami mengkhususkannya dengan riwayat yang telah disebutkan. Dengan demikian dilakukan kompromi terhadap hadits-hadits yang ada. Asy-Syafi’i dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih sebuah riwayat dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa beliau berkeinginan untuk berpuasa ketika matahari telah zawal (tergelincir ke arah barat), kemudian beliau pun berpuasa. Wallahu a’lam” [al-Majmu’].

Pihak yang mewajibkan berniat di malam hari ketika berpuasa sunnah mengemukakan bahwa dalam hadits ‘Aisyah terdapat lafadz “قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا” (sungguh dari pagi tadi aku berpuasa). Mereka mengatakan bahwa lafadz ini menunjukkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berniat puasa sunnah di  malam hari dan bukan mulai berniat di siang hari.

Alasan tersebut dapat dijawab sebagai berikut:

Pertama

Terdapat riwayat lain yang menerangkan riwayat ‘Aisyah sebelumnya dengan redaksi sebagai berikut,

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: «هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟» فَقُلْنَا: لَا، قَالَ: «فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ» ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ: «أَرِينِيهِ، فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا» فَأَكَلَ

“Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rumahku dan bertanya, “Apakah kalian memiliki makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang di hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami memperoleh hadiah berupa hais (hidangan yang terbuat dari campuran kurma, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” Kemudian beliau pun memakannya.” [Shahih. HR. Muslim].

Dalam riwayat tersebut terdapat lafadz “فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ”, di mana huruf fa (الفاء) dan idzan (إذًا) memberikan faidah sebab akibat sehingga redaksi hadits tersebut berarti “Saya akan berpuasa karena kamu tidak memiliki makanan.” Dan jika beliau telah berniat puasa sunnah di malam hari tentu puasa yang dilakukan beliau bukan karena disebabkan ketiadaan makanan. Oleh karenanya, di dalam sebagian riwayat hadits ini sebagaimana dalam as-Sunan al-Kubra terdapat redaksi “إِذًا أَصُومُ” (jika demikian saya akan berpuasa). Lafadz ini secara tegas menyatakan beliau berniat di siang hari untuk berpuasa.

Kedua

An-Nawawi mengatakan,

وَهَاتَانِ الرِّوَايَتَانِ هُمَا حَدِيثٌ وَاحِدٌ وَالثَّانِيَةُ مُفَسِّرَةٌ لِلْأُولَى وَمُبَيِّنَةٌ أَنَّ الْقِصَّةَ فِي الرِّوَايَةِ الْأُولَى كَانَتْ فِي يَوْمَيْنِ لَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ كَذَا قَالَهُ الْقَاضِي وَغَيْرُهُ وَهُوَ ظَاهِرٌ وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَذْهَبِ الْجُمْهُورِ أَنَّ صَوْمَ النَّافِلَةِ يَجُوزُ بِنِيَّةٍ فِي النَّهَارِ قَبْلَ زَوَالِ الشَّمْسِ

“Kedua riwayat ini merupakan satu hadits. Riwayat kedua menafsirkan riwayat pertama dan menjelaskan bahwa kisah yang terdapat pada riwayat pertama terjadi selama dua hari bukan terjadi di hari yang sama. Demikian yang dikatakan oleh al-Qadhi dan ulama yang lain. Inilah yang tepat dan hadits ini merupakan dalil bagi pendapat jumhur yang menyatakan bahwa diperbolehkan berniat di siang hari ketika melaksanakan puasa sunnah sebelum zawal.” [al-Minhaj].

Dengan demikian lafadz “قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا” (sungguh dari pagi tadi aku berpuasa) diucapkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kedua dan sebagaimana sudah diketahui pada siang hari sebelumnya beliau telah berpuasa dikarenakan ketiadaan makanan.

Ketiga

Riwayat dari beberapa sahabat yang telah dikemukakan menunjukkan melaksanakan puasa sunnah dan baru berniat di siang hari. Mereka tentu lebih mengerti tentang perbuatan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada selain  mereka.

Dari uraian di atas, kami lebih condong kepada pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa berniat di malam hari untuk berpuasa sunnah bukanlah syarat. Seseorang diperbolehkan berpuasa sunnah dengan berniat di siang hari selama dia tidak melakukan salah satu pembatal puasa sejak terbitnya fajar.  Wallahu ‘alam.

-bersambung bi idznillah-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s