Hukum Berpuasa Syawal Sebelum Mengqadha Puasa Ramadhan

Terdapat dua pendapat ulama dalam permasalahan ini.Pendapat pertama

Keutamaan puasa Syawal hanya diperoleh bagi mereka yang terlebih dahulu mengqadha puasa Ramadhan yang mereka tinggalkan karena udzur. Pendapat ini merupakan pendapat Hanabilah mengikuti pendapat mereka yang tidak membolehkan seorang berpuasa sunnah terlebih dahulu jika memiliki kewajiban puasa wajib yang belum ditunaikan. Pendapat ini juga dipilih oleh al-Hafizh Ibnu Rajab.

Dalil bagi pendapat ini adalah sebagai berikut:

#1

Hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu di mana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ia mengiringi dengan berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa selama setahun”. [Shahih. HR. Muslim].

Segi pendalilan dari hadits di atas:

  • Seorang yang berpuasa Syawal dan mengakhirkan qadha puasa Ramadhan, tidak dapat dikatakan telah berpuasa di bulan Ramadhan sebagaimana tercantum dalam teks hadits (مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ). Lebih tepatnya dikatakan orang tersebut telah berpuasa pada sebagian bulan Ramadhan;
  • Teks hadits menyebutkan “…ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ”, kemudian mengiringi puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Seorang yang berpuasa Syawal sebelum menunaikan qadha Ramadhan tidak bisa dikatakan mengiringi puasa Ramadhan dengan puasa Syawal. Akan tetapi yang tepat apa yang dia lakukan adalah mengiringi sebagian puasa Ramadhan dengan puasa Syawal.

#2

Mengqadha puasa Ramadhan hukumnya wajib. Adapun puasa Syawal hukumnya sunnah. Dengan demikian, sesuatu yang wajib lebih diutamakan untuk dilaksanakan.

Pendapat kedua

Keutamaan puasa Syawal juga diperoleh bagi mereka yang terlebih dahulu berpuasa Syawal sebelum mengqadha puasa Ramadhan yang mereka tinggalkan karena udzur. Pendapat ini merupakan pendapat Hanafiyah, Syafi’iyah, salah satu pendapat di kalangan Malikiyah dan Hanabilah.

Dalil bagi pendapat ini adalah sebagai berikut:

#1

Firman Allah ta’ala,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

…wajib baginya berpuasa sebanyak bilangan hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain”. [QS. Al-Baqarah: 185].

Segi pendalilan:

Meski hukumnya wajib, namun dikarenakan ada kelapangan dalam pelaksanaan sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, maka tidak mengapa apabila dalam rentang waktu tersebut seorang melaksanakan puasa sunnah. Hal ini seperti seorang yang memenuhi panggilan adzan shalat wajib. Dalam rentang waktu antara adzan dan pelaksanaan shalat wajib, dirinya diperbolehkan untuk melaksanakan shalat sunnah. Dalam kasus ini, analogi yang sama diterapkan mengingat puasa Syawal meski hukumnya sunnah namun waktu pelaksanaannya terbatas pada bulan Syawal saja.

#2

Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata,

 كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

“Saya punya hutang puasa Ramadhan namun saya tidak mampu untuk mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban” [Shahih. HR. Bukhari dan Muslim].

Segi pendalilan dari hadits di atas:

Mengakhirkan qadha puasa Ramadhan hingga bulan Sya’ban diperbolehkan berdasarkan perbuatan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Dengan demikian, mendahulukan puasa Syawal atas qadha puasa Ramadhan juga diperbolehkan. Meski mendahulukan qadha puasa Ramadhan lebih utama untuk dilakukan. Selain itu, terdapat riwayat yang shahih di mana beliau radhiallahu ‘anha juga melaksanakan puasa sunnah yang lain seperti puasa ‘Arafah dan puasa ‘Asyura.

#3

Redaksi sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ” menggambarkan hukum dominan (خرج مخرج الغالب). Artinya, selain mencakup seorang yang berpuasa di bulan Ramadhan sebagaimana teks hadits, juga mencakup seorang yang menunaikan qadha puasa Ramadhan.

Oleh karenanya, seorang yang tidak berpuasa beberapa hari di bulan Ramadhan dikarenakan adanya udzur, kemudian mengqadha puasa yang ditinggalkannya di bulan Syawal, orang ini tetap sah secara hukum dikatakan telah berpuasa Ramadhan padahal dirinya tidak menunaikan puasa Ramadhan di bulan Ramadhan, akan tetapi dia mengqadhanya.

Tentu berbeda halnya jika kita maknai kalimat “مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ” secara tekstual, orang yang disebut pada kasus di atas akan terkecualikan dan statusnya tidak dapat dikatakan telah berpuasa Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa kalimat “مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ” turut mencakup mereka yang melaksanakan puasa Ramadhan pada waktunya maupun yang mengqadhanya di luar  Ramadhan.

#4

Adapun sabda nabi “…ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ” dapat dipahami dengan melihat alasan yang dikemukakan al-Bujairimi ketika menukil pendapat ulama yang membolehkan puasa Syawal terlebih dahulu,

وَقَدْ يُقَالُ التَّبَعِيَّةُ تَشْمَلُ التَّقْدِيرِيَّةَ لِأَنَّهُ إذَا صَامَ رَمَضَانَ بَعْدَهَا وَقَعَ عَمَّا قَبْلَهَا تَقْدِيرًا، أَوْ التَّبَعِيَّةُ تَشْمَلُ الْمُتَأَخِّرَةَ كَمَا فِي نَفْلِ الْفَرَائِضِ التَّابِعِ لَهَا اهـ. فَيُسَنُّ صَوْمُهَا وَإِنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ

“Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa at-tab’iyah (mengiringi) turut mencakup at-taqdiriyah (secara hukum dapat dianggap mengiringi), karena jika seorang menunaikan qadha puasa Ramadhan setelah bulan Ramadhan, dia dianggap telah menunaikan puasa Ramadhan.

Bisa juga dikatakan bahwa at-tab’iyah turut mencakup al-mutakhirah (sesuatu yang diakhirkan) seperti ibadah shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib (di mana pelaksanaan shalat wajib dapat diakhirkan, sementara shalat sunnah didahulukan). Dengan demikian, dianjurkan puasa Syawal meski dirinya memiliki hutang puasa Ramadhan untuk diqadha” [Hasyiyah ‘alaa al-Khathiib].

Dari kedua pendapat di atas, kami condong untuk memilih pendapat yang menyatakan keutamaan puasa Syawal juga diperoleh mereka yang berpuasa Syawal sebelum mengqadha puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena udzur. Dengan tetap memperhatikan bahwa apabila memungkinkan seorang lebih utama mengerjakan qadha Ramadhan sebelum melaksanakan puasa Syawal.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s