Waktu Pelaksanaan Puasa Syawal

Ulama sepakat bahwasanya keutamaan puasa Syawal diperoleh bagi mereka yang berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, baik dikerjakan secara berurutan ataupun tidak; dan juga baik puasa tersebut dikerjakan di awal, pertengahan maupun di akhir bulan Syawal [al-Majmu’; al-Mughni].

Dalam melaksanakannya terdapat berbagai cara yang dikemukakan oleh ulama.

Cara pertama

Dianjurkan berpuasa Syawal secara berurutan di awal bulan Syawal (selain hari idul fitri). An-Nawawi mengatakan,

ويستحبُّ أن يصومَها مُتتابعة في أول شوال، فإن فرقها أو أخَّرها عن شوال جاز، وكان فاعلاً لأصل هذه السنة؛ لعموم الحديث وإطلاقه

Disunnahkan puasa Syawal dilaksanakan secara berurutan di awal bulan. Diperbolehkan apabila dilakukan secara terpisah atau pelaksanaannya di akhir bulan. Orang yang mengerjakan hal tersebut tetap berstatus melakukan puasa sunnah Syawal karena keumuman dan kemutlakan hadits ini” [al-Majmu’].

Cara kedua

Puasa Syawal tidak dilaksanakan selepas idul fitri dikarenakan masih dalam suasana berbuka. Puasa Syawal baru dilaksanakan tiga hari sebelum atau sesudah puasa Ayyamu al-Bidh (puasa 13, 14 dan 15 di setiap bulan). Dengan demikian, pelaksanaan puasa tiga hari Syawal yang dimaksud beriringan dengan puasa Ayyamu al-Bidh dan di sana terjadi tasyrik an-niyyah (penggabungan niat) antara puasa Syawal dan puasa Ayyamu al-Bidh [Lathaaif al-Ma’aarif; Hasyiyah Ibn al-Qasim ‘ala Tuhfah al-Muhtaj].

Sebagian ulama kontemporer diantaranya Syaikh Ibn Baaz dan Syaikh Ibn al-Utsaimin menyatakan bahwa mereka yang berpuasa Syawal bersamaan dengan puasa Ayyamu al-Bidh diharapkan memperoleh keutamaan kedua puasa tersebut sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid.

Cara ketiga

Tidak ada perbedaan, baik puasa Syawal dilakukan secara terpisah maupun berurutan di bulan tersebut. Ibnu Muflih mengatakan,

وتحصل فضيلتها متتابعة ومتفرقة، ذكره جماعة، وهو ظاهر كلام أحمد، وقال: في أول الشهر وآخره

“Keutamaan puasa Syawal tetap diperoleh baik dilakukan secara berurutan maupun terpisah. Sejumlah ulama berpendapat demikian dan hal ini merupakan zhahir perkataan imam Ahmad ketika beliau berkata, “Puasa Syawal dapat dilakukan di awal maupun di akhir bulan” [al-Furu’].

Kesimpulannya tidak ada batasan yang baku terkait waktu pelaksanaan puasa Syawal mengingat tidak adanya dalil shahih terkait hal tersebut. Keutamaannya tetap dapat diperoleh bagi mereka yang mengerjakannya secara berurutan atau terpisah, baik dilakukan di awal, pertengahan maupun akhir bulan Syawal.

Namun, yang lebih afdhal adalah segera mengerjakan puasa Syawal karena termasuk dalam kategori al-musaara’ah fi al-khairaat (bersegera dalam mengerjakan kebaikan).

Wallahu taála a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s