Pada malam lailatul qadr wanita yang mengalami haidh dapat melakukan berbagai bentuk ibadah kecuali shalat, puasa, thawaf di Ka’bah dan beri’tikaf di masjid.

Terdapat riwayat shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa beliau menghidupkan malam dengan beribadah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Istri beliau, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan bahwa pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi istri-istrinya, menghidupkan malam serta membangunkan keluarga beliau untuk beribadah [Shahih. HR. Bukhari & Muslim].

Menghidupkan malam tidak terbatas dengan melakukan shalat, namun mencakup seluruh bentuk amal ibadah yang bernilai ketaatan. Demikianlah keterangan para ulama dalam menafsirkan hadits di atas.

Al Hafizh Ibnu Hajr mengatakan, “Maksud dari menghidupkan malam adalah begadang dengan melakukan berbagai bentuk ketaatan.”

An Nawawi mengatakan, “Maksudnya adalah mengisi malam di waktu sahur dengan shalat dan ibadah yang lain.”

Disebutkan dalam Aunul Ma’bud, “Maksudnya adalah mengisi malam dengan melakukan shalat, dzikir dan membaca al-Quran.”

Shalat qiyam (shalat tarawih) merupakan ibadah yang lebih utama untuk dikerjakan oleh hamba pada lailatul qadr. Terkait hal tersebut nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menegakkan shalat pada lailatul qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan meraih pahala niscaya dosa-dosanya yang telah lalu  akan diampuni (selama dosa-dosa besar dijauhi-pent)” [Shahih. HR. Bukhari dan Muslim].

Mengingat wanita yang mengalami haidh terhalang untuk melaksanakan shalat, maka dirinya bisa melakukan berbagai bentuk ketaatan yang lain seperti:

  1. Membaca al-Quran, baik dari hafalan maupun dengan melihat mushaf dengan syarat tidak menyentuh mushaf tersebut secara langsung. Pendapat ini merupakan pendapat yang lebih kuat di antara dua pendapat ulama;
  2. Berdzikir dengan tasbih, tahlil, tahmid dan dzikir yang lain;
  3. Memperbanyak istighfar;
  4. Berdo’a dengan meperbanyak permintaan kepada Allah agar diberikan kebaikan di dunia dan di akhirat. Hal ini mengingat berdo’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang utama di mana nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa do’a merupakan inti dari ibadah [Shahih. HR. Tirmidzi].

Inilah berbagai bentuk ibadah yang dapat dilakukan oleh wanita yang tengah mengalami haidh agar tidak terluput dari meraih pahala pada momen lailatul qadr. Wallahu ta’ala a’lam.

Disadur dari islamqa.info/ar/26753

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s